Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Gunung Sampah di TPA Sukawinatan: Ancaman terhadap Kualitas Air dan Udara

Gunung Sampah di TPA Sukawinatan: Ancaman terhadap Kualitas Air dan Udara

Penulis:
  • Daffa Mustai’in Muas1,
  • Shelove Kalyca Wibowo2,
  • Nys. Jihan Filzah Almecca3,
  • Aisyah Listina4,
  • Davina Syifa Herlyan5,
  • Daniyah Rahma6,
  • Nayla Dilara Marseli7,
  • M. Rafly Rizqullah8

Afiliasi: Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya

Editor: Gilang Pamungkas
03 Oktober 2026, 12.35 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
TPA Sukawinatan
Kondisi timbunan sampah di area TPA Sukawinatan yang terus menggunung dan ditangani menggunakan alat berat. Penumpukan sampah dalam jumlah besar berpotensi menghasilkan air lindi serta gas dari proses pembusukan yang dapat memengaruhi kualitas air dan udara di lingkungan sekitar. Sumber: Bisnis.com.

JurnalPost.com - Setiap hari, Kota Palembang menghasilkan sekitar 1.260 ton sampah. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 ton berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sukawinatan. Di lahan seluas kurang lebih 25 hektare itu, timbunan sampah terus meninggi hingga menyerupai “gunung sampah”.

Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu estetika kota dan menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas air dan udara di lingkungan sekitar TPA.

Menurut pandangan kami, keberadaan gunung sampah di TPA Sukawinatan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai persoalan kapasitas tempat pembuangan. Timbunan sampah dalam jumlah besar akan mengalami proses penguraian yang dapat menghasilkan air lindi.

Air lindi terbentuk ketika air masuk ke dalam timbunan sampah, kemudian membawa serta melarutkan berbagai material yang terkandung di dalamnya. Jika tidak dikelola dengan baik, air lindi dapat bergerak secara vertikal maupun horizontal dan mencemari tanah serta sumber air di sekitar TPA.

Pencemaran air tanah dapat berlangsung dalam waktu lama. Oleh karena itu, upaya pencegahan, pengendalian, dan pemantauan menjadi langkah yang sangat penting untuk mengurangi risiko terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar.

Ancaman terhadap Kualitas Udara

Selain pencemaran air, kualitas udara juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Sampah organik yang mengalami pembusukan menghasilkan berbagai gas sebagai akibat aktivitas mikroorganisme.

Gas-gas tersebut dapat menimbulkan bau menyengat dan dalam kondisi tertentu berpotensi mudah terbakar apabila tidak dikendalikan dengan baik.

Menurut pemberitaan Sumatera Ekspres, gunung sampah di TPA Sukawinatan pernah mengalami kebakaran hingga empat kali, dengan area terdampak mencapai sekitar lima hektare.

Kebakaran maupun pembakaran sampah secara terbuka dapat menghasilkan asap dan partikulat yang menurunkan kualitas udara di lingkungan sekitar. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan fisik, tetapi juga dapat mengganggu kenyamanan masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan TPA.

Karena masyarakat di sekitar TPA berhadapan langsung dengan kondisi lingkungan tersebut, persoalan kualitas air dan udara perlu dilihat dari perspektif kesehatan lingkungan.

Lingkungan yang mengalami pencemaran dapat memengaruhi kenyamanan dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Namun, kualitas air maupun udara tidak cukup dinilai hanya berdasarkan bau, warna, atau pengamatan secara visual.

Untuk mengetahui tingkat pencemaran secara lebih akurat, diperlukan pengukuran dan pemeriksaan menggunakan metode serta peralatan yang sesuai.

Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Sumbernya

Menurut pendapat kelompok kami, penyelesaian masalah gunung sampah di TPA Sukawinatan tidak cukup dilakukan hanya dengan memperluas lahan atau menambah kapasitas TPA.

Permasalahan perlu ditangani sejak dari sumber sampah hingga tahap pengolahan akhir.

Salah satu langkah yang dapat diperkuat adalah penerapan prinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. Selain itu, pengolahan sampah organik dapat dilakukan melalui pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF), pembuatan kompos, serta penerapan biopori.

Upaya tersebut dapat membantu mengurangi jumlah sampah organik yang harus dibuang ke TPA.

Edukasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat, khususnya mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Edukasi dapat dilakukan melalui sekolah, komunitas, lingkungan permukiman, hingga fasilitas pengelolaan seperti bank sampah.

Dengan pemilahan sejak dari sumbernya, jumlah sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan, sekaligus meningkatkan peluang pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Pengelolaan Lindi dan Gas Perlu Diperkuat

Pada tingkat pengelolaan TPA, air lindi yang berasal dari timbunan sampah harus ditangani melalui sistem pengolahan yang memadai.

Gas yang terbentuk dari proses penguraian sampah juga perlu dikendalikan untuk mengurangi risiko pencemaran udara, bau, serta potensi kebakaran.

Selain itu, pemerintah daerah dan pengelola TPA perlu melakukan pemantauan secara berkala terhadap kualitas air tanah, air sumur warga, serta kualitas udara di sekitar kawasan TPA.

Hasil pemantauan tersebut sebaiknya disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Transparansi data lingkungan penting agar warga mengetahui kondisi lingkungan tempat tinggal mereka sekaligus dapat berpartisipasi dalam pengawasan.

Keterlibatan masyarakat juga dapat membantu mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan mencegah persoalan penumpukan sampah terus berulang.

Bukan Sekadar Persoalan Bau dan Pemandangan

Pada akhirnya, keberadaan “gunung sampah” di TPA Sukawinatan tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan pemandangan, bau tidak sedap, maupun keterbatasan daya tampung TPA.

Risiko terhadap kualitas air dan udara menjadikan persoalan tersebut sebagai bagian dari upaya perlindungan lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat.

Keberhasilan sistem pengelolaan sampah tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa banyak sampah yang dapat diangkut ke TPA. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana sistem tersebut mampu mengurangi timbulan sampah, mencegah pencemaran, dan menjaga kualitas lingkungan.

Masyarakat, pemerintah, dan pengelola TPA memiliki peran masing-masing dalam mengurangi produksi sampah, mengendalikan pencemaran, serta menjaga kualitas air dan udara.

Pengelolaan yang dilakukan secara konsisten dan terintegrasi menjadi penting agar lingkungan tetap aman dan layak bagi masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/gunung-sampah-di-tpa-sukawinatan-ancaman-terhadap-kualitas-air-dan-udara/97972/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.46 WITA

  • #TPA Sukawinatan
  • #air lindi
  • #gunung sampah
  • #kualitas air
  • #kualitas udara
  • #pencemaran lingkungan
  • #pengelolaan sampah
  • #sampah Palembang

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.