Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Krisis Biaya JKN: Ketika Menyembuhkan Lebih Mahal daripada Menjaga

Krisis Biaya JKN: Ketika Menyembuhkan Lebih Mahal daripada Menjaga

Foto profil Gilang Pamungkas
Editor: Gilang Pamungkas
21 September 2026, 16.47 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Tedy Hartono
Tedy Hartono, SH, MCS, Sumber foto Dokumentasi Pribadi

JurnalPost.com - Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan sistem perlindungan sosial Indonesia. Program ini mulai berjalan pada 1 Januari 2014 sebagai pelaksanaan amanat Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

JKN membawa perubahan besar dalam akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Dari sistem yang sebelumnya banyak bergantung pada kemampuan seseorang membayar biaya pelayanan ketika sakit, Indonesia bergerak menuju sistem jaminan kesehatan yang menjangkau hampir seluruh penduduk.

IKLAN

Lebih dari satu dekade kemudian, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai sekitar 99 persen penduduk Indonesia. Pencapaian tersebut menunjukkan betapa luasnya peran JKN dalam kehidupan masyarakat.

dr. Audya Cahya K
Baca Juga

Dilema Penjaminan JKN di IGD: Memisahkan Tanggung Jawab Klinis Dokter dari Beban Administratif BPJS

Namun, di balik luasnya cakupan tersebut, muncul persoalan lain yang tidak kalah penting: bagaimana memastikan pembiayaan JKN tetap berkelanjutan ketika biaya pelayanan kesehatan terus meningkat?

Menurut Tedy Hartono, SH, MCS, tantangan JKN saat ini tidak cukup dilihat hanya dari persoalan menaikkan atau mempertahankan besaran iuran.

“Persoalan JKN bukan semata-mata berapa besar iuran yang harus dibayar masyarakat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah struktur pembiayaannya sudah mampu mengikuti perkembangan biaya kesehatan dan apakah dana yang tersedia digunakan secara efektif untuk mencegah penyakit sebelum menjadi mahal untuk ditangani,” kata Tedy Hartono.

Ketimpangan Antara Iuran dan Klaim

Salah satu tekanan terbesar JKN terletak pada ketimpangan antara penerimaan iuran dan pembayaran klaim.

Nasya Fahma Aulia
Baca Juga

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Pada Juni 2026, pembayaran klaim BPJS Kesehatan tercatat berada pada kisaran Rp16 hingga Rp16,5 triliun setiap bulan. Sementara itu, penerimaan iuran berada di sekitar Rp14 triliun per bulan.

Artinya, terdapat selisih sekitar Rp2 triliun setiap bulan antara penerimaan dan pengeluaran.

Jika kondisi tersebut berlangsung secara konsisten, tekanan terhadap Dana Jaminan Sosial Kesehatan akan semakin besar. Pemerintah pada akhirnya dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari menambah dukungan anggaran, melakukan penyesuaian iuran hingga memperketat pengendalian biaya pelayanan.

Persoalannya, kebijakan jangka pendek tersebut tidak selalu menyentuh akar masalah.

program SEHATi
Baca Juga

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Menurut Tedy, sistem pembiayaan kesehatan harus mulai melihat persoalan dari sisi yang lebih mendasar.

“Kalau setiap tahun yang dibicarakan hanya bagaimana menutup kekurangan pembiayaan, kita akan terus mengejar masalah yang sama. Yang perlu dibenahi adalah bagaimana menekan munculnya penyakit berbiaya tinggi sejak dari hulu, bukan hanya mencari dana tambahan setelah pasien sudah membutuhkan pengobatan mahal,” ujarnya.

Penyakit Katastropik Menjadi Beban Besar

Salah satu komponen pembiayaan yang memberikan tekanan besar terhadap JKN adalah penyakit katastropik.

Penyakit seperti jantung, kanker, gagal ginjal dan stroke membutuhkan pelayanan kesehatan jangka panjang serta biaya yang relatif besar. Dalam banyak kasus, pasien memerlukan pengobatan berulang, tindakan medis berteknologi tinggi hingga penggunaan obat secara terus-menerus.

Tidak ada pilihan selain memberikan pelayanan kepada pasien yang membutuhkan. JKN memang dibentuk untuk memastikan masyarakat tidak jatuh miskin hanya karena harus membayar biaya pengobatan.

Namun, persoalan muncul ketika sistem kesehatan terlalu berat berada pada sisi kuratif atau pengobatan, sementara upaya promotif, preventif dan deteksi dini belum memperoleh perhatian yang sebanding.

Penyakit tidak menular sering kali berkembang dalam waktu bertahun-tahun. Hipertensi, diabetes, obesitas dan berbagai faktor risiko lainnya dapat berkembang tanpa gejala berarti sebelum akhirnya menyebabkan komplikasi serius.

Ketika penyakit baru ditemukan pada kondisi berat, biaya penanganannya tentu jauh lebih tinggi dibandingkan jika faktor risikonya diketahui sejak awal.

