DEPOK, JurnalPost.com – Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan mengajak warga Kelurahan Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Cinere, Kota Depok, memanfaatkan daun kelor sebagai bahan pangan bergizi untuk mendukung upaya pencegahan stunting.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kelurahan Pangkalan Jati Baru pada Selasa (3/11/2026) tersebut mengusung tema “Stunting No More: Optimalisasi Pemanfaatan Daun Kelor melalui Edukasi Kesehatan dan Workshop Pembuatan Healthy Snack untuk Mendukung Penurunan Stunting”.
Program ini menggabungkan edukasi kesehatan dengan pelatihan pembuatan snackbar berbahan daun kelor. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami pentingnya pemenuhan gizi keluarga, tetapi juga memperoleh keterampilan mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan yang praktis dan bernilai gizi.
Kegiatan dipimpin oleh apt. Ariska Deffy Anggarany, S.Farm., M.Farm., bersama tim dosen yang terdiri atas apt. Andiri Niza Syarifah, S.Farm., M.Farm.; apt. Prisnu Tirta Nirmala, S.Farm., M.Farm.; apt. Arini Nur Yunia Puspitaningrum Rahmawati, S.Farm., M.Farm.; serta Khrisna Pangeran, M.Sc.
Tim tersebut berasal dari berbagai bidang keilmuan, meliputi farmasi klinis, teknologi farmasi, biologi farmasi, dan kimia farmasi. Kolaborasi lintas disiplin ini memungkinkan kegiatan dilaksanakan secara komprehensif, mulai dari penyampaian materi kesehatan hingga praktik pengolahan pangan dengan memperhatikan aspek mutu dan keamanan produk.
Edukasi Gizi dan Pencegahan Stunting
Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi mengenai stunting, pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta diberikan pemahaman bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan kecukupan makanan, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap kualitas asupan gizi, kesehatan ibu dan anak, kebersihan lingkungan, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Salah satu materi yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah potensi daun kelor (Moringa oleifera) sebagai bahan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memperkaya variasi makanan keluarga.
Daun kelor diketahui mengandung sejumlah zat gizi, termasuk protein, zat besi, kalsium, dan provitamin A. Kandungan tersebut membuat kelor memiliki potensi sebagai bahan tambahan dalam pengolahan makanan bergizi.
Meski demikian, pemanfaatan daun kelor tetap perlu dikombinasikan dengan pola makan bergizi seimbang. Daun kelor bukan satu-satunya solusi untuk mencegah maupun mengatasi stunting, melainkan salah satu pilihan bahan pangan yang dapat mendukung keberagaman konsumsi keluarga.
Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya upaya pencegahan stunting yang dilakukan secara konsisten, terutama pada masa kehamilan dan periode awal kehidupan anak.

Warga Diajak Mengolah Daun Kelor Menjadi Snackbar
Setelah mengikuti sesi edukasi kesehatan, peserta melanjutkan kegiatan dengan praktik pembuatan snackbar berbahan daun kelor.
Workshop ini menjadi bagian penting dari program karena memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal cara mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan yang lebih praktis dan menarik.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan daun kelor sebagai salah satu bahan tambahan dalam pembuatan camilan. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong kreativitas keluarga dalam menyajikan makanan yang lebih beragam.
Selain mengenalkan inovasi pangan, pelatihan juga menekankan pentingnya memperhatikan kebersihan selama proses pengolahan, pemilihan bahan yang aman, serta kualitas produk yang dihasilkan.
Pengolahan daun kelor menjadi snackbar sekaligus menunjukkan bahwa bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk makanan bernilai tambah.

Keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tersebut diharapkan dapat diterapkan kembali oleh peserta di lingkungan keluarga masing-masing.
Namun, pemanfaatan produk sebagai camilan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan gizi, usia, serta keamanan pangan bagi kelompok yang mengonsumsinya.
Libatkan Mahasiswa dan Pemerintah Kelurahan
Program Stunting No More juga menjadi salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Melalui program ini, pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik diupayakan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan literasi kesehatan dan keterampilan pengolahan pangan lokal.
Selain dosen, mahasiswa turut dilibatkan dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari persiapan, penyampaian informasi, pendampingan peserta, dokumentasi, hingga evaluasi program.
Keterlibatan mahasiswa menjadi sarana pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepedulian sosial, serta pengalaman menerapkan ilmu kefarmasian dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Sebagai bagian dari evaluasi, tim pelaksana juga melakukan pengukuran pengetahuan peserta melalui pre-test dan post-test.
Pengukuran tersebut bertujuan memperoleh gambaran mengenai pemahaman peserta sebelum dan setelah mengikuti sesi edukasi. Hasil evaluasi diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kegiatan serupa pada masa mendatang.
Tim pelaksana turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kelurahan Pangkalan Jati Baru, khususnya Lurah M. Reza Tanzila Putra, beserta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan.
Dukungan pemerintah kelurahan dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat, sekaligus memperluas jangkauan edukasi kesehatan di tingkat lingkungan.
Dukung Empat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Selain berfokus pada peningkatan pengetahuan masyarakat, program Stunting No More dirancang untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Setidaknya terdapat empat tujuan yang menjadi fokus kontribusi program ini.
Pertama, SDG 2: Tanpa Kelaparan, melalui peningkatan literasi gizi dan pengenalan bahan pangan lokal bernutrisi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.
Kedua, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui edukasi kesehatan serta penguatan pemahaman masyarakat mengenai langkah promotif dan preventif dalam pencegahan stunting.
Ketiga, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penyelenggaraan edukasi berbasis masyarakat dan pelatihan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui optimalisasi bahan pangan lokal dan pengenalan proses pengolahan makanan yang memperhatikan aspek kualitas serta keamanan.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker dan Program Studi S-1 Farmasi Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta berharap kerja sama dengan masyarakat dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan.
Edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan keluarga tentang gizi, mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal, serta memperkuat keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting.
Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi sederhana berbasis potensi lokal, seperti pengolahan daun kelor menjadi snackbar, dapat menjadi sarana edukasi yang mendekatkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda