Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Dicari Setiap Hari, Dibeli Sedikit demi Sedikit: Bawang Putih dan Permintaan yang Sulit Surut

Dicari Setiap Hari, Dibeli Sedikit demi Sedikit: Bawang Putih dan Permintaan yang Sulit Surut

Penulis:
  • Windawati, Diva Yowanda Putri, Nabila Ajahrah, Mela Kurniasari, Sa’adah, Dewi Ermadiana

Dosen Pengampu: Dr. Rahmah Farahdita Soeyatno, S.P.,M.Si

Afiliasi: Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

Editor: Rafi Adinata
13 Oktober 2026, 00.39 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Bawang Putih

Harga bawang putih di Pasar Jembatan Merah masih berada di bawah harga acuan. Namun, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor membuat kestabilan harga komoditas ini tetap rentan terhadap gangguan pasokan.

Jakarta Selatan, JurnalPost.com — Hampir setiap masakan rumah tangga Indonesia menggunakan bawang putih sebagai salah satu bumbu utama. Mulai dari tumisan sederhana hingga berbagai hidangan sehari-hari, komoditas ini memiliki peran yang sulit digantikan.

Kebiasaan tersebut membuat permintaan bawang putih cenderung bertahan meskipun harganya mengalami kenaikan maupun penurunan. Konsumen mungkin menyesuaikan jumlah pembelian, tetapi kebutuhan terhadap bawang putih tidak serta-merta menghilang.

Kondisi ini terlihat dari aktivitas perdagangan di Pasar Jembatan Merah, Jakarta Selatan. Berdasarkan wawancara dengan pedagang, pembelian bawang putih lebih banyak dilakukan dalam jumlah kecil, tetapi berlangsung secara rutin.

Temuan lapangan tersebut dipadukan dengan kajian literatur dan analisis perkembangan harga pasar sepanjang 2026 untuk melihat bagaimana perilaku konsumen, perubahan harga, dan ketersediaan pasokan memengaruhi permintaan bawang putih.

Harga Bawang Putih Masih di Bawah Acuan

Berdasarkan hasil wawancara, pedagang di Pasar Jembatan Merah menjual dua jenis bawang putih, yakni bawang putih biasa dan bawang putih kating.

Bawang putih biasa ditawarkan dengan harga sekitar Rp33.500 per kilogram, sementara bawang putih kating dijual sekitar Rp43.000 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut berkaitan dengan karakteristik masing-masing jenis. Bawang putih kating umumnya memiliki ukuran siung lebih besar serta aroma dan rasa yang lebih kuat.

Meski demikian, sebagian besar pembeli cenderung memilih bawang putih biasa karena harganya lebih ekonomis untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Pedagang juga menyampaikan bahwa harga jual yang diberikan relatif sama, tanpa potongan khusus bagi konsumen yang membeli dalam jumlah besar.

Harga bawang putih biasa di pasar tersebut lebih rendah dibandingkan kisaran harga di sejumlah pasar tradisional sepanjang 2026, yakni sekitar Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

Harga Rp33.500 per kilogram juga berada di bawah angka acuan Rp38.000 per kilogram yang digunakan dalam analisis kelompok.

Perbandingan harga di beberapa lokasi menunjukkan adanya perbedaan antarpasar.

Bawang Putih1

Pada Februari 2026, harga bawang putih di Pasar Kebayoran Lama tercatat sekitar Rp40.000 per kilogram. Sementara itu, bawang putih jenis honan di Pasar Pesanggrahan pada Maret 2026 berada di kisaran Rp35.000 per kilogram.

Memasuki Agustus 2026, harga di Pasar Modern Bintaro dilaporkan mencapai sekitar Rp45.000 per kilogram.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa harga bawang putih di tingkat konsumen dapat dipengaruhi oleh jenis produk, lokasi pasar, kondisi distribusi, dan ketersediaan barang.

Pembeli Sedikit, Perputaran Barang Cepat

Aktivitas perdagangan bawang putih di Pasar Jembatan Merah didominasi oleh konsumen rumah tangga, terutama ibu rumah tangga dan masyarakat yang membeli bahan makanan untuk kebutuhan pribadi.

Jumlah pembelian umumnya tidak terlalu besar, mulai dari beberapa ons hingga sekitar satu kilogram.

Dalam contoh transaksi yang diperoleh melalui wawancara, terdapat pembeli yang membeli 200 gram bawang putih untuk kebutuhan memasak harian.

Pembeli lainnya membeli sekitar 500 gram sebagai persediaan beberapa hari, sedangkan pembelian satu kilogram biasanya dilakukan untuk kebutuhan rumah tangga yang lebih besar atau persiapan acara tertentu.

Pedagang mengaku jarang melayani konsumen yang membeli bawang putih dalam jumlah besar untuk dijual kembali.

Menariknya, meskipun volume pembelian setiap konsumen relatif kecil, perputaran barang berlangsung cukup cepat.

Pedagang biasanya menyediakan stok sekitar 10 kilogram untuk kebutuhan tiga hari. Persediaan tersebut umumnya telah habis pada hari kedua atau ketiga.

Pola ini menunjukkan bahwa bawang putih merupakan kebutuhan rutin dengan pembelian yang dilakukan secara berulang.

Bagi pedagang, kondisi tersebut memberikan peluang penjualan yang relatif stabil. Namun, kelancaran usaha tetap bergantung pada kemampuan menjaga ketersediaan stok dan harga yang sesuai dengan daya beli konsumen.

Mengapa Permintaan Bawang Putih Sulit Menurun?

Dalam ilmu ekonomi, permintaan suatu barang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti harga barang itu sendiri, pendapatan konsumen, selera, harga barang pengganti, serta kebutuhan masyarakat.

Bawang putih memiliki karakteristik sebagai komoditas pangan yang digunakan secara rutin, sehingga permintaannya diduga relatif tidak elastis.

Permintaan tidak elastis berarti perubahan harga tidak selalu diikuti perubahan jumlah barang yang diminta dalam persentase yang sama besar.

Salah satu penyebabnya adalah sulitnya menggantikan fungsi bawang putih dalam berbagai masakan.

Aroma dan cita rasanya yang khas membuat konsumen tetap membutuhkan komoditas tersebut meskipun harga mengalami kenaikan.

Berdasarkan contoh yang diperoleh dalam wawancara, konsumen dengan penghasilan sekitar Rp3,9 juta per bulan mengalokasikan kurang lebih Rp20.000 untuk membeli bawang putih.

Pengeluaran tersebut merupakan bagian yang relatif kecil dari keseluruhan pendapatan sehingga kebutuhan bawang putih masih dapat dipenuhi.

Namun, kondisi ini tidak berarti konsumen sepenuhnya mengabaikan perubahan harga.

bawww

Ketika harga meningkat, konsumen dapat mengurangi jumlah pembelian, memilih jenis bawang putih yang lebih murah, atau mencari alternatif bahan makanan.

Pedagang menyebutkan beberapa produk yang dapat digunakan sebagai pengganti, seperti bubuk bawang putih, bawang putih beku, dan bawang bombai.

Meski demikian, bahan-bahan tersebut tidak sepenuhnya memberikan karakter rasa yang sama dengan bawang putih segar.

Kajian mengenai permintaan bawang merah oleh Wibowo dan Surbakti (2023) juga menunjukkan bahwa harga domestik merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap permintaan komoditas bumbu dapur.

Walaupun penelitian tersebut membahas bawang merah, hasilnya dapat menjadi bahan perbandingan untuk memahami bagaimana konsumen merespons perubahan harga kebutuhan pangan.

Dalam praktiknya, bawang putih juga sering dibeli bersamaan dengan bawang merah, cabai, tomat, dan sayuran lainnya.

Dengan demikian, frekuensi memasak dan pola konsumsi rumah tangga turut berperan dalam menentukan jumlah pembelian.

Ramadan dan Tekanan Permintaan Musiman

Permintaan bawang putih tidak selalu berada pada tingkat yang sama sepanjang tahun.

Pada periode tertentu, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri, aktivitas memasak rumah tangga dan usaha makanan cenderung meningkat.

Kondisi tersebut dapat mendorong kebutuhan bawang putih menjadi lebih besar dibandingkan hari biasa.

Sebagai gambaran, laporan perkembangan harga menjelang Lebaran 2025 menunjukkan adanya kenaikan harga bawang putih hingga sekitar 20 persen di atas harga acuan yang digunakan dalam laporan tersebut.

Peningkatan permintaan musiman dapat diimbangi apabila pasokan tersedia dalam jumlah yang cukup.

Sebaliknya, apabila pertumbuhan permintaan terjadi bersamaan dengan keterlambatan distribusi atau berkurangnya stok, tekanan terhadap harga dapat semakin besar.

Untuk menggambarkan hubungan antara jumlah pembelian dan nilai transaksi, kelompok penulis membuat simulasi berdasarkan harga yang ditemukan di Pasar Jembatan Merah.

Dengan harga bawang putih biasa sebesar Rp33.500 per kilogram, pembelian dua kilogram membutuhkan biaya Rp67.000.

Sementara itu, pembelian dua kilogram bawang putih kating dengan harga Rp43.000 per kilogram membutuhkan biaya Rp86.000.

Apabila jumlah pembelian meningkat menjadi 10 kilogram dengan asumsi harga tetap, nilai transaksi bawang putih biasa mencapai Rp335.000, sedangkan bawang putih kating mencapai Rp430.000.

Simulasi tersebut menunjukkan perubahan nilai belanja akibat peningkatan jumlah pembelian, bukan prediksi kenaikan harga.

Dalam kondisi pasar sebenarnya, peningkatan permintaan dalam jumlah besar dapat memengaruhi harga apabila tidak diimbangi tambahan pasokan.

Ketergantungan Impor Menjadi Tantangan

Di balik permintaan yang relatif stabil, persoalan utama perdagangan bawang putih Indonesia justru terletak pada sisi pasokan.

Indonesia masih sangat bergantung pada bawang putih impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Data dan keterangan pemerintah pada 2026 menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi melalui impor, terutama dari China.

Produksi bawang putih dalam negeri dalam analisis rujukan diperkirakan hanya sekitar 39.000 hingga 40.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 600.000 ton.

Kesenjangan antara produksi dan kebutuhan tersebut memperlihatkan besarnya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan luar negeri.

Sejumlah daerah sebenarnya memiliki potensi sebagai sentra produksi bawang putih, antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera.

Namun, kontribusi produksi domestik masih belum mencukupi kebutuhan nasional.

Di Pasar Jembatan Merah, pedagang menyampaikan bahwa barang yang mereka jual banyak diperoleh melalui pemasok dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Meski demikian, asal pemasok tidak selalu menunjukkan lokasi produksi bawang putih karena barang dapat melewati beberapa jalur distribusi sebelum sampai ke pedagang eceran.

Pedagang juga mengaku tidak mengetahui secara terperinci kebijakan perdagangan dan impor bawang putih.

Informasi mengenai perubahan harga biasanya lebih cepat diperoleh dari pemasok atau distributor dibandingkan melalui pengumuman pemerintah.

Meskipun demikian, mereka memahami bahwa kebijakan impor dan kelancaran distribusi dapat memengaruhi ketersediaan barang di pasar.

Setiap tahapan distribusi, mulai dari importir, pedagang besar, pemasok, hingga pedagang eceran, melibatkan biaya transportasi, penyimpanan, bongkar muat, serta margin usaha.

Akumulasi biaya tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi harga yang dibayarkan konsumen.

Persaingan Pedagang Membantu Menjaga Harga

Selain pasokan dan permintaan, persaingan antarpedagang juga menjadi faktor yang memengaruhi pembentukan harga bawang putih.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, terdapat sekitar 15 pedagang bawang di kawasan Pasar Jembatan Merah.

Jumlah pedagang yang cukup banyak memberikan pilihan kepada konsumen untuk membandingkan harga dan kualitas barang.

Dalam situasi seperti ini, pedagang perlu menjaga daya saing agar tidak kehilangan pelanggan.

Harga yang terlalu tinggi dapat mendorong pembeli beralih kepada pedagang lain yang menawarkan produk serupa.

