Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Bahasa dan Kepedulian Digital

Bahasa dan Kepedulian Digital

Penulis:
  • Aisah

Afiliasi: Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, FPSH, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Danang Purnama
13 Oktober 2026, 11.40 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Bahasa dan Kepedulian Digital

JurnalPost.com - Media sosial telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan menanggapi berbagai peristiwa. Ketika kasus dugaan pelecehan menjadi perhatian publik, kolom komentar kerap dipenuhi ungkapan kesedihan, kemarahan, dukungan, hingga tuntutan keadilan.

Beragam respons tersebut menunjukkan bahwa masyarakat menggunakan bahasa untuk menyuarakan sikap dan kepedulian. Namun, di tengah ramainya percakapan digital, muncul pertanyaan penting: apakah setiap komentar benar-benar mencerminkan kepedulian dan disampaikan secara bertanggung jawab?

IKLAN

Kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis menjadi semakin penting agar masyarakat dapat berpartisipasi secara bijak di ruang digital. UNESCO (2021) menekankan pentingnya literasi media dan informasi dalam membangun kemampuan masyarakat untuk mengakses, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara kritis.

Bahasa yang Menunjukkan Kepedulian

Berdasarkan tujuh contoh komentar yang diamati, ditemukan enam bentuk respons bahasa, yaitu keprihatinan, sindiran, pengalaman pribadi, kritik, tuntutan, dan dukungan. Bentuk keprihatinan muncul dalam dua komentar, sedangkan lima bentuk respons lainnya masing-masing ditemukan satu kali.

Meskipun jumlah data yang diamati masih terbatas, temuan tersebut memberikan gambaran mengenai beragam cara masyarakat menanggapi isu sensitif melalui bahasa.

Salah satu komentar berbunyi, “Ya Allah…..Bundo nangis Sukma Cantik Sholehah.” Ungkapan tersebut memperlihatkan kesedihan dan kedekatan emosional terhadap pihak yang menjadi perhatian publik.

Sementara itu, komentar “Semoga pelaku segera diproses hukum” menunjukkan harapan agar dugaan pelanggaran yang menjadi perbincangan dapat ditangani melalui proses hukum.

Kepedulian Digital

Kedua respons tersebut memperlihatkan bahwa bahasa dapat menjadi sarana untuk menyampaikan solidaritas dan kepedulian. Dukungan yang disampaikan secara tepat dapat membantu pihak yang terdampak merasa tidak sendirian dalam menghadapi situasi sulit.

Di tengah perbincangan publik, masyarakat perlu menyadari bahwa peristiwa yang dibahas bukan sekadar bahan percakapan, melainkan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan, perasaan, dan martabat manusia.

Namun, tidak semua komentar memiliki tujuan dan makna yang sama. Komentar “untung sy keluar dari pondok itu dulu”, misalnya, menghubungkan peristiwa yang sedang dibicarakan dengan pengalaman pribadi penuturnya.

Pernyataan tersebut menarik untuk dicermati, tetapi tidak dapat dijadikan bukti adanya hubungan langsung antara pengalaman pribadi seseorang dan kasus yang sedang menjadi perhatian publik. Setiap informasi harus dipahami berdasarkan konteks dan didukung oleh fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Komentar-komentar tersebut diamati melalui unggahan akun Instagram @ompunet_ntb pada 21 September 2026, yang membahas kasus dugaan pelecehan di salah satu pesantren di Lombok.

Ketika Emosi Menguasai Percakapan

Salah satu tantangan dalam penggunaan media sosial adalah bagaimana seseorang menyampaikan pendapat ketika emosi dan rasa keadilan muncul secara bersamaan.

Kemarahan terhadap dugaan pelanggaran merupakan respons yang dapat dipahami. Namun, emosi yang tidak disertai pertimbangan berisiko berkembang menjadi penghinaan, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, bahkan penghakiman sepihak.

Kritik dan tuntutan keadilan tentu dapat disampaikan tanpa harus menggunakan kata-kata kasar, merendahkan orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Dalam konteks dugaan kekerasan seksual, penanganan kasus juga harus memperhatikan perlindungan terhadap korban serta ketentuan hukum yang berlaku, termasuk Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

Di sisi lain, prinsip praduga tak bersalah tetap harus dihormati dalam mengawal proses hukum. Prinsip tersebut bukan alasan untuk mengabaikan laporan korban, melainkan pengingat bahwa setiap dugaan pelanggaran harus ditangani secara objektif, serius, dan berdasarkan bukti.

IKLAN

Dengan demikian, kepedulian terhadap korban dan penghormatan terhadap proses hukum bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan.

Pentingnya Etika dan Literasi Digital

Fenomena komentar di media sosial menunjukkan bahwa literasi digital tidak cukup hanya dipahami sebagai kemampuan menggunakan aplikasi, mengakses internet, atau membuat konten.

Literasi digital juga mencakup kemampuan memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks suatu peristiwa, menilai dampak penggunaan bahasa, serta mempertimbangkan tanggung jawab sebelum menyampaikan pendapat.

Kemampuan berpikir kritis dalam mengakses dan mengevaluasi informasi merupakan bagian penting dari literasi media dan informasi sebagaimana ditekankan oleh UNESCO (2021).

Dalam hal ini, sekolah dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran berbahasa yang santun dan bertanggung jawab, khususnya melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Peserta didik dapat diajak menganalisis penggunaan bahasa dalam komentar media sosial, membedakan fakta dan opini, memahami makna suatu pernyataan, serta menyusun kritik berdasarkan alasan yang jelas.

Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran bahasa tidak hanya berfokus pada penguasaan tata bahasa, keterampilan membaca, dan menulis. Lebih dari itu, pembelajaran bahasa dapat menjadi sarana untuk membentuk kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan empati, serta membangun komunikasi yang bertanggung jawab.

Pengguna media sosial juga dapat memulai perubahan melalui kebiasaan sederhana. Sebelum mengunggah komentar, seseorang perlu mempertimbangkan apakah informasi yang disampaikan dapat dipercaya, apakah pilihan kata yang digunakan berpotensi menyakiti pihak lain, dan apakah komentar tersebut memberikan manfaat bagi penyelesaian persoalan.

Apabila menemukan informasi yang berpotensi membahayakan atau merugikan seseorang, pengguna media sosial dapat memanfaatkan fitur pelaporan yang tersedia tanpa harus ikut menyebarluaskan informasi tersebut.

Sikap demikian merupakan bagian dari tanggung jawab digital yang perlu dibangun bersama.

Mendengar dengan Empati, Berpendapat dengan Tanggung Jawab

Pada akhirnya, tujuh contoh komentar yang diamati tidak dapat dianggap sebagai gambaran keseluruhan respons masyarakat di media sosial. Data tersebut hanya menunjukkan sebagian bentuk penggunaan bahasa dalam percakapan mengenai kasus dugaan pelecehan di salah satu pesantren di Lombok.

Meskipun terbatas, contoh-contoh tersebut memberikan pelajaran bahwa pilihan kata memiliki pengaruh terhadap cara suatu peristiwa dipahami, dibicarakan, dan ditanggapi oleh masyarakat.

Media sosial seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk meluapkan emosi, tetapi juga ruang untuk membangun kepedulian, memperkuat solidaritas, dan mendorong perubahan yang lebih baik.

Masyarakat tidak harus berhenti menyampaikan pendapat ketika menghadapi persoalan yang menyangkut rasa keadilan. Sebaliknya, setiap orang perlu belajar menyampaikan pandangan secara kritis tanpa kehilangan empati dan tanggung jawab.

Di balik riuhnya percakapan media sosial, terdapat suara yang perlu didengarkan dengan sungguh-sungguh. Ada pihak yang membutuhkan dukungan, ada persoalan yang memerlukan penanganan serius, dan ada masyarakat yang perlu terus belajar menggunakan bahasa secara bijak.

Karena itu, sebelum mengetik dan menekan tombol kirim, penting bagi setiap pengguna media sosial untuk menyadari bahwa setiap kata memiliki dampak.

Kepedulian bukan sekadar tentang seberapa keras seseorang menyuarakan pendapat, melainkan juga tentang bagaimana ia menjaga martabat manusia melalui kata-kata yang dipilih.

Sebab, kepedulian digital yang sesungguhnya tidak hanya terlihat dari keberanian untuk berbicara, tetapi juga dari kebijaksanaan dalam menggunakan bahasa.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/bahasa-dan-kepedulian-digital/98145/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.34 WITA

  • #Bahasa Indonesia
  • #Berpikir Kritis
  • #Literasi Digital
  • #etika media sosial
  • #kepedulian digital
  • #komentar netizen
  • #media sosial

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.