IKLAN

Mencegah Lebih Murah daripada Mengobati

Di sinilah arah pembiayaan kesehatan perlu dievaluasi.

Sistem kesehatan idealnya bukan hanya hadir ketika masyarakat sudah sakit. Investasi pada pemeriksaan kesehatan, skrining penyakit tidak menular, edukasi gaya hidup sehat dan penguatan fasilitas kesehatan tingkat pertama juga harus menjadi bagian penting dari strategi menjaga keberlanjutan JKN.

Menurut Tedy, konsep promotif dan preventif tidak boleh berhenti sebagai jargon kebijakan.

“Kita harus berani mengubah paradigma. Jangan menunggu masyarakat terkena stroke, gagal ginjal atau penyakit jantung baru negara mengeluarkan biaya besar. Deteksi dini hipertensi, diabetes dan faktor risiko lainnya jauh lebih rasional secara kesehatan maupun ekonomi,” kata Tedy.

Tanpa perubahan tersebut, JKN berpotensi menghadapi sebuah lingkaran pembiayaan yang sulit diputus.

Semakin banyak masyarakat datang dalam kondisi penyakit berat, semakin besar biaya pengobatan yang harus dikeluarkan. Ketika sebagian besar sumber daya terserap untuk pelayanan kuratif, ruang untuk memperkuat upaya pencegahan menjadi semakin terbatas.

Akibatnya, kasus baru penyakit kronis kembali bermunculan dan beban pembiayaan terus meningkat.

Lima Langkah yang Perlu Dipertimbangkan

Ada sejumlah langkah yang dapat menjadi bagian dari pembenahan keberlanjutan JKN.

Pertama, sebagian pembiayaan perlu diarahkan secara lebih terukur pada program promotif dan preventif, terutama deteksi dini penyakit tidak menular di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Kedua, perhitungan iuran perlu terus dievaluasi berdasarkan kebutuhan aktuaria, kemampuan masyarakat dan perkembangan biaya pelayanan kesehatan. Kebijakan mengenai iuran harus mampu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan program dan prinsip perlindungan sosial.

Ketiga, pengendalian biaya penyakit katastropik perlu diperkuat melalui manajemen kasus, audit klinis dan evaluasi efektivitas pelayanan. Pengendalian biaya bukan berarti mengurangi hak pasien, melainkan memastikan setiap pembiayaan memberikan hasil kesehatan yang optimal.

Keempat, pemerintah dapat mengkaji mekanisme insentif bagi peserta yang menjalankan gaya hidup sehat maupun bentuk pembagian biaya yang tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi dan prinsip keadilan dalam sistem jaminan sosial.

Kelima, transparansi data pembiayaan perlu diperkuat. Informasi mengenai penerimaan iuran, pembayaran klaim, kelompok penyakit dengan biaya terbesar hingga tren utilisasi pelayanan akan membantu publik dan pembuat kebijakan melakukan evaluasi berdasarkan data.

“JKN harus tetap mempertahankan semangat gotong royong. Tetapi gotong royong juga membutuhkan tata kelola yang sehat. Transparansi, pengendalian biaya dan pencegahan penyakit harus berjalan bersama agar generasi berikutnya masih dapat menikmati sistem jaminan kesehatan yang kuat,” ujar Tedy.

Menjaga Keberlanjutan JKN

JKN merupakan salah satu program sosial terbesar yang pernah dijalankan Indonesia. Jutaan masyarakat memperoleh akses pengobatan yang mungkin sebelumnya sulit dijangkau karena keterbatasan biaya.

Karena itu, pembicaraan mengenai defisit JKN tidak seharusnya berakhir pada pilihan sederhana antara menaikkan iuran atau menambah subsidi pemerintah.

Pembenahan juga harus menyentuh pola pembiayaan, pengendalian biaya pelayanan, penguatan fasilitas kesehatan primer serta investasi dalam pencegahan penyakit.

Menurut Tedy, keberlanjutan JKN pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia mengubah orientasi sistem kesehatan dari sekadar membiayai masyarakat ketika sakit menjadi sistem yang aktif menjaga masyarakat agar tetap sehat.

“Menyembuhkan akan selalu menjadi bagian penting dari JKN. Tetapi kalau kita terus mengeluarkan biaya besar untuk penyakit yang sebenarnya bisa dicegah atau ditemukan lebih dini, biaya kesehatan akan terus mengejar kemampuan pembiayaan kita. Masa depan JKN bergantung pada keberanian untuk mulai lebih banyak menjaga sebelum harus menyembuhkan,” pungkas Tedy Hartono, SH, MCS.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/krisis-biaya-jkn-ketika-menyembuhkan-lebih-mahal-daripada-menjaga/97783/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.38 WITA

  • #BPJS Kesehatan
  • #JKN
  • #Jaminan Sosial
  • #kebijakan publik
  • #kesehatan
  • #pembiayaan kesehatan
  • #penyakit katastropik

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Pilihan Editor

  1. 1 Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?
  2. 2

    HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  3. 3

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  4. 4

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  5. 5

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.