Pangkep, JurnalPost.com - Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita digelar di Shahir Coffe, Kabupaten Pangkep, Rabu (20/5/2026) malam. Acara yang berlangsung sejak pukul 20.00 WITA itu menjadi ruang diskusi publik yang mempertemukan berbagai kalangan untuk membahas isu sosial yang diangkat dalam film tersebut.
Kegiatan ini terselenggara lewat kolaborasi sejumlah komunitas dan organisasi yang memiliki perhatian terhadap isu kemanusiaan, pendidikan, lingkungan, hingga penguatan ruang dialog publik. Suasana diskusi berlangsung hangat dengan partisipasi aktif dari para peserta yang hadir.
Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan sudut pandang kritis terkait realitas sosial di Papua. Film tersebut juga menyoroti persoalan pembangunan, ruang hidup masyarakat, serta dinamika sosial yang terjadi di tengah perubahan zaman.
Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Pangkep, Muhammad Nur Rahmadhani, membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya ruang literasi dan diskusi publik untuk memperluas wawasan serta membangun budaya berpikir kritis di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua HMI Pangkep, Muhammad Fadly, mengajak generasi muda untuk lebih peka dalam membaca realitas sosial secara utuh. Ia juga menilai ruang dialog yang sehat perlu terus dihidupkan.
Diskusi dipandu oleh Bebi selaku Duta Pelajar Sulawesi Selatan sebagai moderator. Sesi pemantik menghadirkan Jimmy dari PSMP-PRP dan Yohanes Benediktus dari Yayasan Pendidikan Lontara Hijau yang menyampaikan pandangan terkait isu-isu dalam film dokumenter tersebut.
Dalam forum itu, peserta tidak hanya membahas isi film, tetapi juga berdialog mengenai kesadaran kritis terhadap persoalan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan. Peran generasi muda dalam menciptakan ruang percakapan yang sehat dan konstruktif turut menjadi perhatian dalam diskusi.
Peserta terlihat antusias mengikuti jalannya acara hingga selesai. Melalui kegiatan ini, ruang diskusi publik di Kabupaten Pangkep diharapkan terus berkembang sebagai sarana bertukar gagasan dan memperkuat budaya literasi yang terbuka terhadap berbagai perspektif.
"Film bukan hanya untuk ditonton, tetapi juga dipahami, didiskusikan, dan menjadi bahan refleksi bersama," demikian pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda