Laba Bank Jago melonjak lebih dari dua kali lipat, sementara premi MSIG Life tumbuh signifikan meski laba menurun. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa laporan keuangan bank dan perusahaan asuransi memiliki karakter serta “bahasa” yang berbeda.
JAKARTA, JurnalPost.com — Laporan keuangan menjadi salah satu instrumen penting untuk melihat kondisi dan kinerja sebuah perusahaan. Bagi perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), laporan tersebut juga menjadi rujukan investor dalam menilai pertumbuhan bisnis, tingkat risiko, hingga prospek perusahaan.
Pada tahun buku 2025, PT Bank Jago Tbk (ARTO), yang bergerak di sektor perbankan digital, dan PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE), yang menjalankan bisnis asuransi jiwa, sama-sama mencatat pertumbuhan pada aktivitas bisnis utamanya.
Namun, arah laba kedua perusahaan berbeda.
Bank Jago membukukan lonjakan laba bersih, sedangkan MSIG Life mencatat pertumbuhan pendapatan premi tetapi mengalami penurunan laba. Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa meskipun sama-sama berada di industri jasa keuangan, laporan keuangan bank dan perusahaan asuransi tidak dapat dibaca dengan pendekatan yang sepenuhnya sama.
Bank Jago: Laba Naik Lebih dari Dua Kali Lipat
Sepanjang 2025, Bank Jago mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp276 miliar. Angka tersebut meningkat sekitar 115 persen dibandingkan laba tahun 2024 yang sebesar Rp129 miliar.

Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan ekspansi penyaluran kredit dan peningkatan dana yang dihimpun dari nasabah.
Penyaluran kredit Bank Jago mencapai Rp24,3 triliun atau tumbuh sekitar 38 persen dibandingkan Rp17,7 triliun pada tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 38 persen, dari Rp18,8 triliun menjadi Rp25,9 triliun.
Total aset Bank Jago pada 2025 tercatat mencapai Rp36,5 triliun, meningkat sekitar 28 persen dari Rp28,5 triliun pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan bisnis juga terlihat dari jumlah nasabah yang telah mencapai 18,2 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar 14,2 juta merupakan nasabah funding yang menggunakan Aplikasi Jago dan Jago Syariah.
Dari sisi kualitas kredit, Bank Jago membukukan rasio kredit bermasalah bruto atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 0,6 persen. Sementara itu, loan to deposit ratio (LDR) tercatat berada pada level 94 persen.
Direktur Utama Bank Jago Arief Harris sebelumnya menjelaskan bahwa peningkatan jumlah nasabah memiliki hubungan yang kuat dengan pertumbuhan dana pihak ketiga. Semakin luas basis pengguna, semakin besar pula peluang bank meningkatkan penghimpunan dana masyarakat.
MSIG Life: Premi Tumbuh di Tengah Tekanan Industri
Berbeda dari Bank Jago, pertumbuhan bisnis MSIG Life pada 2025 terutama terlihat dari sisi pendapatan premi.
Perusahaan mencatat pendapatan premi sekitar Rp4,45 triliun, meningkat 36,92 persen secara tahunan. Selain itu, perusahaan membukukan hasil investasi sekitar Rp1,01 triliun.
Sepanjang tahun tersebut, MSIG Life membayar klaim bruto sebesar Rp1,16 triliun dan mencatat laba tahun berjalan Rp206,23 miliar.
Meski masih menghasilkan laba, jumlah tersebut turun sekitar 44,52 persen dibandingkan laba pada 2024 yang mencapai Rp371,69 miliar.
Salah satu faktor yang ikut memengaruhi kinerja tersebut adalah kenaikan beban jasa asuransi. Beban tersebut meningkat 35,18 persen menjadi sekitar Rp2,03 triliun.
Kondisi itu menunjukkan bahwa kenaikan premi tidak selalu secara otomatis menghasilkan pertumbuhan laba. Perusahaan asuransi juga harus memperhitungkan kewajiban pembayaran klaim, manfaat kepada pemegang polis, beban akuisisi, biaya operasional, serta hasil investasi.
Total aset MSIG Life pada akhir 2025 tercatat sekitar Rp15,87 triliun.
Kinerja pertumbuhan premi perusahaan juga cukup menarik apabila dibandingkan dengan kondisi industri. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pendapatan premi industri asuransi jiwa hingga September 2025 mengalami penurunan sekitar 2,06 persen secara tahunan menjadi Rp132,85 triliun.
Direktur sekaligus Chief Transformation Officer MSIG Life Ken Terada mengaitkan pertumbuhan bisnis perusahaan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan asuransi serta dukungan penguatan operasional perusahaan.
Angka Kunci Kinerja Tahun 2025
| Indikator | Bank Jago (ARTO) | MSIG Life (LIFE) |
|---|---|---|
| Sektor | Perbankan | Asuransi jiwa/non-perbankan |
| Laba setelah pajak/laba tahun berjalan | Rp276 miliar, naik 115% dari Rp129 miliar | Rp206,23 miliar, turun 44,52% dari Rp371,69 miliar |
| Sumber pertumbuhan utama | DPK Rp25,9 triliun, naik 38%; kredit Rp24,3 triliun, naik 38% | Pendapatan premi Rp4,45 triliun, naik 36,92%; hasil investasi sekitar Rp1,01 triliun |
| Total aset | Rp36,5 triliun, naik 28% | Sekitar Rp15,87 triliun |
| Indikator operasional/kesehatan | NPL gross 0,6%; LDR 94% | Klaim bruto Rp1,16 triliun |
Perbedaan Komponen Utama Laporan Keuangan
| Komponen | Bank Jago (ARTO) | MSIG Life (LIFE) |
|---|---|---|
| Laporan posisi keuangan | Aset utama berupa kredit yang diberikan serta penempatan pada BI dan bank lain. Liabilitas terutama berasal dari dana pihak ketiga berupa giro, tabungan, dan deposito. | Aset banyak berasal dari portofolio investasi seperti obligasi, saham, dan reksa dana. Liabilitas utama mencakup kewajiban kontrak asuransi atau cadangan untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang polis. |
| Laporan laba rugi | Pendapatan terutama berasal dari bunga, pendapatan syariah, dan pendapatan berbasis biaya. Beban mencakup beban bunga, operasional, serta kerugian penurunan nilai atau CKPN. | Pendapatan berkaitan dengan jasa asuransi, premi, serta hasil investasi. Beban antara lain berasal dari jasa asuransi, pembayaran klaim dan manfaat, serta biaya akuisisi dan operasional. |
| Laporan arus kas | Berkaitan dengan penghimpunan simpanan, penyaluran dan pelunasan kredit, serta berbagai aktivitas penempatan dana. | Berkaitan dengan penerimaan dari aktivitas asuransi, pembayaran klaim serta manfaat, dan aktivitas investasi. |
| Laporan perubahan ekuitas | Mencakup modal disetor, tambahan modal atau agio saham, serta saldo laba. | Mencakup modal saham, tambahan modal disetor, saldo laba, serta komponen perubahan nilai investasi yang dicatat dalam ekuitas sesuai standar akuntansi. |
Tiga Perbedaan Utama Laporan Bank dan Perusahaan Asuransi
Perbedaan pertama terletak pada struktur aset dan liabilitas.
Bank berfungsi sebagai lembaga intermediasi yang menghimpun dana masyarakat untuk kemudian disalurkan kembali, salah satunya dalam bentuk kredit. Karena itu, kredit menjadi salah satu komponen penting pada sisi aset, sementara dana pihak ketiga menjadi komponen utama liabilitas.
Perusahaan asuransi memiliki karakter berbeda. Perusahaan menerima risiko dari pemegang polis dengan imbalan premi. Dana tersebut kemudian dikelola, termasuk melalui berbagai instrumen investasi, agar perusahaan mampu memenuhi kewajiban pembayaran manfaat dan klaim pada masa mendatang.
Perbedaan kedua terdapat pada sumber pendapatan dan beban.
Pada perbankan, kemampuan menghasilkan keuntungan antara lain ditentukan oleh pendapatan bunga atau margin dari penyaluran dana, biaya dana yang harus dibayar, pendapatan berbasis komisi, efisiensi operasional, serta biaya risiko kredit.
Sementara itu, kinerja perusahaan asuransi dipengaruhi oleh pendapatan dari kegiatan asuransi, pembayaran klaim dan manfaat, biaya operasional, biaya akuisisi, serta kinerja investasi.
Perbedaan ketiga adalah indikator kesehatan keuangan yang digunakan.
Kinerja bank dapat dianalisis menggunakan indikator seperti NPL untuk melihat kualitas kredit, capital adequacy ratio (CAR) untuk kecukupan modal, net interest margin (NIM) untuk mengukur margin bunga bersih, serta LDR untuk melihat perbandingan kredit dengan dana pihak ketiga.
Pada perusahaan asuransi, salah satu indikator yang banyak diperhatikan adalah risk-based capital (RBC), yang menggambarkan tingkat kecukupan modal perusahaan dalam menghadapi risiko yang muncul dari kegiatan usaha asuransi.
Pesan bagi Investor
Perbedaan laba antara Bank Jago dan MSIG Life tidak dapat digunakan secara langsung untuk menyimpulkan bahwa satu sektor lebih baik dibandingkan sektor lainnya.
Bank dan perusahaan asuransi memiliki model bisnis, struktur neraca, sumber pendapatan, risiko, serta karakter kewajiban yang berbeda.
Bank Jago, misalnya, mencatat laba Rp276 miliar dengan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang kuat. Di sisi lain, MSIG Life berhasil meningkatkan pendapatan premi menjadi Rp4,45 triliun, tetapi kenaikan beban membuat laba perusahaan turun menjadi Rp206,23 miliar.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya membandingkan nominal laba.
Kinerja bank perlu dikaji melalui kualitas kredit, kecukupan modal, likuiditas, margin, dan kemampuan menghimpun serta menyalurkan dana. Sementara perusahaan asuransi perlu dianalisis melalui pertumbuhan bisnis asuransi, pembayaran klaim, hasil investasi, kecukupan modal berbasis risiko, serta kemampuan memenuhi kewajiban kepada pemegang polis.
Pemahaman terhadap karakter laporan keuangan masing-masing sektor dapat membantu investor memperoleh gambaran yang lebih objektif sebelum mengambil keputusan investasi di pasar modal.
Sumber: Laporan keuangan dan pemberitaan mengenai kinerja Bank Jago dan MSIG Life tahun buku 2025 dari Bisnis.com, Kontan, IDX Channel, dan Infobanknews; laporan keuangan MSIG Life per 31 Desember 2025 yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia; serta data industri Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda