JurnalPost.com - Harga daging sapi menjadi isu krusial yang bergulir setiap tahun, terutama sekali ketika bulan Ramadan hampir tiba. Seolah tiada habisnya isu ini menggelinding bak bola panas yang finishingnya dioper sana sini tanpa menghasilkan gol seperti keinginan konsumen yaitu bisa membeli harga daging sapi dengan harga murah dan terjangkau. Bukan hanya konsumen yang meradang, pedagang sejabodetabek pun naik pitam sehingga mereka memutuskan mogok berjualan beberapa waktu lalu. Dilematis memang, disatu pihak konsumen ingin harga daging sapi dibawah 100 ribu sementara dipihak pedagang harus menjual daging sapi diatas 130 ribu jika masih ingin untung.
Lalu pertanyaan nya apa penyebab kisruh harga daging sapi? Pemicunya tentu bermacam-macam salah satunya adalah kita terlalu tergantung Impor dari Negara lain sebut saja Australia. Dalam situasi normal tidak menjadi persolan namun ketika pandemic covid 19 melanda ini menjadi persoalan besar, faktanya Australia mengurangi pasokan daging sapinya ke Indonesia bahkan sebelumnya tahun 2018 australia telah kehilangan 600 ribu ekor sapi yang disebabkan banjir bandang yang melanda Negara kangguru tersebut, sudah barang tentu mengurangi pasokan daging sapi ke Indonesia. Kedua panjangnya tata niaga daging sapi menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit yang akhirnya berpengaruh pada harga jual daging sapi.
Menyangkut impor sapi, kondisi ini terkesan agak aneh dimana pemerintah mengimpor sapi bakalan kemudian harus digemukkan lagi dan dipotong di Indonesia setelah itu daging sapi yang dihasilkan dapat dijual langsung kepedagang grosir berskala besar atau tengkulak yang membantu rumah potong hewan (RPH ) untuk mendapatkan pembeli. Tahapan selanjutnya, menjual daging sapi ke pedagang grosir berskala kecil. Merekalah yang menjual daging sapi ke pedagang eceran di Pasar tradional atau supermarket sebelum sampai ketangan konsumen
Kondisi yang sama ada ditingkat pedesaan diamana peternak sapi menjual sapi melalui perantara agen atau yang dikenal dengan sebutan blantik, oleh agen dijual ke tukang potong atau pedagang tradisional yang ada dipasar, baru sampai ketangan konsumen. Tidak sedikit biaya tambahan akbat konsekwensi tata niaga daging sapi seperti diatas. Efeknya penduduk Indonesia jarang makan daging karena daging mahal, faktanya konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia umumnya rendah sekali hanya berkisar 2 kg per kapita pertahun
Tidak hanya sampai disitu ketika harga daging sapi mahal konsumen lebih meilih makanan substitusi penganti daging sapi seperti daging ayam atau ikan begitu pula dengan pedagang makanan yang menggunakan daging sapi sebagai bahan utamanaya terpaksa mengurangi porsi dagangannya atau menggantinya dengan bahan lain yang lebih murah. Terkait dengan kisruh harga daging ini Sebenarnya pemerintah tidak tinggal diam. Sudah banyak langkah dan upaya untuk mengatasi kisruh harga daging sapi misalnya dengan mengeluarkan Perpres no 71 tahun 2015 tentang penetapan dan penyimpanan barang kebutuhan pokok dan barang penting serta beberapa peraturan perundang-undangan lainnya. Namun Hasilnya masih nihil.
Bertitik tolak dari Hal diatas Kisruh harga daging sapi perlu penyelesaian dengan berbagai pendekatan, bukan hanya tugas pemerintah semata tapi semua pihak yang terkait dengan komoditi ini perlu menyamakan langkah. Secara umum ada 5 upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kisruh harga daging sapi, yaitu Pertama, melakukan pengaturan tata niaga daging sapi. langkah awalnya adalah menetapkan harga perdagangan resmi pemerintah dengan aturan main yang ketat yang menjadi dasar control impor olah pemerintah. Kemudian memperpendek rantai distribusi daging sapi dengan membangun banyak RPH _RPH disentra sapi dengan harapan peternak dapat langsung memotong sapi di RPH tersebut tanpa melewati agen, blantik, tengkulak atau sejenisnya. Walaupun terkesan remeh seorang agen bisa mendapatkan 300 ribu sampai 500 ribu dari jasanya mempertemukan peternak dengan pembeli. Cukup lumayan bukan?
Kedua ditingkat peternak agar dapat meningkatkan skala usaha sapi potongnya, kaitannya adalah usaha sapi potong seringkali gagal karena skala usaha ternak tidak ekonomis alias ternak yang dipelihara sedikit sehingga usaha sapi potong yang semula ditujukan untuk bisnis berubah fungsi menjadi tabungan yang dapat dijual sewaktu-waktu ketika kebutuhan mendesak. Ambil contoh satu orang peternak memelihara 5 ekor sapi, dengan harga pokok bakalan 10 juta setelah 6 bulan dipelihara akan mendapatkan keuntungan kotor 6 juta per ekor sapi setelah dikurangi seluruh biaya operasinal ( tenaga kerja, pakan dan obat-obatan ) keuntungan bersih diperkirakan tinggal 3 juta per ekor sapi. Hitung saja jika 6 bulan dipelihara keuntungan hanya mencapai 15 juta perlima ekor sapi dengan perhitungan pendapatan lebih kurang dua setengah juta rupiah per bulan. Bandingkan kan jika seorang peternak memelihara 30 ekor sapi tentu keuntungan akan menjadi 90 Juta per 6 bulan dengan pendapatan bersih perbulan 15 Juta rupiah. Kondisi ini tentu menarik minat peternak sapi untuk beternak yang berimbas pada naiknya populasi yang nantinya memberi sumbangsih pada penyelesain kisruh harga daging sapi.
Ketiga, menjamin keberlangsungan usaha sapi potong, untuk menjamin keberlangsungan usaha sapi potong perlu ditunjang oleh beberapa hal diantaranya ada hasil sampingan selain income utama dari sapi itu sendiri. Misalnya peternak yang mengolah pupuk organic dari kotoran sapi yang dipeliharanya memiliki potensi keberhasilan lebih tinggi dibanding peternak yang membuang kotoran sapinya secara percuma. Hal ini bisa diterangkan sebagai berikut, satu ekor sapi menghasilkan 4 kg kotoran perhari jika ada 20 ekor sapi maka satu hari akan diperoleh kotoran sapi 80 kg dan bila dijadikan kompos dengan harga jual seribu rupiah per kilo gram akan diperoleh pendapatan sebesar 80 ribu rupiah perhari yang setara untuk menggaji satu orang karyawan.
dengan pola ini keberlangsungan usaha sapi potong lebih terjamin karena masih bisa mendapatkan uang lebih dari kompos disaat harga daging sapi anjlok. keempat, Perlu penerapan teknologi tepat guna dalam budidaya sapi potong. Ini mendesak dilakukan mengingat beberapa kondisi misalnya biaya tenaga kerja yang mahal, pasokan pakan yang berkurang, pengetahuan penggemukan sapi peternak yang masih minim. Sehubungan dengan hal ini ambil contoh kasus pada tenaga kerja di jepang, seorang nenek-nenek mampu memelihara 60 ekor sapi dengan menggunakan teknologi robotic.. bandingkan di Indonesia seorang tenaga kerja laki – laki perkasa hanya sanggup memelihara 8 ekor sapi potong dewasa. Ini patut menjadi renungan kita bersama
Kelima adanya ketersediaan data. Ini menjadi penting karena selama ini pemerintah tidak memiliki acuan data resmi ketersediaan pasokan sehingga sering menjadi celah permainan bagi mafia impor untuk mengklaim ketiadaan pasokan dan meluasnya praktek kartel seperti yang merajalela sekarang ini. Semoga dengan kelima upaya ini kisruh daging sapi berangsur-angsur bisa diminimalisir dengan harapan harga daging sapi terjangkau oleh konsumen dan menguntungkan bagi pedagang dan peternak. Semoga !
( Ade Candra, S.Pt , penyuluh pertanian PNS pada dinas pertanian kabupaten Pasaman, Sumatra barat
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda