Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Pendataan PBI Jadi Penyebab Kacaunya Data Masyarakat Miskin

Pendataan PBI Jadi Penyebab Kacaunya Data Masyarakat Miskin

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
04 Maret 2016, 20.48 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
3 menit baca
Pendataan PBI Jadi Penyebab Kacaunya Data Masyarakat Miskin

JURNALPOST.COM - Adanya pendataan Penerima Bantuan Iuran (PBI) untuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) disebut menjadi salah satu penyebab kacaunya data jumlah masyarakat miskin yang ada di daerah. Hal ini diungkapkan oleh Sekertaris Daerah Kabupaten Sinjai, Taiyeb A Mappasere.

"Orang cenderung mau miskin, ini karena adanya PBI untuk BPJS, sehingga masyarakat mendesak-desak kepala desanya untuk memberikan keterangan miskin," kata Taiyeb, yang ditemui disela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Sinkronisasi Data Kemiskinan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk Kawasan Timur, yang berlangsung di Four Point By Sheraton, Jum'at (4/3).

IKLAN

Berdasarkan data PBI, presentase masyarakat miskin yang ada di daerahnya (Kabupaten Sinjai) saat ini mencapai 50 persen. Hal ini dikatakannya tidak logis.

dr. Audya Cahya K
Baca Juga

Dilema Penjaminan JKN di IGD: Memisahkan Tanggung Jawab Klinis Dokter dari Beban Administratif BPJS

"Masa masyarakat miskin sampai sebanyak itu? Tapi ini akibat dari adanya kebijakan PBI itu. Semua masyarakat menjadi ingin dikatakan miskin supaya bjsa mendapat program kesehatan gratis itu," ujarnya.

Kebijakan-kebijakan pemerintah pusat juga dikatakannya harus memikirkan dampak psikologis yang dialami oleh masyarakat dari sebuah kebijakan yang dikeluarkannya.

"Negara jangan hanya pakai ratio-ration-an. Ada pengaruh psikologis di masyarakat yang harus dipikirkan. Bayangkan saja selama 10 tahun, utamanya tiga tahun terakhir kami memberikan kebijakan kesehatan gratis, benar-benar gratis kepada seluruh masyatakat kami. Tiba-tiba seperti sekarang itu dibatasi, pengaruh psikologisnya pada masyarakat sangat besar. Dan masyarakat tidak bisa disalahkan," ungkapnya.

Taiyeb juga mengaku sudah menyampaikan dan mengusulkan ke Komisi IX DPR dan Menteri Kesehatan agar negara bisa menanggung biaya kesehatan semua warga negara sampai kelas 3. Tanpa diskriminasi.

Tedy Hartono
Baca Juga

Krisis Biaya JKN: Ketika Menyembuhkan Lebih Mahal daripada Menjaga

IKLAN

"Kalau itu dilakukan, saya yakin data masyarakat miskin baru bisa benar-benar divalidasi," ujarnya.

Taiyeb juga mempertanyakan kenapa negara tidak bisa menjamin biaya kesehatan seluruh warga negaranya, padahal Kabupaten kecil saja mampu melakukan hal itu.

"Kabupaten kami Kabupaten kecil, tapi bisa memberikan kesehatan gratis, kenapa negara tidak bisa. Kami bisa jadi contoh," ucapnya.

Solusinya menurut Taiyeb, seluruh pihak harus duduk bersama. Tetapi bukan hanya acara formalitas dengan duduk-duduk dan berpidato.

kedai pajak sampul 1280x720
Baca Juga

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

"Kacaunya data masyarakat miskin ini kan sejak PPLS 2011. Ini harus dibahas bersama dengan serius, bukan hanya dengan Kemensos tetapi secara lintas sektor," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi VII DPRI-RI, Saleh Partonan Daulay, yang ditemui usai menghadiri acara pembukaan Rakornas, mengatakan, hal ini hanya masalah sinkronisasi program antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

"Kita akan lihat dulu dampaknya seperti apa. Ini kan masih baru, nanti kita akan lakukan evaluasi terhadap penerapannya, agar subsidi program yang direncanakan bisa berjalan maksimal," ujarnya. (fo)

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/pendataan-pbi-jadi-penyebab-kacaunya-data-masyarakat-miskin/1402/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.48 WITA

  • #JKN
  • #PBI
  • #masyarakat miskin

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

Dari Sagu Menjadi SaBar, Inovasi Pangan Lokal Papua Selatan yang Mengangkat Cerita Kearifan Budaya

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Pilihan Editor

  1. 1 Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?
  2. 2

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  4. 4

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  5. 5

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.