TANGERANG SELATAN, JurnalPost.com — Di lapak sayur Pasar Perwira Ciputat, seplastik cabai rawit bisa menjadi tolok ukur isi dompet warga. Pada awal Maret 2026, harga cabai rawit merah di Pasar Ciputat sempat menembus sekitar Rp100.000 per kilogram, jauh di atas harga acuan sekitar Rp57.000 per kilogram (Komalasari, 2026).
Ketika tim kami kembali menyusuri pasar tersebut pada pertengahan September 2026, pedagang menyebut harga cabai rawit sudah turun ke kisaran Rp45.000–Rp60.000 per kilogram (Kelompok 1 Permintaan, 2026).
Fluktuasi harga inilah yang membentuk cara masyarakat berbelanja. Konsumen mulai mengurangi jumlah pembelian, beralih ke barang pengganti, serta mencari potongan harga untuk menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan ekonomi mereka.
Cabai: Lonjakan Musiman yang Berulang
Kenaikan harga cabai pada Maret 2026 bertepatan dengan meningkatnya permintaan menjelang Idulfitri. Wakil Menteri Perdagangan yang meninjau Pasar Ciputat pada 6 Maret 2026 menemukan adanya kenaikan harga sejumlah bahan pokok akibat meningkatnya permintaan menjelang Lebaran. Dalam kesempatan tersebut, pemerintah menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga pangan (detikFinance, 2026).
Secara nasional, Bank Indonesia melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga cabai rawit merah mencapai Rp74.750 per kilogram pada 4 Maret 2026 (Kompas TV, 2026).
Kementerian Pertanian kemudian menggelar operasi pasar cabai dan bawang merah pada 10–19 Maret 2026. Langkah tersebut dilakukan karena harga rata-rata cabai di tingkat konsumen pada pekan pertama Maret mencapai Rp71.574 per kilogram, masih melampaui harga acuan penjualan (Bisnis.com, 2026).
Persoalan harga cabai belum berhenti. Pada awal Oktober 2026, PIHPS mencatat harga cabai rawit merah mencapai Rp114.000 per kilogram. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan bahwa kenaikan harga sebesar 10,21 persen pada pekan pertama Oktober berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi akhir tahun (Komalasari, 2026).
Di tingkat pedagang, konsumen cabai tidak sepenuhnya menerima perubahan harga tanpa melakukan penyesuaian.
Menurut pedagang cabai rawit, Epi Sunandar, konsumen dengan penghasilan sekitar Rp4 juta per bulan biasanya membeli 0,5 kilogram cabai setiap minggu, dengan pengeluaran sekitar Rp90.000 per bulan. Ketika harga cabai mengalami kenaikan, sebagian konsumen memilih beralih ke paprika sebagai barang pengganti.
Pedagang cabai merah keriting, Arif, menyampaikan pengalaman serupa. Menurutnya, pembeli yang biasanya membeli sekitar satu kilogram cabai setiap minggu akan beralih ke cabai hijau dengan harga Rp15.000–Rp20.000 per kilogram ketika harga cabai merah keriting meningkat (Kelompok 1 Permintaan, 2026).

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga dapat mendorong konsumen untuk menyesuaikan jumlah pembelian maupun memilih barang substitusi yang dianggap lebih terjangkau.
Ayam: Dari Lebaran hingga Tahun Ajaran Baru
Harga daging ayam ras di Pasar Ciputat pada 6 Maret 2026 dilaporkan mencapai Rp45.000 per kilogram, meningkat dari harga normal sekitar Rp40.000 per kilogram (detikFinance, 2026).
Beberapa bulan kemudian, tekanan harga ayam muncul dari faktor yang berbeda.
Kepala BPS menyebutkan bahwa kenaikan harga daging ayam ras pada pekan pertama Agustus 2026 dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan serta kembali beroperasinya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis setelah libur sekolah.
Rata-rata harga daging ayam ras secara nasional saat itu mencapai sekitar Rp39.712 per kilogram. Jika kenaikan terus berlanjut, harga tersebut berpotensi melampaui harga acuan (Investortrust, 2026).
Di Jambi, BPS setempat juga mengaitkan kenaikan harga ayam pada Juli 2026 dengan kembali aktifnya operasional SPPG yang menyerap pasokan daging ayam (RRI, 2026).
Meski demikian, hubungan antara pelaksanaan program tersebut dan perubahan harga ayam di Pasar Perwira Ciputat belum didukung oleh data khusus.
Hasil wawancara dengan pedagang menunjukkan bahwa konsumen cenderung melakukan penyesuaian ketika harga ayam meningkat.
Pedagang ayam, Abdul Kholik, menjelaskan bahwa harga ayam saat ini berada pada kisaran Rp40.000–Rp45.000 per ekor, dibandingkan harga normal sekitar Rp30.000–Rp35.000 per ekor.
Ketika harga ayam mengalami kenaikan, sebagian pembeli memilih beralih ke ati ampela yang dijual dengan harga Rp25.000–Rp30.000.

Pola serupa juga ditemukan pada komoditas ikan.
Pedagang ikan, Sakur, menyampaikan bahwa harga ikan mas segar berada pada kisaran Rp25.000–Rp50.000 per kilogram, bergantung pada ukuran. Ketika harga ikan mas meningkat, sebagian konsumen memilih ikan mujair sebagai alternatif (Kelompok 1 Permintaan, 2026).
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana konsumen mempertimbangkan barang substitusi untuk mempertahankan konsumsi rumah tangga ketika terjadi kenaikan harga.
Buah: Anggur Impor yang Tetap Dicari
Pada komoditas buah-buahan, pasar tradisional juga menghadapi dinamika permintaan yang dipengaruhi oleh keberadaan produk impor.
BPS mencatat bahwa Indonesia mengimpor sekitar 932,7 ribu ton buah dengan nilai US$2,02 miliar pada 2025. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2024, ketika impor buah mencapai 780,5 ribu ton dengan nilai US$1,66 miliar (GoodStats, t.t.).
Berdasarkan hasil observasi di Pasar Perwira Ciputat, terdapat perbedaan permintaan antara buah impor dengan harga relatif tinggi dan buah yang lebih terjangkau.
Di Toko Buah Pakde, anggur merah impor dijual dengan harga Rp90.000–Rp100.000 per kilogram. Pedagang menyebutkan bahwa jumlah pembeli berkisar 5–7 orang per hari, dengan persediaan sekitar 20–25 kilogram per minggu.
Sementara itu, Toko Mba Alika menjual jeruk dengan harga Rp25.000–Rp30.000 per kilogram. Jumlah pembelinya berkisar 10–15 orang per hari, dengan persediaan sekitar 30–35 kilogram per minggu (Kelompok 1 Permintaan, 2026).
Perbedaan harga tersebut berpengaruh terhadap pertimbangan anggaran rumah tangga.
Sebagai contoh, konsumen dengan penghasilan sekitar Rp5 juta per bulan yang membeli satu kilogram anggur setiap minggu akan mengeluarkan Rp360.000–Rp400.000 dalam sebulan.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 7–8 persen dari penghasilan bulanan, berdasarkan perhitungan tim menggunakan data wawancara.
Ketika harga anggur dianggap terlalu mahal, sebagian konsumen memilih beralih ke apel yang dijual seharga Rp50.000–Rp70.000 per kilogram.
Sementara itu, pembeli jeruk juga mempertimbangkan salak sebagai barang pengganti, dengan harga sekitar Rp10.000 per kilogram (Kelompok 1 Permintaan, 2026).
Temuan tersebut menggambarkan bagaimana perbedaan harga dan ketersediaan barang substitusi menjadi pertimbangan dalam keputusan pembelian buah.
Diskon Grosir Tipis, Tawar-Menawar Tetap Berlangsung
Tawar-menawar masih menjadi bagian dari aktivitas transaksi di Pasar Perwira Ciputat.
Berdasarkan keterangan para pedagang, pembelian dalam jumlah lebih besar umumnya memperoleh potongan harga, meskipun persentasenya relatif kecil.
Pada komoditas jeruk, pembelian tiga kilogram yang semula seharga Rp54.000 dapat memperoleh potongan menjadi sekitar Rp50.000.
Untuk anggur, pembelian tiga kilogram dengan harga awal Rp270.000 memperoleh potongan sebesar Rp10.000 sehingga total harga menjadi Rp260.000.
Potongan serupa juga diberikan pada komoditas cabai.
Pembelian tiga kilogram cabai rawit yang semula seharga Rp135.000 dapat memperoleh potongan menjadi Rp125.000.
Sementara itu, pembelian empat kilogram cabai merah keriting yang semula Rp120.000 dapat turun menjadi Rp110.000.
Pada komoditas ayam, pembelian tujuh kilogram dengan harga awal Rp315.000 dapat memperoleh potongan menjadi sekitar Rp310.000 (Kelompok 1 Permintaan, 2026).
Berdasarkan perhitungan tim, besaran potongan harga tersebut berkisar dari sekitar 1,6 persen untuk ayam hingga sekitar 8 persen untuk cabai merah keriting.
Hal ini menunjukkan bahwa pedagang berupaya mempertahankan margin keuntungan sekaligus memberikan insentif kepada konsumen untuk melakukan pembelian dalam jumlah lebih besar.
Elastis atau Tidak?
Dalam ilmu ekonomi mikro, elastisitas permintaan menggambarkan tingkat kepekaan jumlah barang yang diminta terhadap perubahan harga.
Permintaan disebut elastis apabila persentase perubahan jumlah barang yang diminta lebih besar daripada persentase perubahan harga. Sebaliknya, permintaan disebut inelastis apabila persentase perubahan jumlah barang yang diminta lebih kecil daripada persentase perubahan harga.
Berdasarkan wawancara, para pedagang menilai bahwa permintaan cabai rawit, cabai merah keriting, ayam, dan ikan mas cenderung bersifat inelastis karena komoditas tersebut dibutuhkan dalam konsumsi sehari-hari.
Sementara itu, permintaan jeruk dan anggur dinilai lebih elastis karena keduanya bukan kebutuhan pokok dan relatif mudah digantikan dengan jenis buah lainnya (Kelompok 1 Permintaan, 2026).
Namun, penilaian tersebut masih didasarkan pada pengalaman dan pengamatan pedagang, bukan pada perhitungan koefisien elastisitas secara kuantitatif.
Oleh karena itu, diperlukan data harga dan jumlah penjualan dalam periode yang lebih panjang untuk membuktikan tingkat elastisitas masing-masing komoditas secara lebih akurat.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Hasil pengamatan di Pasar Perwira Ciputat memperlihatkan tiga pola utama yang memengaruhi permintaan konsumen, yaitu lonjakan permintaan musiman, ketergantungan pasokan dari pasar induk, serta kecenderungan konsumen untuk beralih ke barang substitusi ketika harga meningkat.
Operasi pasar yang dilaksanakan pemerintah selama Ramadan menunjukkan adanya upaya untuk meredam tekanan harga pangan (Bisnis.com, 2026).
Namun, pemantauan harga harian dan penguatan sistem peringatan dini menjelang hari besar keagamaan maupun awal tahun ajaran perlu diperhatikan agar kebijakan pengendalian harga tidak hanya bersifat reaktif.
Bagi pedagang, menjalin hubungan dengan lebih dari satu pemasok dapat menjadi strategi untuk mengurangi risiko keterbatasan pasokan.
Selain itu, perencanaan persediaan sebelum periode puncak permintaan dapat membantu pedagang menjaga ketersediaan barang sekaligus mengantisipasi perubahan harga.
Sementara itu, bagi konsumen, pemahaman mengenai barang substitusi dapat membantu menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
Pilihan seperti paprika, cabai hijau, ati ampela, atau ikan mujair dapat menjadi alternatif ketika harga komoditas utama mengalami kenaikan, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan dan preferensi konsumsi.
Dengan demikian, perubahan harga tidak hanya memengaruhi jumlah barang yang diminta, tetapi juga mendorong konsumen dan pedagang untuk melakukan penyesuaian dalam aktivitas ekonomi.
Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa konsep permintaan, elastisitas harga, dan barang substitusi dalam ekonomi mikro dapat ditemukan secara langsung dalam aktivitas jual beli di pasar tradisional.
Catatan Metode: Data harga dan perilaku pembeli diperoleh melalui wawancara dengan pedagang Pasar Perwira Ciputat pada pertengahan September 2026. Data pendukung berasal dari pemberitaan dan publikasi lembaga resmi sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka.
Daftar Pustaka
Bisnis.com. (2026, 9 Maret). Harga cabai masih tinggi, Kementan siapkan operasi pasar di 20 titik Jakarta. https://ekonomi.bisnis.com/read/20260309/12/1958923/harga-cabai-masih-tinggi-kementan-siapkan-operasi-pasar-di-20-titik-jakarta
detikFinance. (2026, 6 Maret). Hasil Wamendag keliling Pasar Ciputat: Harga cabai, ayam, telur naik. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8387130/hasil-wamendag-keliling-pasar-ciputat-harga-cabai-ayam-telur-naik/amp
GoodStats. (t.t.). 10 negara pengimpor buah terbesar ke Indonesia 2025 [Data bersumber dari BPS, Statistik Indonesia 2026]. https://data.goodstats.id/statistic/10-negara-pengimpor-buah-terbesar-ke-indonesia-2025-Cr3MK
Investortrust. (2026, Agustus). Dapur MBG kembali beroperasi, harga daging ayam naik di 188 kabupaten/kota. https://investortrust.id/macro/112344/dapur-mbg-kembali-beroperasi-harga-daging-ayam-naik-di-188-kabupatenkota
Kelompok 1 Permintaan. (2026, 15 September). Analisis permintaan pasar [Presentasi kelas; data wawancara pedagang Pasar Perwira Ciputat]. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kompas TV. (2026, 4 Maret). Update harga pangan Rabu 4 Maret 2026: Cabai rawit merah tembus Rp74.750 per kg. https://www.kompas.tv/nasional/654479/update-harga-pangan-rabu-4-maret-2026-cabai-rawit-merah-tembus-rp74-750-per-kg
Komalasari, T. D. (2026, 6 Oktober). Harga cabai rawit makin pedas capai Rp114 ribu per kg, risiko sumbang inflasi. Katadata. https://katadata.co.id/berita/industri/6ac46927d0b19/harga-cabai-rawit-makin-pedas-capai-rp114-ribu-per-kg-risiko-sumbang-inflasi
RRI. (2026, 3 Agustus). Program gizi sekolah dimulai, harga daging ayam di Jambi meningkat. https://rri.co.id/jambi/regional/2623728/program-gizi-sekolah-dimulai-harga-daging-ayam-di-jambi-meningkat
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda