“Your maximum is someone’s minimum.”
Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing bagi pengguna media sosial. Sekilas terdengar seperti motivasi untuk terus berkembang. Namun, di balik pesan penyemangat itu, tersimpan tekanan yang membuat seseorang merasa bahwa apa pun yang telah dilakukan tidak pernah benar-benar cukup.
Di era ketika produktivitas menjadi ukuran keberhasilan, kesibukan seolah berubah menjadi sesuatu yang patut dibanggakan. Bangun sebelum matahari terbit, berolahraga, bekerja sepanjang hari, mengikuti berbagai kegiatan, hingga menyelesaikan tugas menjelang tengah malam dianggap sebagai gambaran kehidupan ideal.
Media sosial turut memperkuat pandangan tersebut. Pencapaian akademik, pengalaman organisasi, sertifikat pelatihan, hingga perjalanan karier dipamerkan sebagai bukti bahwa seseorang telah memanfaatkan waktunya dengan baik.
Tidak mengherankan jika sebagian orang mulai mengukur keberhasilan berdasarkan pencapaian orang lain. Profil LinkedIn yang penuh pengalaman, deretan penghargaan, atau unggahan aktivitas produktif di Instagram menjadi standar tidak tertulis tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalani.
Namun, ada pertanyaan yang jarang mendapat ruang di tengah perlombaan tersebut: apakah hidup memang harus selalu diisi dengan kesibukan? Mengapa kelelahan justru sering dianggap sebagai bukti bahwa seseorang sedang berada di jalan menuju kesuksesan?
Fenomena ini dikenal sebagai hustle culture. Untuk memahami mengapa budaya tersebut begitu kuat memengaruhi kehidupan modern, pemikiran dua filsuf, Jean-Paul Sartre dan Byung-Chul Han, menawarkan sudut pandang yang menarik.
Hustle Culture dan Anggapan bahwa Istirahat adalah Kelemahan
Hustle culture merujuk pada budaya yang menempatkan kerja keras secara berlebihan sebagai jalan utama menuju kesuksesan, kekayaan, dan pengakuan sosial.
Dalam kajian Metris dan rekan-rekannya (2024), fenomena ini dibahas sebagai kecenderungan yang mendorong individu untuk terus bekerja dan mengejar keberhasilan tanpa henti.
Budaya tersebut cukup dekat dengan kehidupan generasi muda, termasuk Generasi Z, yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi mengenai pencapaian orang lain.
Masalah muncul ketika produktivitas tidak lagi dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan, melainkan berubah menjadi ukuran harga diri.
Seseorang dapat merasa bersalah ketika beristirahat, meskipun tubuh dan pikirannya membutuhkan pemulihan. Waktu luang dianggap sebagai kesempatan yang terbuang, sementara kegagalan dipersepsikan sebagai tanda bahwa usaha yang dilakukan belum cukup keras.
Cara berpikir demikian juga mendapat pengaruh dari narasi sejumlah tokoh bisnis yang mengagungkan jam kerja panjang.
Pada 2018, Elon Musk, pemimpin Tesla dan SpaceX, pernah menyampaikan pandangan bahwa tidak ada orang yang mengubah dunia hanya dengan bekerja 40 jam dalam seminggu. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan perdebatan mengenai hubungan antara jam kerja, produktivitas, dan kesehatan pekerja.
Meski kerja keras merupakan bagian penting dari pencapaian, bekerja lebih lama tidak selalu berarti menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Lalu, mengapa manusia begitu mudah terjebak dalam budaya yang terus menuntut produktivitas?
Jean-Paul Sartre: Ketika Manusia Bersembunyi di Balik Kesibukan
Filsuf eksistensialis asal Prancis, Jean-Paul Sartre, menawarkan cara membaca fenomena ini melalui konsep bad faith atau mauvaise foi yang dibahas dalam bukunya, Being and Nothingness.
Secara sederhana, bad faith merupakan keadaan ketika seseorang menipu dirinya sendiri dengan mengingkari kebebasan serta tanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya.
Dalam pemikiran Sartre, manusia tidak dilahirkan dengan identitas dan tujuan hidup yang sepenuhnya telah ditentukan. Manusia membentuk dirinya melalui tindakan dan keputusan yang diambil sepanjang kehidupan.
Persoalannya, kebebasan tersebut tidak selalu terasa menyenangkan. Kebebasan justru dapat menimbulkan kecemasan karena setiap keputusan membawa konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Di sinilah hustle culture dapat dibaca sebagai salah satu bentuk pelarian.
Ketika seseorang mengatakan bahwa dirinya harus terus bekerja karena semua orang melakukan hal serupa, ia mungkin sedang menjadikan tekanan sosial sebagai alasan untuk tidak mempertanyakan keputusan hidupnya.
Kalimat seperti "semua orang juga sibuk" atau "kalau ingin berhasil, jangan pernah berhenti" perlahan diterima sebagai kenyataan yang tidak dapat ditawar.
Padahal, menurut pendekatan eksistensialisme Sartre, manusia perlu menyadari bahwa dirinya tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan bagaimana ia menjalani kehidupan, meskipun pilihan tersebut berlangsung dalam berbagai keterbatasan.
Sartre terkenal dengan gagasannya bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Kebebasan bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab yang tidak mudah dihindari.
Dalam konteks hustle culture, pemikiran tersebut mengajak kita bertanya: apakah kesibukan yang dijalani benar-benar merupakan pilihan sadar, atau sekadar upaya memenuhi gambaran keberhasilan yang diciptakan orang lain?
Byung-Chul Han: Masyarakat yang Mengeksploitasi Dirinya Sendiri
Jika Sartre membantu memahami persoalan dari sisi kebebasan individu, filsuf kontemporer Byung-Chul Han mengajak kita melihat bagaimana masyarakat modern membentuk tuntutan untuk terus berprestasi.
Melalui bukunya The Burnout Society, Han menggambarkan pergeseran dari disciplinary society atau masyarakat disipliner menuju achievement society, yakni masyarakat pencapaian.
Dalam masyarakat disipliner, individu dikendalikan melalui aturan, larangan, dan kewajiban yang berasal dari luar dirinya.
Sebaliknya, dalam masyarakat pencapaian, manusia didorong untuk percaya bahwa dirinya mampu melakukan apa saja selama memiliki kemauan dan bekerja cukup keras.
Ungkapan seperti "kamu pasti bisa", "jangan cepat puas", atau "terus tingkatkan kemampuan" terdengar positif. Namun, ketika pesan tersebut hadir tanpa batas, motivasi dapat berubah menjadi tekanan psikologis.
Han melihat bahwa manusia modern tidak selalu membutuhkan pihak lain untuk memaksanya bekerja. Individu dapat mengeksploitasi dirinya sendiri karena merasa harus terus menghasilkan sesuatu.
Dalam situasi tersebut, seseorang menjadi pihak yang memberi tuntutan sekaligus pihak yang menanggung akibatnya.
Ia merasa bebas menentukan aktivitasnya, tetapi pada saat bersamaan kesulitan berhenti karena takut tertinggal.
Han mengaitkan kondisi ini dengan apa yang disebutnya the violence of positivity, yaitu bentuk tekanan yang lahir dari dorongan untuk terus mampu, terus berkembang, dan terus melampaui batas.
Tekanan semacam ini tidak selalu terlihat seperti paksaan. Bahkan, sering kali hadir melalui bahasa motivasi yang dianggap baik dan membangun.
Ketika berlangsung terus-menerus, budaya tersebut dapat berkaitan dengan kelelahan berkepanjangan, tekanan emosional, dan risiko burnout.
Melalui pemikirannya, Han mengingatkan bahwa persoalan masyarakat modern bukan semata-mata kurangnya kebebasan, tetapi juga hilangnya kemampuan untuk berhenti dari tuntutan produktivitas.
Dua Filsuf, Satu Persoalan tentang Makna Kebebasan
Pemikiran Sartre dan Han berasal dari pendekatan filosofis yang berbeda. Namun, keduanya dapat digunakan untuk membaca persoalan yang sama.
Sartre menekankan pentingnya kesadaran individu atas kebebasan dan tanggung jawabnya. Sementara itu, Han menunjukkan bahwa lingkungan sosial dan ekonomi dapat membentuk cara seseorang memahami kebebasan tersebut.
Melalui Sartre, kita diajak menyadari bahwa kesibukan tidak seharusnya diterima begitu saja sebagai takdir.
Melalui Han, kita memahami bahwa keputusan untuk terus bekerja tidak selalu lahir dari keinginan pribadi yang sepenuhnya bebas. Ada tuntutan sosial, persaingan ekonomi, serta standar keberhasilan yang turut memengaruhinya.
Kedua pandangan tersebut memberikan pelajaran bahwa keluar dari hustle culture tidak cukup hanya dengan meminta seseorang beristirahat.
Dibutuhkan kesadaran individu untuk menetapkan batas, sekaligus lingkungan yang tidak menjadikan kesibukan berlebihan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Bagaimanapun, tidak semua orang memiliki keleluasaan yang sama untuk mengurangi pekerjaan. Bagi sebagian orang, bekerja lebih lama merupakan kebutuhan ekonomi, bukan sekadar pilihan gaya hidup.
Karena itu, kritik terhadap hustle culture juga perlu diarahkan pada sistem yang membuat manusia merasa harus terus produktif agar tetap dianggap berharga.
Menemukan Kembali Makna Istirahat melalui Tradisi Ngariung
Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, mungkin sudah saatnya kita kembali melihat kebiasaan sederhana yang dahulu menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Dalam budaya Sunda, dikenal tradisi ngariung, yakni kebiasaan berkumpul bersama keluarga, tetangga, atau orang-orang terdekat untuk berbincang dan menghabiskan waktu bersama.
Kegiatan tersebut tidak harus menghasilkan sesuatu yang dapat dihitung secara ekonomi. Tidak ada target pencapaian, tuntutan produktivitas, ataupun kewajiban membuktikan keberhasilan.
Orang-orang cukup hadir, berbagi cerita, mendengarkan, dan menikmati kebersamaan.
Jika dibaca melalui pemikiran Han, ngariung dapat menjadi contoh kemampuan untuk mengambil jeda dan tidak terus-menerus terikat pada tuntutan menghasilkan sesuatu.
Sementara itu, dari sudut pandang Sartre, keputusan untuk berhenti sejenak dapat dimaknai sebagai tindakan sadar dalam menentukan bagaimana seseorang ingin menjalani kehidupannya.
Tradisi sederhana seperti ini mengingatkan bahwa hidup memiliki dimensi yang lebih luas daripada pekerjaan, prestasi, dan pengakuan sosial.
Ada hubungan antarmanusia, kebersamaan, ketenangan, dan pengalaman sehari-hari yang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi angka produktivitas.
Tentu saja, ngariung bukan solusi tunggal bagi persoalan struktural dunia kerja. Namun, kebiasaan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan ruang untuk hadir sebagai dirinya sendiri, bukan hanya sebagai individu yang terus dituntut berprestasi.
Kesuksesan Tidak Harus Dibayar dengan Kelelahan
Pada akhirnya, bekerja keras bukanlah sesuatu yang keliru. Memiliki ambisi, menetapkan tujuan besar, dan berusaha memperbaiki kehidupan merupakan bagian dari proses pertumbuhan manusia.
Persoalan muncul ketika kerja keras berubah menjadi kewajiban tanpa batas, sementara istirahat dipandang sebagai kegagalan.
Kita perlu membedakan antara produktivitas yang memberikan makna dan kesibukan yang hanya dipertahankan karena takut tertinggal.
Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak setiap waktu luang harus diisi kegiatan yang menghasilkan keuntungan. Tidak pula setiap perjalanan hidup harus dibandingkan dengan keberhasilan orang lain.
Sartre mengingatkan pentingnya menyadari pilihan hidup, sedangkan Han mengajak kita mempertanyakan tekanan yang membuat manusia terus mengejar pencapaian.
Keduanya membuka ruang untuk memahami bahwa keberhasilan tidak memiliki satu definisi yang berlaku bagi semua orang.
Barangkali, hidup yang baik bukanlah kehidupan dengan jadwal paling padat, daftar prestasi paling panjang, atau waktu istirahat paling sedikit.
Hidup yang baik mungkin justru dimulai ketika kita mampu menentukan apa yang benar-benar berarti, mengetahui kapan harus berusaha, dan memahami kapan saatnya berhenti.
Sebab, manusia tidak harus selalu lelah untuk membuktikan bahwa dirinya berharga.
Referensi
Sartre, J.-P. (2021). Being and Nothingness. Terjemahan Sarah Richmond. Washington Square Press. Karya asli diterbitkan pada 1943.
Han, B.-C. (2015). The Burnout Society. Terjemahan Erik Butler. Stanford University Press. Karya asli diterbitkan pada 2010.
Metris, D., Sulaeman, M., & Wakhidah, E. N. (2024). Hustle Culture: Mencermati Tren Perilaku yang Mendorong Kesuksesan Tanpa Henti.
Aditya, R. (2026). Masyarakat Lelah dan Hustle Culture. Lingkar Studi Filsafat Discourse.
Smith, D. (2018). Artikel mengenai pernyataan Elon Musk tentang jam kerja 40 jam per minggu. Business Insider.
Tentang Penulis
Fathiyah Nisrina Nur Syaban merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia. Ia memiliki minat dalam kegiatan menulis, khususnya untuk menyampaikan pemikiran, pengalaman, dan refleksi mengenai kehidupan manusia serta fenomena sosial.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda