Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Pemasaran Tak Lagi Soal Insting, tapi Soal Data dan Empati

Ketika Pemasaran Tak Lagi Soal Insting, tapi Soal Data dan Empati

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
28 Oktober 2025, 12.21 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Jasa Promosi

Oleh: Ali Wafan, Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN Pontianak

JurnalPost.com - Di era digital, kita bukan lagi menebak keinginan konsumen tapi kita mengetahuinya lewat data. Setiap klik, pencarian, dan pembelian menjadi potongan informasi yang menyusun gambaran utuh tentang perilaku manusia. Dalam Marketing 5.0: Technology for Humanity, Philip Kotler bersama Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan menyebut fenomena ini sebagai data-driven marketing, pemasaran yang digerakkan oleh data. Ia bukan sekadar tren, melainkan fondasi baru dalam cara perusahaan memahami dan melayani pelanggan. Namun, di balik kecanggihan ini, terselip pertanyaan mendasar: masihkah manusia menjadi pusat dalam strategi pemasaran modern?

IKLAN

Kotler menjelaskan bahwa data-driven marketing adalah upaya membangun ekosistem data yang terintegrasi, mulai dari data internal perusahaan, perilaku digital pelanggan, hingga interaksi mereka di berbagai kanal. Tujuannya jelas: menyampaikan pesan yang tepat, kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Inilah pondasi dari predictive marketing, kemampuan memprediksi kebutuhan pelanggan bahkan sebelum mereka menyadarinya. Contoh paling sederhana bisa kita lihat di e-commerce yang menampilkan produk “yang mungkin Anda suka” sesaat setelah kita menelusuri barang serupa. Itu bukan kebetulan, itu hasil dari algoritma yang membaca pola perilaku kita.

Tim Mahasiswa Teknik Informatika ITERA Bersama Perangkat Desa
Baca Juga

Mahasiswa ITERA Kembangkan Website Desa Sabah Balau untuk Dukung UMKM Lokal

Namun, di sinilah paradoksnya muncul. Semakin canggih data digunakan, semakin besar pula risiko hilangnya sentuhan manusia. Banyak perusahaan sibuk membangun sistem analitik canggih, tapi lupa bahwa di balik setiap data ada manusia dengan emosi dan harapan. Mereka memuja angka, tetapi mengabaikan empati. Padahal, sebagaimana ditekankan Kotler, teknologi hanyalah alat, tujuannya tetap untuk memanusiakan pemasaran, bukan mendatafikannya.

Memang, pemasaran berbasis data membawa efisiensi luar biasa. Dengan bantuan machine learning dan artificial intelligence, perusahaan bisa mengenali pola pembelian, mengoptimalkan anggaran iklan, hingga memprediksi tren pasar dengan presisi tinggi. Tetapi keputusan yang sepenuhnya diserahkan pada algoritma membawa risiko baru, bias dan kehilangan konteks. Mesin hanya belajar dari masa lalu, tanpa nilai moral atau intuisi sosial. Jika data yang digunakan sempit atau diskriminatif, maka hasilnya pun bisa meniru ketidakadilan yang sama.

IKLAN

Karena itu, Kotler menekankan pentingnya membangun ekosistem data yang etis dan aman. Bukan hanya tentang seberapa banyak data dikumpulkan, tapi bagaimana data itu dijaga, digunakan, dan memberi manfaat bagi konsumen. Prinsip data governance harus sejalan dengan nilai kemanusiaan, transparansi, keadilan, dan kepercayaan. Dalam kerangka Marketing 5.0, data seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, bukan sekadar instrumen untuk mengejar profit.

Lebih jauh lagi, Kotler memperkenalkan konsep fusion of human intuition and machine intelligence, perpaduan antara intuisi manusia dan kecerdasan mesin. Mesin membantu manusia dalam hal kecepatan dan akurasi, sedangkan manusia memberikan makna, konteks, dan nilai etika. Kolaborasi inilah yang membedakan pemasaran berbasis data yang canggih dari pemasaran yang benar-benar bermakna.

Dari Warung ke Ponsel
Baca Juga

Dari Warung ke Ponsel: Legalitas Sudah 80 Persen, tetapi Mengapa UMKM Bogor Belum Piawai Berjualan Digital?

Opini saya, masa depan pemasaran bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki data, melainkan siapa yang paling bijak menggunakannya. Data memang mampu menebak perilaku, tetapi hanya empati yang bisa menyentuh hati. Tanpa empati, pesan pemasaran hanya akan terdengar seperti notifikasi dingin yang lewat di layar gawai. Sebaliknya, ketika data dipadukan dengan pemahaman manusia, pemasaran bisa menjadi jembatan yang menghubungkan nilai, emosi, dan kepercayaan.

Kotler mengingatkan kita bahwa Marketing 5.0 sejatinya adalah tentang “technology for humanity.” Artinya, di tengah laju teknologi yang serba cepat, tujuan akhirnya tetap satu: menjadikan manusia sebagai pusat. Karena pada akhirnya, kepercayaanlah yang diinginkan bukan algoritma yang menjadi mata uang paling berharga dalam dunia pemasaran.

Ali Wafab *Ali Wafan Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN Pontianak yang tertarik pada isu pemasaran digital, perilaku konsumen, dan transformasi teknologi dalam bisnis.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-pemasaran-tak-lagi-soal-insting-tapi-soal-data-dan-empati/87405/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.27 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Pemasaran Bisnis
  • #Pemasaran Digital

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Pilihan Editor

  1. 1 Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
  2. 2

    Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. 3

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  4. 4

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  5. 5

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.