Bogor, JurnalPost.com, 2–3 Desember 2025 — Multitasking Training kembali menggelar program unggulannya melalui kegiatan Pelatihan Strategic Leadership Mastery yang berlangsung di Hotel Amaris Pakuan Bogor. Pelatihan ini menjadi salah satu agenda pengembangan kepemimpinan paling ditunggu karena menggabungkan pendekatan strategis, praktik coaching, dan roleplay intensif dalam satu rangkaian kegiatan. Program ini menjadi bagian dari komitmen Multitasking Training untuk mendorong kualitas middle management di berbagai industri.
Pelatihan dua hari ini dihadiri oleh para manager dari sektor yang beragam, mulai dari NGO, kesehatan, perusahaan kreatif, pemasaran, hingga farmasi. Keberagaman latar belakang peserta membuat diskusi dalam kelas semakin kaya karena tiap peserta membawa tantangan nyata masing-masing. Ini sekaligus menghadirkan ruang belajar kolaboratif yang sangat relevan bagi para pemimpin operasional di berbagai bidang.
Acara dibuka oleh Coach Yudha Siswany, Managing Director Multitasking Training, yang memberikan overview mengenai peran krusial seorang manager di era modern. Coach Yudha menekankan bahwa tugas manajerial tidak lagi sekadar memastikan pekerjaan selesai, tetapi juga membangun budaya kerja yang sehat, memfasilitasi kolaborasi, dan menjadi penggerak utama perubahan organisasi. Perspektif ini membuka sesi dengan kuat, sekaligus menyetel mindset peserta agar siap menerima materi strategis berikutnya.
Sesi dilanjutkan dengan paparan dari Coach Dr. Jumadi Subur, yang membawakan materi bertajuk Leadership Journey: Get, Grow, Glow. Dalam penjelasannya, Dr. Jumadi membedah tiga fase utama dalam perjalanan seorang pemimpin. Fase Get adalah masa ketika seseorang dipercaya memegang posisi baru dan mulai memahami mandat kepemimpinannya. Fase Grow menggambarkan perjalanan penting seorang manager dalam mengembangkan diri sekaligus memperkuat tim yang dipimpinnya. Sedangkan fase Glow adalah tahap ketika seorang pemimpin mampu tampil optimal, menghasilkan kinerja terbaik, dan meninggalkan legacy yang kuat di organisasinya.
Penjelasan Dr. Jumadi tidak hanya strategis, tetapi juga sangat aplikatif. Beliau mencontohkan bagaimana proses transisi dari Grow ke Glow sering kali gagal karena kurangnya proses refleksi dan tidak adanya roadmap yang jelas. Materi seperti ini sangat relevan bagi para manager yang ingin naik kelas menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan. Kata kunci seperti leadership mastery, managerial growth, dan talent development menjadi bagian penting dalam sesi tersebut.
Pada sesi berikutnya, Coach Ricky Nuriadi, seorang coach profesional, mengupas peran manager sebagai seorang coach. Topik ini menjadi highlight karena tren global saat ini menuntut para manager memiliki kemampuan coaching for performance, bukan hanya kemampuan teknis kepemimpinan. Coach Ricky mengajak peserta memahami bahwa coaching bukan sekadar bertanya, tetapi juga memfasilitasi proses berpikir sehingga anggota tim mampu menemukan jawaban sendiri.
Peserta kemudian diajak melakukan berbagai simulasi dan roleplay. Teknik ini membuat suasana kelas semakin hidup karena setiap peserta berkesempatan mempraktikkan metode coaching yang benar. Roleplay seperti GROW Model dan Performance Conversation menjadi salah satu bagian favorit peserta karena langsung menyentuh konteks pekerjaan sehari-hari. Pendekatan seperti ini memperkuat citra pelatihan ini sebagai salah satu program leadership training paling praktis dan relevan.
Interaksi peserta tampak semakin dinamis seiring berjalannya kegiatan. Banyak yang aktif berdiskusi tentang tantangan nyata di tempat kerja, mulai dari mengelola konflik, meningkatkan performa tim, hingga tantangan komunikasi antar-departemen. Kombinasi antara teori strategis, diskusi, dan praktik membuat para manager mendapatkan pengalaman belajar yang menyeluruh—sebuah ciri khas pelatihan Multitasking Training.
Dalam sesi testimoni, drh. Anggara, pebisnis bidang kesehatan dari Bekasi yang juga bergerak dalam industri kreatif, menyampaikan kesan mendalamnya. “Training ini keren, kreatif, banyak role play, contoh-contoh yang valid dan relevan sehingga langsung bisa diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari,” ujarnya. Feedback seperti ini memperkuat posisi pelatihan sebagai program yang tidak hanya informatif, tetapi benar-benar transformasional.
Hal senada juga disampaikan oleh Riri, seorang supervisor di klinik kesehatan di Bogor. Ia mengaku memperoleh banyak insight baru terutama dalam hal komunikasi dan teknik coaching. “Ilmu dan insight yang didapat banyak sekali, dan saya yakin bisa langsung diaplikasikan di tempat kerja,” ungkapnya. Testimoni peserta ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelatihan ini memberikan nilai tambah nyata bagi individu maupun organisasi.
Sesi penutup pelatihan diisi dengan penyusunan rencana tindak lanjut (action plan) yang membantu peserta mengonversi pengetahuan menjadi langkah konkret. Pendekatan after training action plan seperti ini menjadi elemen penting dalam pelatihan modern karena memastikan bahwa hasil belajar tidak berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar berlanjut ke tempat kerja.
Melalui penyelenggaraan Strategic Leadership Mastery ini, Multitasking Training kembali menegaskan komitmennya sebagai penyelenggara pelatihan kepemimpinan yang menggabungkan pendekatan strategis, mindset coaching, dan praktik nyata. Dengan meningkatnya kebutuhan organisasi dalam membangun pemimpin yang adaptif, humanis, dan memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang kuat, pelatihan seperti ini menjadi jawaban atas tuntutan industri yang terus berkembang.[]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda