Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Ketika Rasa Bersalah Dihadapi, Menyerah Bukan Pilihan

Ketika Rasa Bersalah Dihadapi, Menyerah Bukan Pilihan

Penulis:
  • Raraseptinia Nur Garinda

Afiliasi: Mahasiswa S2 Magister Psikologi Sains Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Editor: Danang Purnama
07 Oktober 2026, 00.54 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Warm Mother Child Moment at Work

“Mama, kapan pulang?”
“Mama hari ini pulang terlambat lagi?”
“Aku mau ditemani Mama.”

Ungkapan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seorang ibu yang bekerja, pertanyaan dari anak dapat menghadirkan pergulatan emosi yang tidak ringan.

IKLAN

Menjadi ibu sekaligus pekerja bukan hanya persoalan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Di balik aktivitas sehari-hari, ada perjuangan untuk mengelola energi, pikiran, tanggung jawab, bahkan rasa bersalah ketika salah satu peran terasa tidak dapat dijalankan secara maksimal.

Ketika Peran sebagai Ibu dan Pekerja Bertemu

Dalam kehidupan sehari-hari, urusan pekerjaan dan keluarga tidak selalu dapat dipisahkan dengan tegas. Persoalan di tempat kerja dapat terbawa hingga ke rumah. Sebaliknya, kondisi keluarga juga dapat memengaruhi konsentrasi seseorang ketika bekerja.

Bayangkan seorang ibu sedang mengikuti rapat penting, kemudian mendapatkan kabar bahwa anaknya sakit. Dalam situasi lain, saat sedang mendampingi anak bermain di rumah, tiba-tiba muncul permintaan untuk menyelesaikan laporan pekerjaan.

Situasi semacam ini dapat memunculkan konflik dalam diri seorang ibu yang dikenal sebagai work-family conflict, yaitu kondisi ketika tuntutan dari pekerjaan dan keluarga saling berbenturan.

Work-family conflict dapat memberikan tekanan kepada ibu bekerja dan berdampak pada kesejahteraan psikologisnya. Manalu dan Simarmata (2026) menunjukkan bahwa semakin tinggi konflik antara pekerjaan dan keluarga yang dialami, semakin rendah pula kesejahteraan yang dirasakan.

Dalam kondisi tersebut, dukungan keluarga maupun lingkungan kerja menjadi faktor eksternal yang penting. Dukungan tersebut dapat membantu ibu menghadapi berbagai tuntutan sehingga lebih mudah mencapai keseimbangan dalam menjalankan setiap peran.

Keseimbangan bukan berarti seorang ibu harus mampu melakukan seluruh tanggung jawab secara sempurna. Keseimbangan justru berkaitan dengan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi, menentukan prioritas, serta menerima bahwa tidak semua hal dapat diselesaikan secara bersamaan.

Ketika Konflik Berlangsung Terus-Menerus

Menjadi seorang ibu merupakan perjalanan yang penuh tanggung jawab. Ketika seorang ibu juga bekerja, tanggung jawab tersebut menjadi semakin kompleks.

Tuntutan peran ganda membuat pekerjaan dan kehidupan keluarga seolah saling menarik waktu, tenaga, serta perhatian. Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, ibu dapat mengalami kesulitan membagi pikiran dan energi antara kehidupan karier dengan rumah tangga.

Dari sinilah rasa bersalah dapat muncul. Dalam kajian psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai work-family guilt.

Work-family guilt muncul ketika seseorang merasa belum mampu menjalankan tanggung jawab secara maksimal pada salah satu atau beberapa peran yang dimilikinya. Seorang ibu, misalnya, dapat merasa bersalah karena harus bekerja ketika anak membutuhkan pendampingan. Sebaliknya, ia juga dapat merasa bersalah ketika urusan keluarga menyebabkan pekerjaannya tidak terselesaikan sesuai harapan.

Penelitian Borelli dkk. (2017) menunjukkan bahwa ibu cenderung mengalami work-family guilt lebih tinggi dibandingkan ayah.

Dalam konteks sosial, perempuan juga sering ditempatkan sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab utama dalam pengasuhan anak. Keberhasilan seorang perempuan bahkan tidak jarang dinilai berdasarkan kemampuannya mengasuh anak dan mengelola rumah tangga, meskipun ia juga memiliki pekerjaan dan karier.

Pada saat yang sama, kebutuhan ekonomi keluarga dapat menuntut perempuan untuk ikut bekerja dan memberikan kontribusi finansial. Akibatnya, ibu bekerja berada dalam situasi yang menuntutnya memberikan energi besar pada dua lingkungan sekaligus.

Mencapai Keseimbangan yang Diharapkan

Dukungan dari keluarga dan tempat kerja tentu penting. Namun, ibu bekerja juga membutuhkan kekuatan yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Salah satunya adalah resiliensi.

IKLAN

Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk bertahan, menyesuaikan diri, serta bangkit ketika menghadapi situasi sulit atau tidak menyenangkan.

Dias dkk. (2026) menemukan bahwa konflik antara pekerjaan dan keluarga dapat menurunkan kesejahteraan psikologis, meningkatkan stres pengasuhan, serta berkaitan dengan munculnya kecemasan dan depresi pada ibu bekerja.

Ketika konflik tersebut berkembang menjadi rasa bersalah yang mendalam, resiliensi dapat berperan sebagai sebuah “perisai” psikologis.

Ibu dengan resiliensi yang baik akan lebih mampu memahami situasi secara proporsional. Ia tidak terus-menerus menyalahkan dirinya ketika tidak dapat memenuhi semua tuntutan secara bersamaan.

Resiliensi juga membantu seorang ibu melihat pekerjaannya dari perspektif yang lebih luas. Bekerja tidak selalu berarti mengurangi perhatian terhadap keluarga. Pekerjaan juga dapat dipandang sebagai bentuk kontribusi terhadap kesejahteraan dan masa depan keluarga.

Tetap Percaya Keadaan Bisa Menjadi Lebih Baik

Resiliensi bukan satu-satunya kekuatan psikologis yang diperlukan. Optimisme juga berperan dalam membantu ibu bekerja menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Optimisme memberikan harapan bahwa kondisi sulit tidak akan berlangsung selamanya dan masih terdapat peluang untuk memperbaiki keadaan.

Carver, Scheier, dan Segerstrom (2010) menjelaskan bahwa individu yang optimistis cenderung memiliki kesejahteraan yang lebih baik ketika menghadapi kondisi sulit. Mereka juga lebih terdorong untuk mencari cara dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Bagi ibu bekerja, optimisme dapat membantu mempertahankan keyakinan bahwa berbagai tuntutan pekerjaan dan keluarga masih dapat dikelola secara bertahap.

Mungkin tidak setiap hari akan berjalan sempurna. Ada saat ketika pekerjaan membutuhkan lebih banyak perhatian. Pada waktu lain, keluarga menjadi prioritas utama.

Kemampuan menerima dinamika tersebut merupakan bagian penting dari proses mencapai keseimbangan.

Rasa Bersalah Bukan Berarti Gagal

Rasa bersalah merupakan pengalaman yang cukup sering dialami oleh ibu bekerja. Perasaan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh norma sosial dan berbagai ekspektasi yang dilekatkan kepada perempuan.

Karena itu, munculnya rasa bersalah tidak serta-merta menjadi bukti bahwa seorang ibu telah gagal menjalankan perannya.

Ketika ibu bekerja memiliki resiliensi dan optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan, ia akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola tuntutan pekerjaan dan keluarga.

Kondisi tersebut akan semakin kuat apabila didukung oleh pasangan, keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sosial yang memahami kompleksitas peran seorang ibu bekerja.

Pada akhirnya, keseimbangan tidak berarti melakukan semuanya dengan sempurna. Keseimbangan adalah tentang bagaimana seseorang mampu beradaptasi, menerima keterbatasan, menentukan prioritas, dan tetap melanjutkan kehidupan ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Rasa bersalah boleh hadir. Namun, menyerah bukanlah satu-satunya pilihan.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-rasa-bersalah-dihadapi-menyerah-bukan-pilihan/98039/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.36 WITA

  • #ibu bekerja
  • #keseimbangan hidup
  • #optimisme
  • #psikologi keluarga
  • #rasa bersalah
  • #resiliensi
  • #work-family conflict

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.