Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ganti Kurikulum Saja Tak Cukup, Teknologi Pendidikan Harus Mengubah Cara Belajar

Ganti Kurikulum Saja Tak Cukup, Teknologi Pendidikan Harus Mengubah Cara Belajar

Penulis:
  • Rohmah Nila Farida

Afiliasi: Program Doktor (S3) Universitas Negeri Surabaya.

Editor: Shella Paramitha
10 Oktober 2026, 11.48 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Kurikulum Tidak Cukup Berganti

JurnalPost.com - Setiap kali kurikulum pendidikan diperbarui, harapan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran kembali menguat. Pemerintah merumuskan arah baru, sekolah menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran, sementara guru dituntut memahami berbagai perubahan yang menyertainya.

Namun, di tengah pergantian tersebut, muncul pertanyaan yang sebenarnya lebih mendasar: apakah perubahan kurikulum benar-benar mengubah cara peserta didik belajar?

IKLAN

Pertanyaan ini penting karena keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari hadirnya kebijakan baru atau tersusunnya dokumen pembelajaran yang lebih lengkap. Perubahan semestinya terlihat dalam pengalaman belajar peserta didik, mulai dari bagaimana mereka memahami materi, mengembangkan keterampilan, hingga menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata.

Di sinilah Teknologi Pendidikan memiliki peran penting. Bukan sekadar menghadirkan perangkat digital di ruang kelas, melainkan membantu memastikan bahwa tujuan kurikulum dapat diterjemahkan menjadi proses pembelajaran yang efektif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Kurikulum Berubah, Apakah Pembelajaran Ikut Berubah?

Kurikulum pada dasarnya merupakan pedoman yang menentukan arah penyelenggaraan pendidikan. Di dalamnya terdapat tujuan, materi, kompetensi, dan berbagai ketentuan yang menjadi acuan pelaksanaan pembelajaran.

Namun, kurikulum tidak seharusnya dipandang hanya sebagai kumpulan dokumen administratif yang harus dipenuhi oleh sekolah dan guru.

Kurikulum perlu dipahami sebagai rancangan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir, serta membangun keterampilan yang berguna dalam kehidupan.

Persoalannya, perubahan kebijakan belum tentu diikuti perubahan praktik di ruang kelas. Guru dapat saja menggunakan kurikulum baru, tetapi tetap mempertahankan metode pembelajaran lama yang terlalu berpusat pada penyampaian materi.

Akibatnya, pembelajaran masih didominasi kegiatan mendengarkan, mencatat, dan menghafal. Peserta didik mungkin mampu menjawab pertanyaan dalam ujian, tetapi belum tentu dapat menerapkan pengetahuan tersebut ketika menghadapi persoalan di luar sekolah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pembaruan kurikulum harus disertai perubahan pendekatan pembelajaran. Sekolah tidak cukup hanya menyesuaikan perangkat administrasi, tetapi juga perlu memastikan bahwa kegiatan belajar benar-benar mendukung kompetensi yang ingin dicapai.

Memahami Teknologi Pendidikan Lebih dari Sekadar Digitalisasi

Ketika mendengar istilah Teknologi Pendidikan, sebagian orang mungkin langsung membayangkan komputer, proyektor, internet, aplikasi pembelajaran, atau penggunaan kecerdasan buatan.

Padahal, ruang lingkup Teknologi Pendidikan jauh lebih luas daripada sekadar pemanfaatan perangkat digital.

Teknologi Pendidikan merupakan bidang kajian dan praktik yang berupaya memfasilitasi pembelajaran melalui perancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi proses dan sumber belajar.

Dengan demikian, teknologi tidak hanya hadir ketika guru menggunakan aplikasi atau menampilkan video di kelas. Pendekatan Teknologi Pendidikan juga diperlukan ketika guru menganalisis kebutuhan peserta didik, memilih strategi mengajar, menyusun aktivitas pembelajaran, hingga menentukan cara mengevaluasi hasil belajar.

Laporan Global Education Monitoring Report 2023 yang diterbitkan UNESCO juga mengingatkan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan perlu mempertimbangkan relevansi, pemerataan akses, keberlanjutan, serta kontribusinya terhadap hasil pembelajaran.

Pesan tersebut menegaskan bahwa penggunaan teknologi tidak otomatis meningkatkan kualitas pendidikan.

Ruang kelas yang dilengkapi perangkat canggih belum tentu menghasilkan pembelajaran yang lebih baik apabila penggunaannya tidak didasarkan pada kebutuhan peserta didik dan tujuan pembelajaran yang jelas.

Sebaliknya, pembelajaran dengan fasilitas sederhana tetap dapat berlangsung efektif apabila dirancang secara tepat.

Menjembatani Tujuan Kurikulum dan Pengalaman Belajar

Salah satu kontribusi utama Teknologi Pendidikan adalah membantu menghubungkan tujuan kurikulum dengan kegiatan pembelajaran yang benar-benar dialami peserta didik.

Hubungan tersebut dapat dibangun melalui beberapa pendekatan.

Pertama, pembelajaran perlu dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai.

Apabila kurikulum menghendaki peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kegiatan pembelajaran seharusnya memberikan kesempatan untuk menganalisis persoalan, menyusun alternatif penyelesaian, mencoba solusi, dan mengevaluasi hasilnya.

Kemampuan tersebut sulit berkembang apabila kegiatan belajar hanya berfokus pada hafalan dan penyelesaian soal secara berulang.

Kedua, media dan teknologi pembelajaran perlu dipilih berdasarkan karakteristik materi serta kebutuhan peserta didik.

Konsep yang sulit dibayangkan dapat dijelaskan melalui animasi, simulasi, atau visualisasi interaktif. Sementara itu, keterampilan yang memerlukan tahapan praktik dapat diperkenalkan melalui video demonstrasi sebelum peserta didik mencoba secara langsung.

Pemilihan media semacam ini harus mempertimbangkan manfaatnya bagi proses belajar, bukan sekadar mengikuti perkembangan aplikasi yang sedang populer.

Ketiga, evaluasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses perbaikan pembelajaran.

Selama ini, penilaian sering kali lebih banyak digunakan untuk menentukan nilai akhir. Padahal, hasil evaluasi juga dapat membantu guru memahami kesulitan peserta didik, menemukan materi yang belum dikuasai, dan menyesuaikan strategi pembelajaran berikutnya.

Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran tidak berhenti ketika nilai diberikan. Evaluasi justru menjadi dasar untuk memperbaiki pengalaman belajar secara berkelanjutan.

Ketiga aspek ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan kurikulum memerlukan perencanaan yang sistematis. Tujuan, metode, media, aktivitas belajar, dan penilaian harus saling mendukung agar kompetensi yang diharapkan dapat tercapai.

IKLAN

Ketimpangan Akses Masih Menjadi Tantangan

Perkembangan teknologi memang membuka banyak kesempatan baru dalam pendidikan. Namun, digitalisasi juga membawa persoalan yang tidak dapat diabaikan, terutama berkaitan dengan pemerataan akses.

Tidak semua sekolah memiliki jaringan internet stabil, perangkat digital memadai, atau tenaga pendidik yang terbiasa menggunakan teknologi pembelajaran.

Kondisi peserta didik juga berbeda-beda. Sebagian memiliki perangkat pribadi dan akses internet yang mudah, sementara sebagian lainnya masih menghadapi keterbatasan fasilitas belajar.

Perbedaan tersebut menjadi tantangan ketika penerapan kurikulum semakin bergantung pada teknologi digital.

Apabila tidak dirancang secara inklusif, penggunaan teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas pembelajaran antarsekolah maupun antarpeserta didik.

Karena itu, transformasi pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada sekolah dengan infrastruktur lengkap.

Sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas tetap perlu memperoleh dukungan melalui penyediaan sumber belajar luring, modul cetak, media pembelajaran sederhana, atau pemanfaatan perangkat secara bergantian.

Selain infrastruktur, pengembangan kompetensi guru juga menjadi kebutuhan mendesak.

Pelatihan guru seharusnya tidak berhenti pada pengenalan fitur aplikasi. Guru perlu mendapatkan pendampingan untuk memahami bagaimana teknologi dapat digunakan dalam merancang pembelajaran, menciptakan interaksi, mengukur pencapaian kompetensi, serta memberikan umpan balik kepada peserta didik.

Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperluas kesempatan belajar, bukan menciptakan hambatan baru bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses.

Pendidikan Masa Depan Membutuhkan Pembelajaran Bermakna

Perkembangan kecerdasan buatan, simulasi digital, media interaktif, dan sumber belajar terbuka telah mengubah cara manusia mengakses pengetahuan.

Informasi kini dapat diperoleh dengan lebih cepat dan melalui berbagai perangkat. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu sejalan dengan kemampuan memahami dan menggunakannya secara tepat.

Tantangan pendidikan masa depan bukan sekadar mengajarkan peserta didik menggunakan teknologi, melainkan membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, pembelajaran perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dalam pendidikan kejuruan, misalnya, penggunaan simulasi proses kerja dan video demonstrasi dapat membantu peserta didik memahami prosedur sebelum memasuki kegiatan praktik.

Pembelajaran berbasis proyek juga dapat digunakan untuk menghubungkan kompetensi yang dipelajari di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja.

Meski demikian, teknologi tetap perlu dipadukan dengan pengalaman langsung. Keterampilan praktik tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh simulasi digital, terutama ketika peserta didik harus menguasai penggunaan peralatan, prosedur kerja, dan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi nyata.

Hal serupa berlaku pada jenjang pendidikan lainnya. Teknologi dapat memperkaya sumber belajar, tetapi interaksi antara guru dan peserta didik tetap menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman, karakter, dan keterampilan sosial.

Dengan kata lain, teknologi tidak hadir untuk menggantikan guru, tetapi memperkuat kemampuannya dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna.

Transformasi Pendidikan Harus Terasa di Ruang Kelas

Perubahan kurikulum seharusnya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali keseluruhan proses pendidikan, bukan sekadar mengganti istilah, menyusun dokumen baru, atau menyesuaikan perangkat pembelajaran.

Pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan kurikulum didukung oleh kesiapan sumber daya, infrastruktur, dan program pengembangan kompetensi pendidik.

Sekolah juga perlu membangun budaya inovasi dan evaluasi yang memungkinkan guru memperbaiki strategi pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik.

Sementara itu, guru membutuhkan ruang untuk merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kondisi lingkungan sekolah.

Dalam konteks tersebut, Teknologi Pendidikan dapat menjadi pendekatan strategis untuk menghubungkan kebijakan kurikulum dengan praktik pembelajaran.

Kontribusinya mencakup analisis kebutuhan, desain pembelajaran, pengembangan sumber belajar, pemanfaatan media, evaluasi hasil belajar, hingga perbaikan proses pendidikan secara berkelanjutan.

Keberhasilan transformasi pendidikan pada akhirnya tidak dapat diukur hanya dari seberapa sering kurikulum berganti atau seberapa banyak perangkat digital digunakan.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah peserta didik mengalami perubahan dalam cara mereka belajar, memahami pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan menyelesaikan masalah.

Kurikulum memang menentukan arah pendidikan. Namun, tanpa rancangan pembelajaran yang tepat, arah tersebut berisiko berhenti sebagai gagasan dalam dokumen kebijakan.

Teknologi Pendidikan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan cita-cita kurikulum dengan kenyataan pembelajaran di ruang kelas.

Karena itu, sudah saatnya perhatian pendidikan tidak hanya diarahkan pada pergantian kurikulum, tetapi juga pada bagaimana setiap perubahan benar-benar menghadirkan pengalaman belajar yang lebih baik bagi peserta didik.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ganti-kurikulum-saja-tak-cukup-teknologi-pendidikan-harus-mengubah-cara-belajar/98098/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.04 WITA

  • #Digitalisasi
  • #Guru
  • #Kurikulum
  • #Pembelajaran
  • #Teknologi Pendidikan
  • #pendidikan
  • #sekolah

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.