Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Cancel Culture: Keadilan atau Sekadar Ikut-ikutan?

Cancel Culture: Keadilan atau Sekadar Ikut-ikutan?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
14 Agustus 2026, 09.51 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Cancel Culture

Penulis: Nayla Arifani Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.

JurnalPost.com - Hari ini dipuja, besok dikecam — begitu cepat nasib seseorang bisa berubah karena satu unggahan. Di tengah gemuruh cancel culture, kita jarang bertanya: apakah kita sedang menegakkan keadilan, atau sekadar ikut-ikutan karena semua orang melakukannya?

IKLAN

Fenomena semacam ini bukan lagi sesuatu yang asing. Hampir setiap saat, media sosial memperlihatkan bagaimana seorang publik figur maupun influencer bisa mendadak menjadi pusat perhatian karena sebuah ucapan, tindakan, atau kontroversi. Apa yang awalnya hanya satu unggahan dapat berkembang menjadi perbincangan luas, memenuhi linimasa, mengundang ribuan komentar, hingga memengaruhi cara publik melihat sosok tersebut.

Peneliti DKV UPI
Baca Juga

Peneliti DKV UPI Kembangkan Model Kemasan Berbasis Budaya untuk Sarung Goyor Pemalang

Sebagai contoh, kasus yang sangat ramai diperbincangkan datang dari seorang influencer bernama Julia Prastini atau lebih dikenal sebagai Jule yang pada tahun 2025 lalu, ia mendapat kecaman setelah kontroversi mengenai kehidupan pribadinya viral di media sosial. Peristiwa tersebut kemudian ramai diperbincangkan hingga memunculkan berbagai komentar, kecaman, serta seruan untuk berhenti memberikan dukungan kepadanya. Kontroversi tersebut bahkan turut memengaruhi kerja samanya dengan sejumlah brand.

Kasus Jule menunjukkan bahwa hukuman sosial di media sosial tidak lagi berhenti pada komentar atau kecaman. Ketika opini publik semakin besar, dampaknya bisa merembet ke kehidupan profesional seseorang. Di titik ini, cancel culture menjadi lebih dari sekadar tren di media sosial. Ia menjadi cara masyarakat memberikan sanksi kepada seseorang yang dianggap telah melewati batas.

Namun, ada hal yang menarik dari fenomena ini. Mengapa begitu banyak orang merasa perlu ikut mengecam? Apakah semuanya benar-benar telah membentuk penilaian sendiri, atau sebagian hanya mengikuti suara yang sudah lebih dulu ramai?

Ketika ribuan orang sudah mengecam seseorang, kita mungkin merasa tidak perlu lagi mencari tahu dari awal. Melihat begitu banyak orang berada di posisi yang sama dapat membuat kita terdorong untuk ikut mengambil sikap. Dalam psikologi sosial, kecenderungan menyesuaikan perilaku atau pendapat dengan kelompok ini dikenal sebagai konformitas.

Saat Hidup
Baca Juga

Saat Hidup Semakin Cepat, Apa yang Kita Dapat?

Bisa jadi, sebagian orang memang memiliki alasan sendiri untuk mengecam. Namun, sebagian lainnya mungkin hanya mengikuti arus yang sudah terbentuk. Di media sosial, menjadi berbeda dari mayoritas terkadang terasa lebih sulit daripada sekadar ikut bersuara.

IKLAN

Persoalannya tidak berhenti pada keinginan untuk mengikuti orang lain. Kita juga punya kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu. Melalui konsep social identity, kita dapat melihat bahwa sebagian dari identitas diri terbentuk melalui keanggotaan kita dalam kelompok sosial. Dalam konteks cancel culture, ikut mengecam seseorang bisa menjadi cara untuk menunjukkan bahwa kita berada di pihak yang dianggap benar. Jadi, yang dipertahankan bukan hanya penilaian kita terhadap orang lain, tetapi juga gambaran tentang siapa diri kita sendiri.

Ketika orang-orang yang sama-sama mengecam berkumpul di satu ruang digital, kemarahan mereka tidak berhenti pada titik awal. Mereka saling membenarkan, saling menguatkan, dan akhirnya bisa menjadi semakin yakin bahwa kecaman mereka memang pantas. Dalam psikologi sosial, kecenderungan sikap kelompok menjadi semakin kuat setelah berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa disebut group polarization.

Dilihat dari sudut pandang lain, René Girard memperkenalkan konsep hasrat mimetik dimana manusia sering kali menginginkan sesuatu karena melihat orang lain menginginkannya. Kita belajar apa yang layak diinginkan, dibenci, bahkan diperjuangkan melalui orang-orang di sekitar kita.

Neil Perry
Baca Juga

Antara keinginan dan keadaan: Konflik eksistensialisme Neil Perry dalam Dead Poets Society

Dalam cancel culture, pola serupa dapat terlihat dalam cara kemarahan menyebar. Seseorang melihat orang lain mengecam seorang publik figur, kemudian ikut mengecam. Ketika kecaman semakin ramai, semakin mudah bagi orang lain untuk menganggap bahwa orang tersebut memang pantas mendapatkan kecaman. Pada akhirnya, kemarahan tidak hanya menyebar, tetapi juga saling memperkuat.

Di sinilah pertanyaan tentang “ikut-ikutan” menjadi menarik. Bisa jadi kita memang memiliki alasan untuk tidak menyukai atau mengkritik seseorang. Namun, seberapa banyak dari sikap tersebut benar-benar merupakan penilaian kita sendiri, dan seberapa banyak yang terbentuk karena kita melihat orang lain melakukan hal yang sama?

Mungkin kita tidak selalu sadar ketika sedang mengikuti arus. Kita merasa sedang memilih, padahal pilihan kita telah dipengaruhi oleh apa yang sedang ramai, siapa yang paling banyak didukung, dan pendapat mana yang paling sering muncul di layar.

Di tengah keramaian itu, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan “siapa yang harus di-cancel?”, melainkan “kenapa aku ikut?”

Jangan-jangan, yang kita sebut sebagai suara hati hanyalah gema dari suara mayoritas.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/cancel-culture-keadilan-atau-sekadar-ikut-ikutan/97052/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.56 WITA

  • #Universitas Pendidikan Indonesia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Pilihan Editor

  1. 1 Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur
  2. 2

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  3. 3

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  4. 4

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  5. 5

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.