Oleh: Khaila Putri Safira Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia
JurnalPost.com - Bagi sebagian besar mahasiswa di Indonesia, skripsi merupakan tahap akhir yang harus diselesaikan sebelum memperoleh gelar sarjana. Idealnya, skripsi menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, melakukan penelitian secara mandiri, serta menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama kuliah. Namun, kenyataan yang dihadapi banyak mahasiswa tidak selalu seindah tujuan tersebut. Proses penyusunan skripsi justru sering berubah menjadi salah satu fase yang paling melelahkan, baik secara akademik maupun psikologis. Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari tuntutan menyelesaikan penelitian, proses bimbingan yang tidak selalu berjalan lancar, batas waktu kelulusan, hingga tekanan dari keluarga dan lingkungan untuk segera lulus.
Berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini bukan sekadar cerita yang sering beredar di media sosial. Sejumlah studi yang terbit pada 2025–2026 menemukan bahwa tingkat stres akademik mahasiswa tingkat akhir berada pada angka yang cukup tinggi.
Salah satu penelitian mencatat bahwa hampir sembilan dari sepuluh mahasiswa menganggap tugas dan tuntutan akademik sebagai sumber stres terbesar selama kuliah. Angka tersebut bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan tekanan ekonomi maupun persoalan hubungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa penyusunan skripsi bukan hanya menguras kemampuan berpikir, tetapi juga energi emosional dan fisik mahasiswa.
Penelitian lain pada mahasiswa kedokteran menemukan lebih dari separuh responden mengalami burnout akademik dalam kategori berat ketika mengerjakan skripsi. Sementara itu, survei terhadap ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia juga menunjukkan lebih dari setengah responden mengalami stres, bahkan sebagian berada pada kategori berat. Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir bukan lagi kasus yang terjadi di satu atau dua kampus saja. Fenomena ini muncul di berbagai daerah dengan pola yang hampir sama, sehingga menunjukkan adanya persoalan yang lebih luas daripada sekadar kemampuan individu dalam menghadapi tekanan.
Tekanan tersebut juga tidak terlepas dari sistem pendidikan tinggi yang berlaku. Mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah yang baik, tetapi juga harus menyelesaikannya dalam batas waktu tertentu. Regulasi mengenai masa studi memang bertujuan menjaga efektivitas proses pendidikan, tetapi dalam praktiknya sering kali menimbulkan tekanan tambahan. Banyak mahasiswa merasa dikejar target kelulusan karena khawatir melewati batas masa studi, kehilangan kesempatan memperoleh predikat cumlaude, atau bahkan menghadapi risiko drop out apabila progres akademiknya dianggap tidak memadai. Situasi ini membuat proses penelitian yang seharusnya membutuhkan waktu dan ketelitian berubah menjadi perlombaan mengejar tenggat.
Mahasiswa sedang menyusun skripsi di depan laptop (Sumber: Unsplash)
Di sisi lain, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi yang sama. Ada yang harus bekerja sambil kuliah, membantu keluarga, menghadapi masalah kesehatan, atau mengalami kesulitan ekonomi. Ketika berbagai tekanan tersebut bertemu dengan tuntutan akademik yang tinggi, tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya mengalami kelelahan mental.
Fenomena maraknya jasa joki skripsi juga dapat dilihat dari sudut pandang ini. Tentu saja penggunaan jasa joki merupakan pelanggaran etika akademik dan tidak dapat dibenarkan. Namun, jika hanya menyalahkan mahasiswa tanpa melihat akar persoalannya, penyelesaian yang dihasilkan akan bersifat sementara.
Beberapa laporan media menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa yang menggunakan jasa joki sebenarnya telah berusaha menyelesaikan skripsinya sendiri. Akan tetapi, kombinasi antara tekanan akademik, pekerjaan, kondisi mental yang menurun, hingga proses bimbingan yang berlarut-larut membuat mereka memilih jalan pintas yang akhirnya merugikan diri sendiri. Artinya, fenomena joki skripsi bukan hanya persoalan integritas akademik, tetapi juga dapat menjadi sinyal bahwa ada sistem yang belum mampu memberikan dukungan yang memadai kepada mahasiswa.
Sayangnya, dukungan tersebut masih sering menjadi bagian yang terlupakan. Di banyak perguruan tinggi, proses bimbingan lebih berfokus pada isi penelitian, metode, dan teknis penulisan. Padahal, mahasiswa juga membutuhkan dukungan psikologis agar mampu menghadapi tekanan selama proses penyusunan skripsi.
Layanan konseling memang tersedia di beberapa kampus, tetapi sering kali baru dimanfaatkan ketika kondisi mahasiswa sudah berada pada titik krisis. Padahal, upaya pencegahan melalui pendampingan sejak awal jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah masalah menjadi berat.
Perguruan tinggi perlu mulai melihat bahwa keberhasilan mahasiswa bukan hanya diukur dari seberapa cepat mereka lulus, tetapi juga bagaimana proses tersebut dijalani secara sehat. Integrasi layanan kesehatan mental, peningkatan kualitas bimbingan akademik, serta evaluasi terhadap kebijakan yang berpotensi menambah tekanan dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih manusiawi.
Pada akhirnya, skripsi memang akan selalu menjadi tantangan. Namun, tantangan tersebut seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertumbuh, bukan menjadi sumber tekanan yang mengorbankan kesehatan mental mereka.
Sudah saatnya pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada angka kelulusan, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan tahap akhir pendidikannya. Sebab, menghasilkan lulusan yang sehat secara mental sama pentingnya dengan menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda