BOJONEGORO, JurnalPost.com – Pemanfaatan teknologi digital di pasar tradisional mulai membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. Melalui platform Pasar.id yang dikembangkan BRI, aktivitas jual beli tidak hanya berpotensi menjangkau lebih banyak konsumen, tetapi juga menghadirkan kesempatan penghasilan tambahan bagi pengemudi ojek lokal.
Peluang tersebut dirasakan Rasito, seorang pengemudi ojek yang beraktivitas di sekitar Pasar Banjarejo, Bojonegoro. Menurutnya, perkembangan layanan belanja daring dapat memberikan alternatif pekerjaan bagi pengemudi ojek, terutama ketika jumlah penumpang sedang menurun.
Selama ini, penghasilan pengemudi ojek lokal sebagian besar bergantung pada masyarakat yang membutuhkan jasa transportasi. Namun, seiring berkembangnya layanan pemesanan barang secara digital, pengemudi ojek juga berpeluang terlibat dalam pengantaran kebutuhan sehari-hari dari pedagang pasar kepada pembeli.
"Kalau ada pesanan dari pembeli, tentu bisa menjadi tambahan pekerjaan bagi kami. Apalagi kalau sedang sepi penumpang, pengantaran barang bisa menjadi peluang untuk mendapatkan penghasilan," ujar Rasito.
Ia menilai perubahan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja menjadi kesempatan yang perlu dimanfaatkan. Tidak semua konsumen memiliki waktu untuk datang langsung ke pasar, sehingga layanan pemesanan dan pengantaran barang dapat menjadi alternatif yang lebih praktis.
Bagi pengemudi ojek lokal, kebutuhan tersebut membuka peluang untuk memperoleh pekerjaan di luar layanan antar-jemput penumpang. Sementara bagi konsumen, keberadaan jasa pengantaran dapat mempermudah pembelian kebutuhan tanpa harus meninggalkan aktivitas sehari-hari.
Pedagang Pasar Berpeluang Menjangkau Lebih Banyak Pembeli
Manfaat digitalisasi pasar juga menjadi perhatian para pedagang. Mafianto, salah seorang pedagang, menilai kehadiran Pasar.id memberikan alternatif pemasaran bagi pelaku usaha di pasar tradisional.
Melalui platform digital, pedagang memiliki kesempatan memperkenalkan barang dagangannya kepada konsumen yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak sempat berkunjung langsung ke pasar.
Dengan demikian, kegiatan perdagangan tidak harus sepenuhnya bergantung pada transaksi tatap muka. Pedagang tetap dapat menjalankan aktivitas jual beli secara konvensional sekaligus memanfaatkan layanan digital untuk memperluas peluang penjualan.
Mafianto melihat keterlibatan pedagang, pembeli, dan pengemudi ojek sebagai bentuk kerja sama yang dapat mendukung perputaran ekonomi masyarakat di lingkungan pasar.
"Kolaborasi antara pedagang, pembeli, dan pengemudi ojek menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital yang berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat," ungkapnya.
Digitalisasi Pasar Buka Peluang Ekonomi Masyarakat
Pengembangan Pasar.id menjadi salah satu upaya BRI dalam mendorong pemanfaatan teknologi digital di lingkungan pasar tradisional.
Kehadiran platform tersebut memberikan alternatif bagi pedagang untuk menyesuaikan kegiatan usahanya dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa menggunakan layanan digital.
Meski demikian, manfaat ekonomi dari layanan ini tetap bergantung pada tingkat penggunaan platform, jumlah pesanan, serta keterlibatan pelaku usaha dan penyedia jasa pengantaran.
Bagi pengemudi ojek seperti Rasito, peluang pengantaran barang menjadi harapan untuk menambah pemasukan ketika permintaan jasa transportasi sedang sepi.
Sementara bagi pedagang, pemanfaatan teknologi dapat menjadi salah satu cara mempertahankan pelanggan sekaligus menjangkau konsumen baru.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pasar tradisional tidak hanya berkaitan dengan perubahan cara bertransaksi. Lebih jauh, pemanfaatan layanan digital juga berpotensi menciptakan hubungan ekonomi yang saling mendukung antara pedagang, konsumen, dan masyarakat sekitar pasar.
Dengan adanya keterlibatan berbagai pihak, transformasi pasar tradisional diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk membuka peluang pekerjaan tambahan bagi pengemudi ojek lokal di Bojonegoro.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda