Dua Kenyataan yang Berbeda
Dalam sebuah keluarga, dua kenyataan bisa berjalan bersamaan. Orang tua merasa telah berusaha bersikap adil dengan memberikan sesuatu sesuai kebutuhan masing-masing anak. Namun, pada saat yang sama, salah satu anak dapat tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya selalu mendapatkan lebih sedikit dibanding saudara-saudaranya.
Kedua perasaan itu bisa sama-sama nyata.
Perbedaannya terletak pada cara memandang keadilan. Orang tua cenderung menggunakan logika equity, yakni memberikan sesuatu berdasarkan kebutuhan. Sementara anak sering kali melihatnya melalui prinsip equality, yaitu menganggap adil berarti setiap orang memperoleh perlakuan yang sama.
Dari perbedaan cara pandang inilah anggapan tentang “pilih kasih” dalam keluarga kerap muncul.
Perspektif Orang Tua: Memberi Sesuai Kebutuhan
Bagi banyak orang tua, memperlakukan semua anak dengan cara yang benar-benar sama justru belum tentu dianggap adil. Sebab, setiap anak memiliki kebutuhan, kondisi, dan tahap kehidupan yang berbeda.
Anak yang sering sakit, misalnya, tentu membutuhkan biaya kesehatan yang lebih besar. Anak yang sedang kuliah mungkin masih membutuhkan dukungan finansial dibanding saudara yang sudah bekerja. Begitu pula anak yang sedang menghadapi masalah emosional bisa membutuhkan lebih banyak waktu dan perhatian dari orang tuanya.
Dalam kajian psikologi keluarga dikenal istilah differential parenting, yaitu ketika orang tua memberikan perlakuan yang berbeda kepada masing-masing anak.
Perbedaan perlakuan tersebut tidak selalu berarti diskriminasi. Dalam banyak kasus, orang tua merasa bahwa tindakan mereka justru merupakan bentuk keadilan karena menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan setiap anak.
Masalahnya, apa yang dianggap adil oleh orang tua belum tentu dirasakan adil oleh anak.
Perspektif Anak: “Mengapa Dia Selalu Mendapat Lebih?”
Seorang anak tidak selalu mengetahui alasan di balik keputusan orang tuanya.
Yang terlihat olehnya bisa sangat sederhana: kakaknya mendapatkan uang lebih banyak, adiknya lebih sering dipuji, atau saudara lainnya memperoleh aturan yang lebih longgar.
Dari sinilah perbandingan muncul.
Dalam psikologi keluarga, persepsi terhadap perbedaan perlakuan orang tua sering dibahas melalui konsep Perceived Differential Treatment (PDT). Artinya, dampak yang dirasakan anak tidak hanya ditentukan oleh apa yang sebenarnya dilakukan orang tua, tetapi juga bagaimana anak menafsirkan perlakuan tersebut.
Orang tua mungkin memiliki alasan yang masuk akal. Namun, apabila alasan itu tidak dipahami anak, perbedaan perlakuan dapat diterjemahkan sebagai ketidakadilan atau bahkan tanda bahwa orang tua lebih menyayangi saudara yang lain.
Perasaan semacam ini tidak selalu berhenti pada masa kanak-kanak. Dalam kondisi tertentu, persepsi diperlakukan tidak adil dapat memengaruhi harga diri, memicu persaingan antarsaudara atau sibling rivalry, serta membuat hubungan keluarga menjadi renggang hingga anak tumbuh dewasa.
Niat Orang Tua dan Dampak yang Dirasakan Anak
Inilah bagian yang membuat persoalan pilih kasih dalam keluarga tidak sederhana.
Orang tua menilai tindakannya berdasarkan niat. Anak merasakannya berdasarkan dampak.
Orang tua dapat berkata, “Saya memberikan lebih banyak karena kakakmu sedang membutuhkan.”
Namun bagi anak, yang terlihat mungkin hanya, “Kakak selalu mendapatkan lebih banyak.”
Orang tua melihat keseluruhan kondisi keluarga, kebutuhan setiap anak, dan konsekuensi jangka panjang. Sebaliknya, anak lebih sering memahami keadaan melalui pengalaman yang terjadi langsung di hadapannya.
Karena itu, satu tindakan yang sama dapat menghasilkan dua penafsiran yang sangat berbeda.
Sejumlah penelitian mengenai hubungan orang tua dan anak, termasuk kajian Jill Suitor dan Karl Pillemer tentang dinamika keluarga, menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan terhadap anak merupakan fenomena yang dapat muncul dalam hubungan keluarga. Persepsi anak terhadap favoritisme tersebut juga menjadi bagian penting dalam memahami kualitas hubungan orang tua dan anak maupun hubungan antarsaudara.
Artinya, persoalan sebenarnya bukan hanya apakah orang tua memiliki anak favorit atau tidak, tetapi juga bagaimana setiap anak memahami perlakuan yang diterimanya.
Adil Tidak Selalu Berarti Sama
Dalam keluarga, keadilan memang tidak selalu berarti membagi segala sesuatu dalam jumlah yang identik.
Jika seorang anak membutuhkan biaya kesehatan lebih besar, tentu tidak masuk akal apabila orang tua harus memberikan jumlah uang yang sama kepada semua anak hanya demi terlihat setara.
Namun, perbedaan perlakuan juga membutuhkan penjelasan.
Anak yang tidak mengetahui alasan di balik keputusan orang tua dapat mengisi kekosongan informasi tersebut dengan penafsirannya sendiri.
Ia mungkin berpikir dirinya kurang disayang, kurang dianggap, atau tidak sepenting saudara lainnya.
Karena itu, keadilan dalam keluarga bukan hanya soal apa yang diberikan, tetapi juga bagaimana orang tua menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Komunikasi menjadi salah satu kunci untuk menjembatani perbedaan perspektif antara orang tua dan anak.
Orang tua dapat menjelaskan mengapa seorang anak mendapatkan perhatian atau bantuan lebih besar pada waktu tertentu. Penjelasan sederhana dapat membantu anak memahami bahwa perlakuan yang berbeda tidak selalu berarti kasih sayang yang berbeda.
Di sisi lain, orang tua juga perlu memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaannya.
Ketika seorang anak berkata, “Aku merasa Mama atau Papa lebih sayang kepada kakak,” respons pertama tidak harus berupa bantahan.
Kalimat seperti, “Aku paham kenapa kamu bisa merasa seperti itu,” dapat menjadi awal percakapan yang jauh lebih sehat.
Memvalidasi perasaan anak bukan berarti mengakui bahwa tuduhannya pasti benar. Validasi berarti mengakui bahwa pengalaman emosional yang dirasakan anak benar-benar ada dan layak didengar.
Dialog semacam ini sebaiknya tidak hanya muncul ketika konflik sudah membesar. Percakapan mengenai kebutuhan, perhatian, dan hubungan antarsaudara dapat dilakukan secara rutin.
Hal yang sama juga berlaku ketika anak telah dewasa.
Luka karena merasa dibedakan pada masa kecil terkadang tetap terbawa hingga bertahun-tahun kemudian. Jika memungkinkan, membicarakannya secara terbuka dengan orang tua atau saudara dapat membantu setiap pihak memahami kejadian masa lalu dari sudut pandang yang berbeda.
Pada Akhirnya, Kasih Sayang Juga Perlu Terlihat
Tidak semua perlakuan berbeda merupakan pilih kasih. Orang tua memang perlu menyesuaikan perhatian dan dukungan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Namun, niat baik saja tidak selalu cukup.
Anak tidak dapat membaca pikiran orang tuanya. Ia memahami kasih sayang melalui pengalaman yang dirasakan, perkataan yang didengar, dan perlakuan yang diterimanya setiap hari.
Karena itu, tantangan bagi orang tua bukan sekadar bersikap adil, melainkan juga memastikan bahwa alasan di balik perbedaan perlakuan dapat dipahami oleh anak.
Sebab dalam keluarga, adil memang tidak selalu berarti sama. Namun ketika sesuatu harus berbeda, komunikasi menjadi cara agar perbedaan itu tidak diterjemahkan sebagai kurangnya kasih sayang.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda