Tumbuh dalam Keluarga Sederhana
Cindy tumbuh di Surabaya dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, kedua orang tuanya telah berpisah. Sang ibu kemudian harus bekerja keras membesarkan dua anak perempuannya seorang diri. Ibunya bekerja sebagai pegawai toko dengan penghasilan yang terbatas. Baju bekas, mainan bekas, dan berbagai bentuk keterbatasan menjadi bagian dari masa kecil Cindy. Namun situasi tersebut justru membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia terbiasa menghargai setiap kesempatan dan meyakini bahwa sesuatu yang diinginkan harus diperjuangkan melalui usaha sendiri. “Sedari kecil memang aku tipe orang yang suka cari uang. Sekiranya ada peluang menghasilkan uang dan halal, pasti aku coba,” ujar Cindy. Kebiasaan mencari peluang bahkan sudah muncul jauh sebelum ia memasuki dunia kerja profesional. Cindy pernah menyewakan kembali komik yang sebelumnya ia sewa dari rental komik. Ia juga mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari menjadi freelancer pagar ayu, terlibat dalam kegiatan event organizer, hingga menjadi guru les.Mulai Bekerja di Usia 17 Tahun
Ketika sebagian anak seusianya mulai menikmati masa kuliah dan berkumpul bersama teman, Cindy justru memilih bekerja. Pada usia 17 tahun, ia mulai menjalani kehidupan sebagai pekerja. Perjalanan tersebut kemudian membawanya pada Juli 2010 ketika ia diterima bekerja di sebuah bank. Dunia perbankan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Cindy. Selama sekitar 15 tahun, ia membangun karier sekaligus belajar mengenai tanggung jawab, kedisiplinan, dan profesionalisme. Namun, sebelum bekerja di bank, Cindy sebenarnya pernah menyimpan mimpi lain. Ia ingin menjadi artis atau model. Mimpi itu memang tidak membawanya ke dunia hiburan seperti yang dibayangkan. Akan tetapi, jalan hidup kemudian mempertemukannya dengan kesempatan lain ketika seorang teman mengenalkannya pada dunia content creator. Dari sinilah sebuah perjalanan yang sebelumnya tidak pernah ia rencanakan mulai terbuka.Pandemi Jadi Titik Awal Perjalanan sebagai Content Creator
Momentum penting dalam perjalanan Cindy sebagai kreator muncul ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, banyak orang memilih merahasiakan kondisi ketika terpapar Covid-19 karena khawatir terhadap stigma maupun pandangan lingkungan sekitar. Cindy mengambil pilihan berbeda. Ketika dirinya dan keluarga terpapar, ia justru membagikan pengalaman tersebut melalui media sosial. Menurutnya, terpapar Covid-19 bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Tak disangka, keterbukaannya mendapat respons positif dari banyak orang. Konten yang dibagikannya mulai dikenal dan menjadi salah satu titik awal perjalanan Cindy sebagai content creator melalui akun Instagram @cndytang. Pengalaman tersebut kemudian membuka pemahamannya mengenai besarnya potensi dunia digital, baik sebagai media berbagi cerita maupun sebagai ruang untuk membangun peluang.Karier 15 Tahun di Perbankan Berakhir
Setelah sekitar 15 tahun bekerja di dunia perbankan, perjalanan tersebut harus berakhir ketika bank tempat Cindy bekerja mengalami likuidasi. Kehilangan pekerjaan setelah perjalanan yang begitu panjang tentu bukan situasi yang mudah. Namun bagi Cindy, berakhirnya satu perjalanan tidak berarti seluruh kesempatan ikut berakhir. Ia memilih mengalihkan fokus pada Tang Management, usaha yang telah dirintisnya sekitar dua tahun sebelumnya. Keputusan memulai babak baru tersebut mendapat dukungan dari suami, ketiga anaknya, serta keluarga. Dukungan itulah yang kemudian semakin menguatkan langkah Cindy untuk mengembangkan Tang Management.Berawal dari Kebutuhan Brand dan Content Creator
Pengalaman sebagai content creator membuat Cindy melihat adanya kebutuhan yang terus tumbuh dalam industri digital. Di satu sisi, banyak brand membutuhkan kreator untuk memperkenalkan produk maupun layanan kepada masyarakat. Di sisi lain, terdapat banyak content creator yang memiliki kemampuan membuat konten, tetapi belum memperoleh kesempatan untuk bekerja sama dengan brand. Celah itulah yang kemudian mendorong Cindy mengembangkan Tang Management. Baginya, Tang Management bukan sekadar manajemen bagi content creator. Ia ingin membangun ruang yang mampu mempertemukan brand dengan kreator sekaligus membuka peluang penghasilan dari dunia digital. Perjalanan dan berbagai portofolio Tang Management dapat dilihat melalui akun Instagram @tangmanagement.
“Now Everyone Can Be an Influencer”
Sejak awal, Cindy ingin Tang Management menjadi tempat yang memberikan kesempatan bagi lebih banyak orang. Dari pemikiran tersebut lahir sebuah motto yang hingga kini menjadi prinsip dalam mengembangkan usahanya.“Now Everyone Can Be an Influencer.”Bagi Cindy, kalimat tersebut bukan sekadar slogan. Ia tidak menjadikan jumlah pengikut sebagai tolok ukur utama bagi seseorang untuk bergabung dengan Tang Management. “Di Tang Management kami tidak memilih berdasarkan jumlah followers. Mau followers berapa pun tetap kami terima, asalkan tahu cara membuat dan mengedit video. Yang terpenting adalah jujur dan bertanggung jawab,” ujarnya. Proses bergabung dengan Tang Management juga tidak dipungut biaya. Meski demikian, Cindy tidak ingin memberikan janji bahwa setiap kreator yang bergabung pasti memperoleh pekerjaan. Keputusan akhir untuk memilih kreator tetap berada di tangan klien atau brand. Menurutnya, yang paling penting adalah memberikan ruang agar setiap orang memperoleh kesempatan yang sama untuk mencoba.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda