JurnalPost.com - Konflik yang sering terjadi di Indonesia biasanya disebabkan oleh keberagaman budaya yang ada di Indonesia itu sendiri. Pemerintah dan bagian pertahanan dan keamanan tidak pernah berusaha untuk mencari penyebab masalah yang menjadi akar terjadinya konflik dan memecahkannya. Semua berfikiran dingin untuk menghentikan konflik dan mencari pelaku yang memprovokasi terjadinya konflik.
Konflik merupakan masalah sosial yang hadir dalam berinteraksi sosial, sehingga konflik bersifat dapat terjadi kapan saja setiap ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, masyarakat merupakan wadah konflik secara langsung. Hal-hal yang mendorong terjadinya konflik adalah adanya perbedaan kepentingan sosial.
Di dalam berinteraksi sosial tidak ada satupun manusia yang memiliki persamaan kategoris, baik dari unsur agama, kepentingan, tujuan dan sebagainya. Dari setiap konflik ada beberapa diantaranya yang dapat diselesaikan, akan tetapi ada juga yang tidak dapat diselesaikan sehingga menimbulkan tindakan kekerasan bahkan dapat menjadi tindakan atau perbuatan yang mengacu kepada kriminalitas. Kekerasan merupakan masalah tidak dapat di atasinya akar konflik sehingga menimbulkan kekerasan dari bentuk terkecil hingga terbesar.
Di zaman ini, umat beragama dihadapkan pada permasalahan munculnya benturan-benturan atau konflik diantara mereka. Konflik antar umat beragama di Indonesia merupakan perbuatan yang sangat memprihatinkan. Contoh dari konflik tersebut adalah fanatisme agama yang berlebihan, mayoritas agama di atas minoritas, dan diskriminasi dimana-mana.
Di dalam konflik antar agama itu sendiri muncul tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama, emosi psikis yang tidak dapat dikendalikan sehingga dengan mudahnya mereka bertindak amoral di luar ajaran agama. Jika dikaitkan antara ajaran agama dengan perubahan tingkah laku umat yang fanatisme seperti membakar tempat ibadah lain, membunuh selain agama mereka merupakan hal yang sangat bertentangan. Sementara itu seluruh agama di Indonesia mengajarkan betapa pentingnya kedamaian. Kalaupun terjadi konflik antar umat beragama, maka bukanlah ajaran agamanya yang salah namun umat itu sendirilah yang salah pemahaman dalam memahami ajaran agama.
Bangsa Indonesia, memiliki keragaman budaya yang sangat majemuk, maka untuk menghindari pertentangan dan konflik antar umat beragama telah diatur dalam undang-undang dasar 1945, dan undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang HAM, yang melandasi aturan tentang agama dan kepercayaan terhadap tuhan yang maha esa, tujuan bidang agama dan kepercayaan terhadap tuhan yang maha esa, ternyata arahnya masih memiliki kendala berupa tantangan yang harus dihadapi antara lain;
1. Belum maksimalnya potensi berbagai organisasi dan lembaga kemasyarakatan keagamaan dalam masyarakat. 2. Masih perlu meningakatkan kualitas pendidikan dann pengetahuan keagamaan sebagai tanggung jawab bersama. 3. Masih terdapatnya kesulitan dalam membina aliran agama agar tidak bersifat tertutup. 4. Kurang mampunya masyarakat untuk lebih memahami, mendalami, dan mengasihi serta mengamalkan ajaran nilai-nilai agama.
Permasalahan tersebut harus dihadapi bersama antar pemeluk agama untuk menciptakan kerukunan dalam keragaman agama, sehingga dapat saling menghormati konflik beragama merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dan harus diatasi secara seksama.
Indonesia dengan semboyan bhinneka tunggal ika mengajarkan betapa pentingnya persatuan di atas perbedaan. Bhinneka tunggal ika merupakan pedoman keragaman budaya yang ada di Indonesia untuk mencapai kedamaian bangsa dan negara.
Menurut widyaiswara ahmad subkhan, konflik agama selalu terjadi di dalam kegiatan sosial. “konflik terlahir dari ketidaksiapan atas perbedaan yang ada di masyarakat. Karena kurang adanya sikap toleransi dan membuka diri dengan komunitas yang mempunyai keyakinan dan nilai-nilainya Atau karena kurangnya pendidikan dalam hal-hal pemahaman nilai-nilai agama.
Untuk mengatasi konflik ini, perlu dikembangkan atau dikelola melalui lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan berperan sebagai sarana untuk masyarakat belajar menghargai perbedaan dan menjadikannya sebagai energi positif.
Penanaman nilai-nilai Pancasila yaitu sila ke satu juga dapat mengatasi konflik beragama yang terjadi di Indonesia. Sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa” mengajarkan masyarakat untuk berpegang teguh terhadap agamanya dan tidak membeda-bedakan keragaman agama yang ada. Toleransi antar sesama, menghormati agama lain, dan sebagainya merupakan contoh penerapan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara.
Masyarakat Indonesia seharusnya lebih memaksimalkan perbedaan budaya sebagai salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Kekayaan yang ada di Indonesia ini merupakan warisan dari nenek moyang Indonesia terdahulu dan masyarakat Indonesia wajib untuk melestarikannya.
Oleh: Muhammad Rafianza Althaf
Komentar 1
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda