Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. ARMY BTS vs Hegemoni Industri K-Pop

ARMY BTS vs Hegemoni Industri K-Pop

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
28 Juni 2025, 17.56 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
BTS Grup K-Pop
BTS Grup K-Pop (Foto: Weverse) Oleh: Ana Nahdiah Irfani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya JurnalPost.com - ARMY yang dikenal sebagai suatu nama dari sebuah fandom penggemar dari BTS, salah satu grup K-Pop yang mendunia. Sering kali ARMY BTS dicap sebagai fandom toxic, konsumtif, fanatik. Hal itu sudah menjadi stigma umum pada budaya fandom terutama K-Pop, mencerminkan hegemoni budaya dalam industri entertainment/hiburan yang sengaja dibuat untuk merendahkan penggemar terutama perempuan muda yang dianggap sebagai kelompok irasional. Namun narasi ini runtuh Ketika ARMY membuktikan hal yang sebaliknya. Terlihat pada saat salah satu anggota BTS yang bernama Suga secara diam-diam menyumbangkan uang sebesar 5 miliar won (Rp59,66 miliar) setara dengan 3.62 USD ke Severance Hospital di Seoul untuk membantu membangun pusat perawatan (Min Yoon-gi Treatment Center) guna mendukung anak-anak penyandang autisme 23/6 (Shim, 2025), selang 24 jam ARMY yang terinspirasi oleh aksi Suga menyumbangkan sebesar 200 juta won atau sekitar Rp2,4 miliar (Heo, 2025; Shim, 2025). Ini bukan pertama kalinya mereka mengikuti jejak BTS dalam berdonasi. Sebelumnya BTS juga berdonasi pada gerakan Black Lives Matter sebesar 1 juta USD dan dalam kurun waktu 24 jam juga ARMY menyumbangkan dengan jumlah yang sama (Rolli, 2020). Tidak hanya ARMY Korea dan ARMY global saja, ARMY Indonesia juga berhasil menggalang donasi untuk Palestina sebesar 1 miliar rupiah (Elmira, 2023). Aksi-aksi ini bukanlah sekadar perbuatan amal, melainkan perlawanan terhadap logika kapitalis yang mendominasi industri K-Pop. Hegemoni Industri K-Pop dalam Mengontrol Penggemar Menurut Antonio Gramsci dalam buku Zamroni, hegemoni merupakan bentuk penguasaan terhadap kelompok tertentu oleh kelompok dominan tanpa paksaan tetapi dengan membentuk nilai-nilai yang telah dianggap wajar oleh Masyarakat (Zamroni, 2022). Berdasarkan penelitian Al Amroshy tentang komunitas Korea Lovers Surabaya (KLOSS) dan penelitian Fernando tentang Korean Wave, hegemoni dalam industri K-Pop ini bekerja melalui berbagai macam cara: 1. Konsumerisme sebagai sebuah kewajiban Industri sering kali menjadikan penggemar sebagai mesin uang dengan mendorong mereka untuk melakukan pembelian merchandise, album, tiket konser dan lain-lain sebagai bukti cinta pada idol/artis yang mereka sukai. 2 . Stigma negatif gender Penggemar perempuan sengaja dicap heboh, histeris, dan fanatik oleh media yang menjadi strategi untuk melemahkan pengaruh sosial mereka sehingga mereka dianggap mudah untuk didominasi. 3. Penerapan nilai-nilai budaya Korea Penggemar mewajarkan dan mulai menerapkan nilai-nilai budaya Korea yang berlaku pada idola/artis yang mereka sukai melalui terpaan konten-konten yang diberikan oleh pihak industri entertainment (Al Amroshy, 2014; Fernando, 2025). Donasi ARMY sebagai Salah Satu Senjata Melawan Hegemoni aksi donasi Aksi Donasi ARMY Indonesia untuk Palestina (Foto: Dokumentasi Pribadi) Gerakan filantropi (kedermawanan) ARMY mampu membalik logika hegemoni yaitu dengan mengubah perilaku konsumtif menjadi aksi sosial dan menghancurkan stigma negatif yang melekat pada mereka. Tidak semua dana yang dimiliki penggemar harus mengalir ke perusahaan hiburan, mereka dapat mengalihkan dana-dana tersebut ke isu-isu kemanusiaan. Dan membuktikan kepada orang-orang yang bukan bagian dari penggemar bahwa mereka tidak sepenuhnya menjadi penggemar yang konsumtif tanpa memperdulikan isu di sekitar mereka. ARMY juga menolak posisi pasif sebagai korban hegemoni dengan mengubah ulang jati dirinya sebagai agen perubahan beretika yang menjalankan nilai-nilai BTS tanpa kehilangan identitas mereka masing-masing secara individu. Mereka juga memanfaatkan platform media sosial mereka untuk membantu orang lain baik di Instagram, Twitter/X, Facebook, maupun Weverse. Refleksi Kritis: Munculnya Permasalahan Baru ARMY memang sudah melampaui ekspektasi, donasi mereka tidak hanya sekadar ikut-ikutan idola mereka saja. Mereka menjadikan aksi mereka sebagai Gerakan mandiri berkelanjutan seperti pada proyek ulang tahun anggota BTS, pembentukan akun-akun bermanfaat seperti ARMY Help Center yang bersedia mendengarkan cerita para ARMY dengan melibatkan para ahli psikologi, dan berkolaborasi dengan LSM di sekitar mereka. Tapi di balik kehebatan aksi mereka, sayangnya menciptakan permasalahan baru di antara para penggemar itu sendiri maupun bagi orang awam seperti:
  1. Perusahaan memanfaatkan kebaikan ARMY sebagai alat promosi tidak langsung yang justru menguntungkan sistem kapitalis dan sering dianggap bahwa aksi gerakan ARMY hanya untuk pamer saja padahal tujuan awal ARMY dengan tulus membantu.
  2. Tekanan psikologis bagi penggemar yang tidak ikut berdonasi karena tidak memiliki dana yang cukup yang memunculkan kecemasan bahwa mereka merasa tidak cukup untuk melabeli diri sebagai penggemar, sama seperti tekanan pada saat mereka tidak sanggup embeli merchandise ataupun album idolanya.
  3. Perpecahan antar penggemar karena isu yang dianggap berisiko seperti isu politik karena ARMY itu global dan terdiri dari berbagai macam usia sehingga tidak semuanya memahami isu-isu politik.
Munculnya permasalahan baru ini dapat diatasi dengan berbagai macam cara seperti memberikan penegasan dan meluruskan anggapan bahwa aksi gerakan ARMY bukanlah promosi perusahaan dan mencantumkan bukti penyaluran dana donasi tersebut secara rutin di media sosial, memberitahukan bahwa aksi ini bukanlah paksaan dan bagi yang tidak berdonasi itu tidak apa cantumkan tulisan “Bantu sesuai kemampuan, bahkan doa pun sangat berarti” karena sejatinya keuangan setiap manusia itu berbeda-beda, dan untuk menghindari perpecahan antar penggemar maka hindari berdebat diruang publik lebih baik diskusi tertutup bersama dengan para ahlinya. Langkah Terbebas dari Hegemoni Industri K-Pop Selain berdonasi, ARMY dan para fandom K-Pop yang lainnya bisa melawan hegemoni industri K-Pop dengan hal-hal berikut: Pertama, kurangi konsumerisme dengan menerapkan bahwa kita tidak harus FOMO membeli semua yang ditawarkan oleh perusahaan. Tidak perlu khawatir dan meragukan diri apakah sudah memenuhi syarat sebagai seorang penggemar. Dengan fokus pada streaming lagu di platform resmi, ikut voting awards secara gratis, dan menikmati konten hiburan tanpa wajib membeli merchandise itu menujukkan bahwa dukungan penggemar kepada seorang idola itu tidak harus mahal. Kedua, hancurkan stigma negatif tentang penggemar perempuan melalui bukti konkret. Para penggemar perempuan ini bisa membuat konten yang berhubungan dengak profesinya di dunia kerja dan menunjukkan prestasi mereka yang dapat mematahkan citra buruk para penggemar perempuan. Ketiga, bersikap kritis terhadap nilai-nilai budaya Korea yang diambil. Ambil nilai positif seperti kedisiplinan dan semangat kerja. Dan tinggalkan nilai negatif seperti menggunakan bahasa Korea untuk mengumpat, mengusik privasi idola, mempercayai bahwa media Korea dan netizen Korea itu benar 100%. Referensi: Al Amroshy, A. U. (2014). Hegemoni Budaya Pop Korea pada Komunitas Korea Lovers Surabaya (KLOSS). Paradigma, 2(3). Fernando, J. (2025). Menyelami Hyperreality dalam Globalisasi Budaya: Hegemoni Korean Wave terhadap Konstruksi Sosial Indonesia (2021-2022). Journal of Comprehensive Science (JCS), 4(2). Heo, J. (2025). BTS’s Suga’s ‘5 Billion Won Donation’ Inspires ARMY to Join, Raising 200 Million Won in One Day. StarNews. Diakses pada 28 Juni 2025 dari https://m.starnewskorea.com/global/en/2025062414356954068 Rolli, B. (2020). BTS ARMY Matched The Group’s $1 Million Black Lives Matter Donation, Proving The Positive Power Of Fandoms. Forbes. Diakses pada 28 Juni 2025 dari https://www.forbes.com/sites/bryanrolli/2020/06/08/bts-army-black-lives-matter-1-million-donation/ Shim, S. (2025a). BTS fans join Suga in funding autism treatment center for children. Yonhap News Agency. Diakses pada 28 Juni 2025 dari https://en.yna.co.kr/view/AEN20250624005300315 Shim, S. (2025b). BTS’ Suga donates 5 bln won to support children with autism. Yonhap News Agency. Diakses pada 28 Juni 2025 dari https://en.yna.co.kr/view/AEN20250623003200315

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/army-bts-vs-hegemoni-industri-k-pop/82931/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.36 WITA

  • #Industri
  • #Industri K-Pop

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Pilihan Editor

  1. 1 PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online
  2. 2

    Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  3. 3

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  4. 4

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

  5. 5

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.