Oleh: Mina Octaviana
“Dulu, saya takut kalau tidak belajar. Sekarang, saya justru takut untuk memulai.”
Kalimat itu sempat terdengar aneh bagi saya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang sejak kecil terbiasa belajar, mengejar nilai, dan berusaha meraih prestasi justru merasa berat ketika harus membuka buku dan memulai sesuatu?
Belakangan saya menyadari bahwa jawabannya mungkin berkaitan dengan satu sifat yang selama ini sering dianggap sebagai sesuatu yang positif: perfeksionisme.
Sejak sekolah dasar, saya terbiasa menjadi juara kelas. Pada awalnya, pencapaian itu tentu menyenangkan. Ada rasa bangga ketika melihat hasil belajar dan mengetahui bahwa usaha yang saya lakukan memberikan hasil.
Namun, setelah berhasil menjadi juara untuk pertama kalinya, perlahan muncul tuntutan baru dari dalam diri saya sendiri: saya harus mempertahankannya. Saya harus menjadi juara lagi, lalu mempertahankannya pada semester-semester berikutnya.
Saya tidak benar-benar tahu apakah saat itu saya sedang mencari validasi atau hanya takut mengecewakan orang lain. Namun, semakin lama, prestasi yang awalnya memberikan kebahagiaan berubah menjadi sesuatu yang seolah wajib dipertahankan.
Padahal, orang tua saya sendiri tidak pernah benar-benar menuntut saya untuk selalu menjadi juara.
Ketika Standar Tinggi Berubah Menjadi Tekanan
Dalam psikologi, pola seperti ini dapat berkaitan dengan perfeksionisme. Tim Medis Siloam Hospitals (2025) menjelaskan bahwa seseorang dengan kecenderungan perfeksionis dapat menetapkan standar yang sangat tinggi terhadap hasil pekerjaannya serta memberi perhatian besar terhadap penilaian orang lain.
Perfeksionisme pun tidak selalu muncul akibat tekanan dari luar, seperti tuntutan keluarga atau lingkungan. Dalam beberapa kondisi, standar tersebut justru tumbuh dari tuntutan yang dibuat seseorang terhadap dirinya sendiri.
Hal itulah yang saya rasakan.
Kebiasaan tersebut terus terbawa hingga SMA, ketika saya memasuki lingkungan yang jauh lebih kompetitif. Saya bertemu dengan banyak orang yang sama-sama memiliki ambisi dan kemampuan akademik yang baik.
Untuk pertama kalinya, saya menyadari bahwa menjadi salah satu siswa terbaik di suatu lingkungan tidak otomatis membuat saya menjadi yang terbaik ketika berada di lingkungan yang berbeda.
Alih-alih membuat saya lebih santai, kesadaran tersebut justru menimbulkan ketakutan untuk tertinggal. Saya semakin rajin belajar, tetapi perlahan tujuan belajar saya berubah.
Saya tidak lagi belajar semata-mata karena ingin berkembang. Saya juga belajar karena ingin mempertahankan identitas sebagai seseorang yang berprestasi.
Hingga akhirnya, saya diterima di universitas yang memang sejak awal saya inginkan.
Seharusnya pencapaian tersebut membuat saya bisa sedikit merasa lega. Salah satu target besar dalam hidup saya sudah tercapai.
Namun ternyata, setelah satu target selesai, muncul banyak target baru.
Saya ingin mempersiapkan materi kuliah, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, belajar bahasa Mandarin dan Jerman, mengikuti organisasi, memperoleh sertifikat, mengembangkan soft skill, hingga mulai menabung.
Masalahnya, saya ingin melakukan semuanya sekaligus.
Banyak Target, tetapi Sulit Memulai
Kemudian satu hari berlalu tanpa belajar.
Saya berkata kepada diri sendiri, “Besok saja. Biar lebih terorganisir.”
Besok datang, tetapi tidak banyak yang berubah. Saya kembali menunda. Hari berganti menjadi minggu, lalu bulan, sementara sebagian target yang telah saya buat masih berada dalam daftar rencana.
Saya mulai menyadari bahwa persoalannya mungkin bukan sekadar rasa malas.
Fenomena menunda pekerjaan dikenal sebagai prokrastinasi. Tim Medis Siloam Hospitals (2025) menjelaskan bahwa perilaku menunda pekerjaan dapat berkaitan dengan berbagai faktor, salah satunya kecenderungan perfeksionis.
Seseorang bisa begitu sibuk mempersiapkan rencana yang dianggap sempurna sehingga menjadi frustrasi ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dilakukan justru terus tertunda.
Saya mulai melihat pola yang sama pada diri sendiri.
Semakin tinggi standar yang saya buat dan semakin banyak hal yang ingin saya selesaikan dalam waktu bersamaan, justru semakin sulit bagi saya menentukan langkah pertama.
Di balik penundaan itu, ternyata ada ketakutan lain yang lebih dalam.
Bagaimana jika saya sudah belajar begitu keras, tetapi hasilnya tetap biasa saja?
Bagaimana jika kemampuan saya sebenarnya tidak sehebat yang selama ini saya bayangkan?
Takut Gagal Sebelum Mencoba
Pertanyaan seperti itu berkaitan dengan konsep fear of failure atau ketakutan terhadap kegagalan.
Conroy, Kaye, dan Fifer (2007) membahas hubungan kognitif antara ketakutan akan kegagalan dan perfeksionisme. Ketika seseorang menetapkan standar tinggi terhadap dirinya sendiri sekaligus sangat mengkhawatirkan kemungkinan gagal, memulai sebuah pekerjaan dapat terasa jauh lebih berat.
Perasaan tersebut semakin kuat ketika saya mulai membandingkan diri dengan orang-orang di lingkungan universitas.
Saya bertemu mahasiswa dengan latar belakang, kemampuan, pengalaman organisasi, prestasi, dan pencapaian yang berbeda-beda.
Tanpa disadari, saya sering hanya melihat hasil akhir yang mereka miliki.
Saya melihat seseorang yang fasih berbahasa asing, tetapi tidak melihat berapa lama ia belajar. Saya melihat seseorang aktif berorganisasi, tetapi tidak mengetahui proses panjang di balik kemampuannya. Saya melihat pencapaian orang lain tanpa melihat kegagalan, kebingungan, dan latihan yang mungkin mereka alami sebelumnya.
Dari situ saya mulai memahami bahwa perfeksionisme, prokrastinasi, dan ketakutan akan kegagalan dapat membentuk sebuah lingkaran.
Standar yang terlalu tinggi menimbulkan ketakutan untuk gagal. Ketakutan itu membuat seseorang menunda untuk memulai. Ketika pekerjaan semakin tertunda, tekanan menjadi semakin besar. Pada akhirnya, tuntutan untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna pun terasa semakin kuat.
Belajar Tidak Menghakimi Diri Sendiri
Perubahan mulai muncul ketika saya bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya saya belajar untuk apa?”
Pertanyaan sederhana itu membuat saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya sering menghubungkan kemampuan dan prestasi dengan nilai diri saya sendiri.
Seolah-olah saya baru layak merasa cukup apabila terus menghasilkan sesuatu, mendapatkan nilai bagus, atau mencapai target tertentu.
Salah satu konsep yang kemudian membantu saya melihat persoalan ini dari sudut pandang berbeda adalah self-compassion atau welas diri.
Tansri dan Witarso (2025) menjelaskan bahwa welas diri berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tidak menghakimi dirinya sendiri secara berlebihan ketika menghadapi kegagalan ataupun kelemahan.
Bagi saya, self-compassion bukan berarti berhenti memiliki ambisi. Bukan pula alasan untuk bermalas-malasan atau mengabaikan tanggung jawab.
Sebaliknya, saya memaknainya sebagai kemampuan untuk tetap berusaha tanpa terus-menerus menghukum diri sendiri apabila hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.
Saya masih mempunyai banyak target.
Saya masih ingin memperbaiki kemampuan bahasa Inggris, mempelajari bahasa Mandarin dan Jerman, mengembangkan soft skill, mengikuti organisasi, dan terus mempelajari berbagai hal baru.
Bedanya, sekarang saya mulai memahami bahwa semuanya tidak harus terjadi dalam waktu bersamaan.
Saya mulai menerima bahwa setiap orang mempunyai kapasitas, kesempatan, proses, dan waktunya masing-masing.
Menerima hal tersebut bukan berarti kehilangan ambisi. Bagi saya, justru berarti berhenti memperlakukan seluruh ambisi sebagai daftar pekerjaan yang harus diselesaikan sekaligus.
Memulai Tidak Harus Langsung Sempurna
Dulu, saya takut tidak belajar karena takut tertinggal.
Sekarang, saya mulai memahami bahwa belajar dan berkembang tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar.
Memulai tidak berarti saya harus langsung menjadi hebat.
Kadang-kadang, memulai hanya berarti membuka satu halaman buku. Menyelesaikan satu tugas. Menghafal beberapa kosakata. Membaca satu materi. Kemudian, jika hari ini belum selesai, saya masih bisa melanjutkannya besok.
Tidak semuanya harus diselesaikan hari ini.
Saya juga mulai memahami bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh seberapa sempurna seseorang memulai, tetapi oleh kesediaannya untuk terus berjalan meskipun langkah pertama masih jauh dari sempurna.
Pada akhirnya, memahami alasan psikologis di balik kebiasaan menunda menjadi salah satu langkah bagi saya untuk berdamai dengan diri sendiri.
Mungkin saya belum sepenuhnya terbebas dari perfeksionisme. Sesekali keinginan untuk melakukan semuanya dengan sempurna masih muncul.
Namun sekarang saya belajar satu hal: lebih baik memulai dengan sesuatu yang belum sempurna daripada terus menunggu keadaan sempurna yang mungkin tidak pernah datang.
Penulis adalah mahasiswa Manajemen Perkantoran Digital Universitas Airlangga.
Referensi
Conroy, D. E., Kaye, M. P., & Fifer, A. M. (2007). Cognitive Links Between Fear of Failure and Perfectionism. Journal of Rational-Emotive & Cognitive-Behavior Therapy, 25(4), 237–253.
Tansri, A. V., & Witarso, L. S. (2025). Welas Diri Menghadapi Perasaan Takut Akan Kegagalan. Buletin KPIN, 11(41).
Tim Medis Siloam Hospitals. (2025, 21 Oktober). Perfeksionis, Kenali Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya. Siloam Hospitals.
Tim Medis Siloam Hospitals. (2025, 10 Oktober). Mengenal Prokrastinasi, Perilaku Ketika Menunda Pekerjaan. Siloam Hospitals.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda