Surabaya, JurnalPost.com – Tiga bulan setelah workshop pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) digelar, Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Edukasi (PkM-EDU) di Fakultas Teknik dan Sains (FTS) UPN “Veteran” Jawa Timur mulai menunjukkan hasil nyata.
Laboratorium di lingkungan FTS kini menerapkan prosedur pengelolaan limbah B3 yang lebih seragam, mulai dari pemilahan, pewadahan, pelabelan, hingga pencatatan.
Program yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN “Veteran” Jawa Timur ini dilaksanakan oleh tim dosen Teknik Lingkungan dan Teknik Industri, yaitu PS. Ardisty Sitogasa, S.T., M.T., Cindy Aisyah Hakim, S.T., M.T., dan Mega Cattleya Prameswari A. I., S.ST., M.T., dengan melibatkan mahasiswa.
Kegiatan laboratorium di FTS menghasilkan limbah B3 cair sekitar 3,96 liter per hari dan limbah padat sekitar 2,43 kilogram per hari. Limbah tersebut meliputi sisa reagen, pelarut organik, larutan asam dan basa, kemasan bekas bahan kimia, lampu TL, hingga baterai.
Sebelum program dilaksanakan, mekanisme pemilahan, pewadahan, dan pencatatan limbah masih berbeda-beda di setiap laboratorium. Kondisi ini menjadi salah satu alasan pentingnya penerapan standar pengelolaan limbah B3 yang lebih terpadu.
Pemahaman Peserta Workshop Meningkat 18 Persen
Workshop yang diselenggarakan pada 30 Juli 2026 diikuti pimpinan fakultas, dosen, laboran, tenaga kependidikan, asisten laboratorium, serta mahasiswa.
Untuk mengukur dampak kegiatan, peserta mengikuti pre-test sebelum penyampaian materi dan post-test setelah menerima materi serta mengikuti simulasi.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa nilai rata-rata 47 peserta yang mengikuti kedua tes meningkat dari 80,43 menjadi 94,89 atau naik sekitar 18 persen.
Jumlah peserta yang memperoleh nilai sempurna juga bertambah, dari sebelumnya 13 orang menjadi 36 orang. Berdasarkan hasil analisis tim pelaksana, peningkatan tersebut dinyatakan signifikan secara statistik.
Foto: Perbandingan nilai rata-rata pre-test dan post-test peserta workshop pengelolaan limbah B3 di FTS UPN “Veteran” Jawa Timur (n = 47).
Ketua tim pelaksana, PS. Ardisty Sitogasa, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menyeragamkan pemahaman seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan limbah laboratorium.
“Nilai awal peserta sudah cukup baik karena para pengelola laboratorium di kampus sebelumnya telah mendapatkan pengetahuan tentang limbah B3. Workshop ini berperan menyeragamkan pemahaman tersebut, sehingga semua pihak memiliki acuan yang sama dalam pengelolaan limbah B3, didukung minimal SOP yang wajib dimiliki,” ujar Ardisty.
Empat SOP Disahkan dan Diterapkan di Laboratorium
Selain memberikan edukasi, tim pelaksana juga menyusun empat dokumen standar operasional prosedur (SOP) dan manual prosedur.
Dokumen tersebut mencakup pelaksanaan kesehatan dan keselamatan di laboratorium, tanggap darurat, serta pengelolaan dan penyimpanan sementara limbah B3 padat maupun cair.
Keempat dokumen tersebut telah disahkan oleh Dekan FTS pada 21 September 2026 dan menjadi pedoman resmi pengelolaan limbah B3 di tingkat fakultas.
Penerapan awal dilakukan di tiga laboratorium, yaitu Laboratorium PTK, Laboratorium Analisa Pangan, dan Laboratorium Air.

Dalam pelaksanaannya, limbah cair ditampung menggunakan jerigen terpisah berdasarkan karakteristik bahayanya, yakni mudah menyala, korosif asam, korosif basa, dan beracun. Setiap wadah dilengkapi simbol serta label bahaya untuk memudahkan identifikasi.
Sementara itu, pencatatan timbulan limbah dilakukan melalui logbook digital berbasis Microsoft Excel yang dapat menghitung akumulasi limbah secara otomatis.

Sebagai media edukasi berkelanjutan, tim juga menyusun booklet berjudul “Pengelolaan Limbah B3 Laboratorium Kimia Kampus”.
Booklet tersebut memuat panduan mengenai cara mengenali, memilah, mewadahi, memberi label, menyimpan, dan mencatat limbah B3, termasuk langkah tanggap darurat apabila terjadi tumpahan bahan berbahaya.
Booklet ini telah tercatat sebagai ciptaan di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dengan nomor pencatatan 001560574.
Menuju Pengelolaan Laboratorium yang Berkelanjutan
Program PkM-EDU ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan tersebut sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kompetensi sivitas akademika, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengelolaan limbah yang lebih aman dan terdokumentasi.
Ke depan, FTS UPN “Veteran” Jawa Timur menyiapkan rencana minimisasi limbah B3 untuk tahun 2027, antara lain melalui penerapan praktikum skala mikro, pemulihan pelarut, serta penggantian lampu TL dengan lampu LED.
Tim pelaksana berharap sistem pengelolaan limbah B3 yang telah diterapkan tidak hanya berhenti pada tiga laboratorium, tetapi juga dapat diperluas ke seluruh laboratorium dan unit kerja di lingkungan fakultas.
“Harapan dari kegiatan ini adalah sistem tidak hanya diterapkan di tiga laboratorium ini, tetapi juga diperluas ke seluruh laboratorium dan unit kerja di FTS, bahkan bisa direplikasi oleh fakultas lain,” demikian harapan yang disampaikan tim pelaksana.
Melalui penerapan SOP, peningkatan pemahaman pengelola laboratorium, dan penyediaan panduan edukasi, program ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan limbah B3 yang lebih aman, tertib, dan berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda