Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Harga Daging Sapi Naik, Pedagang Pasar Kebayoran Lama Atur Strategi Pertahankan Omzet

Harga Daging Sapi Naik, Pedagang Pasar Kebayoran Lama Atur Strategi Pertahankan Omzet

Penulis:
  • Ali Nurdin Gimnastiyar, Achmad Farizi, Ananda Salsabilah, Anggit Teresiana, Muhammad Rafly, Rafi Fauzan Sirait

Dosen Pengampu: Dr. Rahmah Farahdita Soeyatno, S.P., M.Si.

Afiliasi: Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

Editor: Shella Paramitha
10 Oktober 2026, 10.48 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Harga Sapi Menanjak

Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional Jakarta mengalami kenaikan hingga mencapai Rp150.000–Rp180.000 per kilogram. Di tengah melemahnya daya beli masyarakat, pedagang menyesuaikan stok, memilih jenis daging yang paling diminati, dan menjaga pelanggan tetap agar usaha tetap berjalan.

JAKARTA, JurnalPost.com — Kenaikan harga daging sapi menjadi tantangan bagi pedagang pasar tradisional di Jakarta. Di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, harga daging yang sebelumnya berada pada kisaran Rp125.000 hingga Rp130.000 per kilogram meningkat menjadi sekitar Rp150.000 per kilogram. Kondisi tersebut mendorong pedagang mengubah strategi penjualan untuk mempertahankan omzet di tengah perubahan pola belanja masyarakat.

IKLAN

Berdasarkan hasil observasi lapangan dan keterangan sejumlah pedagang, kenaikan harga berlangsung secara bertahap selama 2026. Di beberapa pasar lain, seperti Pasar Palmerah dan Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat, harga daging sapi dilaporkan mencapai Rp150.000 hingga Rp180.000 per kilogram, bergantung pada jenis dan kualitas daging.

Kondisi ini menempatkan pedagang dalam situasi yang tidak mudah. Mereka harus menghadapi kenaikan harga pembelian dari pemasok, sementara sebagian pelanggan mulai mengurangi jumlah belanja atau beralih ke sumber protein yang lebih terjangkau.

Harga Naik, Daya Beli Masyarakat Menurun

Kenaikan harga daging sapi membawa perubahan terhadap kebiasaan konsumen. Pembeli yang sebelumnya membeli satu hingga dua kilogram kini cenderung membatasi pembelian menjadi setengah atau seperempat kilogram.

Ari, salah seorang pedagang, mengungkapkan bahwa volume penjualannya mengalami penurunan cukup besar. Jika sebelumnya ia mampu menjual sekitar 30 kilogram daging setiap hari, penjualannya kini berkisar antara 10 hingga 20 kilogram.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak selalu memberikan keuntungan lebih besar bagi pedagang. Meskipun nilai jual per kilogram meningkat, berkurangnya jumlah pembeli dapat menekan total pendapatan usaha.

Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari keputusan sebagian rumah tangga untuk mengganti daging sapi dengan ayam atau ikan.

Rika, salah seorang pembeli, mengaku lebih memilih sumber protein alternatif karena harga daging sapi semakin sulit dijangkau untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Fenomena ini menggambarkan hubungan antara harga dan permintaan dalam kegiatan ekonomi. Ketika harga suatu barang meningkat, konsumen cenderung mengurangi pembelian atau mencari produk pengganti yang memiliki harga lebih rendah.

Pedagang Menambah Stok pada Periode Permintaan Tinggi

Di tengah kenaikan harga, hasil observasi terhadap lima toko daging di kawasan Kebayoran Lama memperlihatkan adanya penyesuaian jumlah penawaran, terutama menjelang hari besar keagamaan ketika permintaan cenderung meningkat.

Harga Sapi

Toko Daging Garip, misalnya, meningkatkan jumlah daging yang ditawarkan dari sekitar 150–200 kilogram menjadi 250–350 kilogram per hari. Sementara itu, Toko Rofi menambah penawaran dari sekitar 250 kilogram menjadi 400–500 kilogram per hari.

Keputusan menambah stok dilakukan dengan mempertimbangkan peluang penjualan pada periode tertentu. Pedagang berupaya menyediakan lebih banyak daging ketika memperkirakan permintaan meningkat, meskipun tetap menghadapi risiko barang tidak terjual.

Berdasarkan perhitungan dalam observasi tersebut, elastisitas penawaran untuk bagian daging utama, seperti paha depan dan paha belakang, mencapai sekitar 3,09.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penawaran relatif responsif terhadap perubahan harga. Kenaikan harga sekitar 23 persen dalam perhitungan yang digunakan berkaitan dengan peningkatan jumlah penawaran sekitar 71 persen.

Secara ekonomi, kondisi ini tergolong penawaran elastis. Pedagang memiliki kemampuan menambah persediaan melalui pemesanan karkas atau potongan daging dari rumah potong hewan (RPH).

Namun, kemampuan meningkatkan stok tidak serta-merta menjamin kenaikan keuntungan. Pedagang tetap harus memperhitungkan biaya pembelian, penyimpanan, risiko kerusakan produk, serta jumlah permintaan yang benar-benar terealisasi.

Jeroan dan Ekor Sapi Memiliki Keterbatasan Pasokan

Berbeda dengan potongan daging utama, beberapa bagian sapi seperti jeroan dan ekor memiliki keterbatasan pasokan yang lebih besar.

Jumlah jeroan dan ekor sangat bergantung pada banyaknya sapi yang dipotong. Pedagang tidak dapat menambah persediaan kedua produk tersebut secara bebas tanpa memperoleh tambahan pasokan dari pemasok atau rumah potong hewan.

Di Toko Daging Balap, misalnya, penawaran jeroan hanya meningkat dari 20 kilogram menjadi 22 kilogram per hari ketika harga naik dari Rp128.000 menjadi Rp150.000 per kilogram.

Hasil perhitungan elastisitas penawaran menunjukkan koefisien sekitar 0,58. Nilai ini tergolong inelastis, yang berarti perubahan harga hanya diikuti perubahan jumlah penawaran dalam proporsi yang lebih kecil.

Kondisi serupa ditemukan di Toko Daging Kidi. Permintaan ekor sapi disebut cukup tinggi, tetapi ketersediaan barang sering kali tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa respons penawaran tidak selalu sama untuk setiap jenis produk, sekalipun semuanya berasal dari komoditas yang sama.

Daging Beku Jadi Alternatif Konsumen

Untuk menghadapi perubahan daya beli, sebagian pedagang mulai menyesuaikan jenis daging yang ditawarkan.

Ketika harga daging sapi segar berkualitas utama mencapai Rp160.000 per kilogram, sejumlah konsumen memilih daging impor beku atau daging giling yang dalam observasi ditawarkan pada kisaran Rp90.000–Rp100.000 per kilogram.

Perbedaan harga membuat produk tersebut menjadi alternatif bagi pembeli yang ingin menekan pengeluaran.

IKLAN

Di sisi lain, permintaan daging segar lokal masih bertahan pada kelompok pelanggan tertentu, terutama pelaku usaha makanan seperti penjual bakso, rumah makan Padang, dan pedagang soto.

Toko Daging Balap, misalnya, menyediakan sekitar 200–250 kilogram paha belakang segar setiap hari untuk melayani kebutuhan pelanggan dari sektor kuliner.

Strategi ini menunjukkan pentingnya segmentasi pasar. Pedagang tidak hanya menentukan jumlah stok berdasarkan perubahan harga, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik kebutuhan konsumen.

Harga produk pendamping turut memengaruhi keputusan pembelian. Tetelan sapi yang banyak digunakan sebagai bahan kaldu soto dan bakso dilaporkan mengalami kenaikan dari Rp50.000 menjadi Rp70.000 per kilogram.

Harga Daging Sapi Naik, Pedagang Pasar Kebayoran

Kenaikan tersebut dapat menambah biaya produksi pelaku usaha kuliner dan memengaruhi pembelian bagian daging lainnya.

Biaya Distribusi dan Ketergantungan Impor

Permasalahan harga daging sapi tidak hanya terjadi pada tingkat pedagang eceran, tetapi juga berkaitan dengan kondisi pasokan dari sektor hulu.

Sebagian sapi yang diperdagangkan di kawasan Kebayoran Lama berasal dari sentra penggemukan di Lampung dan Jawa Tengah.

Dengan jalur distribusi yang cukup panjang, kelancaran transportasi menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan. Gangguan penyeberangan, kemacetan, maupun peningkatan biaya pengangkutan berpotensi memengaruhi harga pembelian pedagang.

Keterangan lapangan juga menyebut adanya penyesuaian biaya operasional rumah potong hewan pada September 2026 yang menambah tekanan terhadap biaya perolehan karkas.

Pada skala nasional, ketergantungan terhadap pasokan luar negeri masih menjadi tantangan.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan yang disampaikan Badan Pangan Nasional pada Juli 2026, produksi sapi dan kerbau lokal diperkirakan setara dengan 421,21 ribu ton daging, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 794,29 ribu ton.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah menetapkan kebijakan impor daging sapi pada 2026, termasuk alokasi 250.000 ton bagi BUMN dan 30.000 ton bagi pelaku usaha swasta.

Sementara itu, Perumda Dharma Jaya mengambil langkah memperkuat pasokan Jakarta melalui pengadaan sapi hidup dari Australia dengan target 7.500 ekor sepanjang 2026.

Upaya tersebut menjadi salah satu langkah untuk menjaga ketersediaan daging di tengah tekanan rantai pasok dan perubahan harga.

Persaingan Pedagang Semakin Ketat

Selain persoalan pasokan, pedagang di Pasar Kebayoran Lama harus menghadapi persaingan antarpenjual.

Hasil pengamatan menunjukkan adanya pedagang dengan pengalaman usaha beragam, mulai dari sekitar 1,5 tahun hingga 15 tahun.

Banyaknya pelaku usaha membuat konsumen memiliki pilihan tempat berbelanja. Informasi harga pun relatif mudah diperoleh sehingga pedagang harus mempertimbangkan harga, kualitas, dan pelayanan untuk mempertahankan pelanggan.

Sebagian pedagang memanfaatkan freezer berkapasitas sekitar 500 liter untuk menjaga persediaan ketika penjualan berfluktuasi.

Meski demikian, penggunaan fasilitas penyimpanan juga menambah biaya operasional, terutama untuk listrik dan perawatan.

Tekanan terhadap perdagangan daging sapi sebelumnya sempat memicu aksi mogok pedagang di Jabodetabek pada 22 Januari 2026. Aksi tersebut berkaitan dengan tingginya harga sapi hidup, kenaikan harga karkas, dan lemahnya daya beli masyarakat.

Kementerian Pertanian kemudian menyampaikan bahwa pedagang kembali beraktivitas mulai 23 Januari 2026 setelah tercapai kesepakatan mengenai harga dan pasokan sapi hidup.

Stabilitas Harga Membutuhkan Perbaikan dari Hulu ke Hilir

Hasil pengamatan di pasar tradisional menunjukkan bahwa pedagang memiliki sejumlah pilihan untuk mempertahankan keberlangsungan usaha, tetapi tidak sepenuhnya mampu mengendalikan faktor yang menentukan harga.

Penambahan stok, pemilihan jenis daging yang paling diminati, serta pengelolaan pelanggan tetap menjadi strategi jangka pendek yang dapat dilakukan.

Namun, stabilitas harga dalam jangka panjang membutuhkan penguatan produksi sapi dalam negeri, efisiensi distribusi, dan kepastian pasokan dari peternak hingga pasar.

Pengembangan peternakan lokal dan kemitraan antara peternak, pengusaha penggemukan sapi, rumah potong hewan, serta pedagang dapat menjadi bagian dari solusi untuk memperkuat rantai pasok.

Bagi pedagang Pasar Kebayoran Lama, tantangannya bukan sekadar menjual daging dengan harga lebih tinggi, melainkan menjaga keseimbangan antara biaya, jumlah penjualan, dan kemampuan belanja pelanggan.

Pada akhirnya, keberlangsungan usaha sangat bergantung pada kemampuan membaca perubahan pasar dan menyesuaikan strategi tanpa mengorbankan kualitas produk.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/harga-daging-sapi-naik-pedagang-pasar-kebayoran-lama-atur-strategi-pertahankan-omzet/98097/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.38 WITA

  • #Pasar Tradisional
  • #daging sapi
  • #daya beli masyarakat
  • #ekonomi jakarta
  • #harga daging sapi
  • #pasar kebayoran lama
  • #pedagang pasar

Artikel Terkait

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.