Sebaliknya, harga yang kompetitif dengan kualitas yang tetap terjaga berpotensi membuat pelanggan kembali melakukan pembelian.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa mekanisme persaingan pasar dapat membantu menahan kenaikan harga pada tingkat eceran.

Namun, kemampuan pedagang menjaga harga tetap memiliki batas, terutama apabila harga dari pemasok meningkat secara bersamaan.

Menjaga Pasokan untuk Melindungi Konsumen

Hasil wawancara dan analisis menunjukkan bahwa bawang putih merupakan salah satu kebutuhan pangan dengan pola pembelian yang rutin.

Konsumen cenderung membeli dalam jumlah kecil, tetapi melakukan pembelian secara berulang karena bawang putih menjadi bagian penting dari aktivitas memasak sehari-hari.

Karakteristik tersebut mengindikasikan bahwa permintaan bawang putih relatif sulit mengalami penurunan tajam hanya karena perubahan harga.

Meski demikian, untuk memastikan besarnya elastisitas permintaan secara statistik, diperlukan data perubahan harga dan jumlah pembelian dalam beberapa periode pengamatan.

Dari sisi perdagangan, kestabilan harga bawang putih sangat bergantung pada kelancaran distribusi, ketersediaan stok, dan kemampuan pasokan memenuhi kebutuhan konsumen.

Tingginya ketergantungan pada impor menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian karena perubahan kondisi perdagangan internasional dapat berdampak pada pasar domestik.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi dan memperkuat perbenihan bawang putih dalam negeri menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi ketergantungan tersebut.

Bagi konsumen, bawang putih mungkin hanya dibeli beberapa ons setiap kali berbelanja. Namun, jika dilihat secara nasional, pembelian kecil yang berlangsung setiap hari menciptakan kebutuhan dalam jumlah besar.

Pada akhirnya, persoalan bawang putih bukan hanya mengenai berapa harga yang tercantum di lapak pedagang.

Lebih jauh, persoalan ini berkaitan dengan bagaimana pasokan pangan dapat dijaga agar masyarakat tetap memperoleh kebutuhan dapur dengan harga yang terjangkau.

Selama bawang putih masih menjadi bagian penting dari masakan sehari-hari, permintaannya akan terus ada. Tantangannya adalah memastikan barang yang selalu dicari tersebut tetap tersedia dengan harga yang stabil.


Daftar Pustaka

Badan dan sumber yang digunakan dalam penyusunan artikel meliputi:

  1. ANTARA. (2026, 10 Agustus). BPS: Harga bawang putih mulai turun dan relatif terkendali.

  2. ANTARA. (2026, Maret). Kemendag: Harga bawang putih nasional berangsur turun.

  3. CNBC Indonesia. (2026, 19 Januari). RI impor 95% bawang putih, dikuasai China, Kemendag minta evaluasi ini.

  4. Damayanti, A. (2025, Maret). Harga bawang merah dan bawang putih melonjak jelang Lebaran. detikFinance.

  5. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2026, 18 Juni). Keluar dari ketergantungan impor, Wamentan Sudaryono: Kita siapkan fondasi swasembada bawang putih.

  6. Mitrapost. (2026, 20 Agustus). 90% kebutuhan nasional masih dari impor, Kemenko Pangan perkuat produksi bawang putih.

  7. Wibowo, R. P., & Surbakti, N. J. R. (2023). Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran bawang merah di Indonesia. Agro Bali: Agricultural Journal, 6(2), 326–336. DOI: 10.37637/ab.v6i2.1312.

Sumber Data Primer: Wawancara dengan pedagang bawang putih di Pasar Jembatan Merah, Jakarta Selatan (2026). Data penelitian Kelompok 1, Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/dicari-setiap-hari-dibeli-sedikit-demi-sedikit-bawang-putih-dan-permintaan-yang-sulit-surut/98135/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.48 WITA

  • #Pasar Tradisional
  • #bawang putih
  • #ekonomi rumah tangga
  • #harga bawang putih
  • #ketergantungan impor
  • #komoditas pangan
  • #permintaan pasar

Artikel Terkait

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.