SEMARANG, JurnalPost.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan Sahabat Sehat PAKAR, chatbot berbasis WhatsApp yang dirancang sebagai sarana literasi kesehatan mental sekaligus dukungan awal bagi anggota Paguyuban Karaoke Argorejo (PAKAR) di kawasan eks-lokalisasi Sunan Kuning, Kota Semarang.
Program tersebut dilaksanakan dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat 2026 yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim pengabdian diketuai Indri Ajeng Setyoningrum, M.Pd., bersama Fikrotul Hanifah, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Najma Sana Nadhirah Hilman, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan turut melibatkan mahasiswa UNNES, yakni Viska Aulia Adryanti, Zamzam Maulida Zahirah, dan Bagas Dwi Saputra.
Berangkat dari Kebutuhan Informasi Kesehatan Mental
Pengembangan Sahabat Sehat PAKAR berangkat dari kebutuhan anggota komunitas terhadap informasi kesehatan mental yang mudah dipahami, aman, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
WhatsApp dipilih sebagai platform layanan karena telah menjadi salah satu sarana komunikasi yang akrab dan banyak digunakan oleh anggota PAKAR.
Sebelum chatbot diperkenalkan, tim terlebih dahulu melakukan focus group discussion (FGD) dan pemetaan kebutuhan bersama pengurus PAKAR.
Tahapan tersebut dilanjutkan dengan identifikasi calon kader pendamping serta pelaksanaan pelatihan literasi kesehatan mental.
Pada 21 Juli 2026, sebanyak 30 anggota PAKAR mengikuti pelatihan yang membahas sejumlah topik, mulai dari kesehatan mental, stres dan kecemasan, penghargaan terhadap diri, hingga pentingnya mencari bantuan saat menghadapi situasi yang sulit.
Chatbot Mulai Diuji Coba
Pada 11 Agustus 2026, anggota PAKAR mulai diperkenalkan dengan Sahabat Sehat PAKAR sekaligus mengikuti uji coba awal penggunaan chatbot.

Melalui layanan tersebut, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai kesehatan mental, melakukan check-in perasaan, mempelajari cara mengelola stres dan emosi, serta mengenali kekuatan diri.
Pengguna juga dapat memperoleh informasi mengenai keselamatan dan pilihan akses bantuan apabila membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
“Sahabat Sehat PAKAR tidak dirancang untuk memberikan diagnosis atau menggantikan psikolog maupun tenaga kesehatan. Chatbot ini menjadi pintu awal agar pengguna lebih mudah memahami kondisi dirinya dan mengetahui pilihan bantuan yang tersedia,” jelas tim pengabdian.
Privasi dan Keselamatan Jadi Perhatian
Untuk menjaga kenyamanan dan keamanan pengguna, chatbot dikembangkan menggunakan bahasa sederhana dan tidak menghakimi.
Layanan juga dilengkapi dengan prinsip privasi, batas penggunaan, serta jalur bantuan yang dapat mengarahkan pengguna kepada kader maupun layanan profesional.
Tim pengabdian telah menyusun sekitar 30 halaman konten dan ilustrasi chatbot, disertai rancangan Buku Panduan dan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Panduan tersebut mengatur operasional layanan, peran kader, kerahasiaan pengguna, aspek keselamatan, hingga prosedur rujukan apabila ditemukan kebutuhan pendampingan lebih lanjut.
Masuk Tahap Pelatihan Kader dan Evaluasi
Chatbot beserta akses pengelolaannya kini telah diserahkan oleh tim teknologi informasi kepada tim pengabdian.

Tahap berikutnya akan difokuskan pada pelatihan kader, penyempurnaan layanan, pendampingan, serta evaluasi penggunaan chatbot sebelum diterapkan secara lebih luas.
Melalui Sahabat Sehat PAKAR, tim UNNES berharap pemanfaatan teknologi yang sederhana dan dekat dengan masyarakat dapat membantu meningkatkan literasi kesehatan mental.
Program ini juga diharapkan mampu mengurangi hambatan dalam mencari bantuan sekaligus memperkuat dukungan berbasis komunitas bagi perempuan di kawasan Argorejo, Kota Semarang.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda