Aksi Donasi ARMY Indonesia untuk Palestina (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Gerakan filantropi (kedermawanan) ARMY mampu membalik logika hegemoni yaitu dengan mengubah perilaku konsumtif menjadi aksi sosial dan menghancurkan stigma negatif yang melekat pada mereka. Tidak semua dana yang dimiliki penggemar harus mengalir ke perusahaan hiburan, mereka dapat mengalihkan dana-dana tersebut ke isu-isu kemanusiaan. Dan membuktikan kepada orang-orang yang bukan bagian dari penggemar bahwa mereka tidak sepenuhnya menjadi penggemar yang konsumtif tanpa memperdulikan isu di sekitar mereka. ARMY juga menolak posisi pasif sebagai korban hegemoni dengan mengubah ulang jati dirinya sebagai agen perubahan beretika yang menjalankan nilai-nilai BTS tanpa kehilangan identitas mereka masing-masing secara individu. Mereka juga memanfaatkan platform media sosial mereka untuk membantu orang lain baik di Instagram, Twitter/X, Facebook, maupun Weverse.
Refleksi Kritis: Munculnya Permasalahan Baru
ARMY memang sudah melampaui ekspektasi, donasi mereka tidak hanya sekadar ikut-ikutan idola mereka saja. Mereka menjadikan aksi mereka sebagai Gerakan mandiri berkelanjutan seperti pada proyek ulang tahun anggota BTS, pembentukan akun-akun bermanfaat seperti ARMY Help Center yang bersedia mendengarkan cerita para ARMY dengan melibatkan para ahli psikologi, dan berkolaborasi dengan LSM di sekitar mereka. Tapi di balik kehebatan aksi mereka, sayangnya menciptakan permasalahan baru di antara para penggemar itu sendiri maupun bagi orang awam seperti:
- Perusahaan memanfaatkan kebaikan ARMY sebagai alat promosi tidak langsung yang justru menguntungkan sistem kapitalis dan sering dianggap bahwa aksi gerakan ARMY hanya untuk pamer saja padahal tujuan awal ARMY dengan tulus membantu.
- Tekanan psikologis bagi penggemar yang tidak ikut berdonasi karena tidak memiliki dana yang cukup yang memunculkan kecemasan bahwa mereka merasa tidak cukup untuk melabeli diri sebagai penggemar, sama seperti tekanan pada saat mereka tidak sanggup embeli merchandise ataupun album idolanya.
- Perpecahan antar penggemar karena isu yang dianggap berisiko seperti isu politik karena ARMY itu global dan terdiri dari berbagai macam usia sehingga tidak semuanya memahami isu-isu politik.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda