Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Dari Rimpang Lokal ke Cafe Jamu: Pengabdian Dosen untuk Masyarakat Usapinonot

Dari Rimpang Lokal ke Cafe Jamu: Pengabdian Dosen untuk Masyarakat Usapinonot

Penulis:
  • MM Endah Mulat Satmalawati, Ludgardis Ledheng, Kanisius Kono, Bernadina Metboki, Yusuf Rumbino, Rizhard Ndolu
Editor: Rafi Adinata
06 Oktober 2026, 14.47 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Cafe Jamu Usapinonot

JurnalPost.com — Aroma kunyit dan temulawak perlahan memenuhi udara ketika irisan rimpang mulai direbus. Uap hangat mengepul dari wadah perebusan, membawa aroma khas tanaman obat yang sejak lama akrab dengan kehidupan masyarakat Timor.

Dari bahan-bahan sederhana yang tumbuh di sekitar rumah dan kebun warga, kini muncul gagasan yang lebih besar: menghadirkan Cafe Jamu Usapinonot sebagai ruang usaha, edukasi, sekaligus pelestarian pengetahuan lokal.

IKLAN

Gagasan tersebut berkembang melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Usapinonot, Kabupaten Timor Tengah Utara. Program ini menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Timor yang diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengolah tanaman obat lokal menjadi produk bernilai tambah.

Program tersebut tidak hanya memperkenalkan produk baru, tetapi juga mempertemukan dua kekuatan yang telah dimiliki masyarakat, yakni pengetahuan tradisional mengenai tanaman obat dan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk membuat proses produksi menjadi lebih efektif.

Harapannya, rimpang yang selama ini tumbuh di sekitar masyarakat tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.

Dari Rimpang Lokal Menjadi Produk Bernilai

Masyarakat Usapinonot telah lama mengenal berbagai tanaman obat seperti kunyit, temulawak, jahe, kunyit putih, dan sereh.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berkembang menjadi usaha yang memberikan nilai ekonomi optimal. Sebagian proses pengolahan masih dilakukan secara manual, kapasitas produksi terbatas, sementara variasi produk juga masih perlu dikembangkan.

Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan Tahun III 2026, KUB Prima Mandiri dan KUB Melati mendapat pendampingan untuk meningkatkan kemampuan mengolah tanaman herbal.

Anggota kelompok dibekali keterampilan mulai dari pemilihan bahan, pencucian, pengirisan, pengeringan, penyimpanan, hingga penyajian produk herbal.

Temulawak, kunyit, dan kunyit putih menjadi tiga rimpang utama yang dikembangkan. Setelah dibersihkan, bahan tersebut diiris dan dikeringkan menjadi simplisia yang dapat disimpan sebagai stok, digunakan sebagai bahan jamu godog, maupun dipasarkan sebagai bahan herbal siap olah.

Proses tersebut memberikan nilai tambah. Rimpang tidak lagi hanya dijual dalam kondisi segar, tetapi dapat disimpan lebih lama dan dikembangkan menjadi berbagai produk.

Teknologi Tepat Guna Membantu Produksi

Pemanfaatan teknologi tepat guna menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan usaha herbal di Usapinonot.

Peralatan seperti alat pengiris, oven pengering, blender, dan sejumlah perangkat pendukung membantu mempercepat pekerjaan yang sebelumnya banyak dilakukan secara manual.

Pengirisan dapat dilakukan dengan ukuran lebih seragam, proses pengeringan menjadi lebih merata, sementara bahan yang telah kering dapat disimpan sebagai stok untuk digunakan ketika diperlukan.

Dengan sistem tersebut, kelompok tidak harus selalu mengolah rimpang segar setiap kali menerima permintaan.

Teknologi yang digunakan bukan dimaksudkan untuk menggantikan pengetahuan tradisional masyarakat. Sebaliknya, teknologi menjadi alat untuk memperkuat pengetahuan tersebut agar proses pengolahan lebih praktis, tertata, dan efisien.

Dari Rimpang

Pemberdayaan Bukan Sekadar Memberikan Alat

Pendampingan di Usapinonot tidak berhenti pada pemberian peralatan.

Masyarakat juga memperoleh pelatihan dan praktik langsung agar mampu menggunakan peralatan serta mengolah bahan herbal secara mandiri.

Anggota kelompok terlibat mulai dari menyiapkan bahan, melakukan pengirisan dan pengeringan, mengolah rimpang, hingga menyajikan jamu.

Pendampingan yang pada awalnya berfokus pada temulawak dan kunyit kemudian berkembang dengan pemanfaatan bahan lain seperti sereh dan jeruk nipis. Kelompok juga dikenalkan pada pembuatan minuman instan berbahan jahe dan temulawak.

Melalui praktik langsung tersebut, masyarakat tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat terus digunakan setelah program pendampingan selesai.

Keterampilan inilah yang diharapkan menjadi modal bagi kelompok untuk mempertahankan produksi, menciptakan variasi produk baru, serta memperkuat kemandirian usaha.

Cafe Jamu, Ketika Tradisi Menjadi Pengalaman

Gagasan Cafe Jamu Usapinonot kemudian hadir untuk membawa jamu ke dalam pengalaman yang lebih luas.

Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli minuman, tetapi dapat melihat bahan baku, mengenal berbagai jenis rimpang dan simplisia, menyaksikan proses perebusan, hingga menikmati jamu dalam keadaan hangat.

Jamu godog menjadi salah satu konsep yang dikembangkan.

Berbeda dengan minuman herbal instan, proses pembuatan jamu godog dapat disaksikan secara langsung. Irisan kunyit, temulawak, dan berbagai rimpang lainnya direbus hingga menghasilkan aroma serta warna khas.

Proses tersebut menjadi bagian dari pengalaman menikmati jamu.

IKLAN

Dengan konsep ini, Cafe Jamu Usapinonot berpeluang menjadi ruang usaha sekaligus ruang edukasi. Pengunjung dapat mengenal bahan lokal, memahami proses pengolahannya, sekaligus mengetahui pengetahuan tradisional yang dimiliki masyarakat setempat.

Menjaga Tradisi sekaligus Membuka Peluang Usaha

Pengembangan Cafe Jamu Usapinonot menjadi salah satu cara mempertemukan upaya pelestarian tradisi dengan pengembangan ekonomi masyarakat.

Di tengah semakin banyaknya pilihan minuman modern, jamu membutuhkan pendekatan baru agar tetap relevan dan dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan identitasnya.

Yang berubah bukan bahan dasarnya, tetapi cara mengolah, menyimpan, mengemas, menyajikan, dan memperkenalkannya kepada konsumen.

Kunyit, temulawak, jahe, dan rimpang lokal lainnya tetap menjadi bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat. Sementara itu, teknologi membantu membuat proses produksi lebih praktis dan efisien.

Perpaduan tradisi dan teknologi inilah yang memberikan nilai tambah.

Rimpang yang sebelumnya hanya dipandang sebagai hasil kebun dapat berkembang menjadi produk ekonomi, pengalaman bagi konsumen, sekaligus bagian dari identitas Desa Usapinonot.

Dari Desa Wirausaha Jamu Menuju Cafe Jamu

Pengembangan Cafe Jamu Usapinonot merupakan bagian dari proses pemberdayaan yang telah berlangsung selama tiga tahun.

Dalam perjalanan tersebut, masyarakat tidak hanya dikenalkan pada satu jenis produk. Berbagai bentuk olahan berbasis rimpang telah dikembangkan, mulai dari jamu kapsul, bahan herbal kering, jamu godog, hingga minuman herbal.

Proses tersebut menunjukkan bahwa pengembangan usaha masyarakat berlangsung secara bertahap.

Pelatihan, praktik produksi, pengenalan teknologi, hingga pengembangan variasi produk menjadi pijakan untuk membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

Cafe Jamu kemudian menjadi langkah lanjutan yang menyatukan berbagai hasil pengembangan tersebut dalam satu ruang.

Di tempat itu, pengunjung nantinya tidak hanya dapat menikmati jamu godog, tetapi juga mengenal simplisia, membeli produk herbal, hingga melihat bagaimana tanaman obat lokal diolah oleh masyarakat Usapinonot.

Keterampilan sebagai Modal Kemandirian

Keberhasilan pemberdayaan tidak hanya dapat diukur dari banyaknya produk yang dihasilkan maupun besarnya omzet penjualan.

Salah satu indikator penting adalah meningkatnya kemampuan masyarakat untuk mengelola potensi yang dimiliki secara mandiri.

Anggota kelompok kini memiliki pengalaman dalam menggunakan peralatan, mengolah dan menyimpan bahan herbal, hingga menyajikan jamu godog.

Pengetahuan dan keterampilan tersebut menjadi modal penting bagi keberlanjutan usaha.

Peralatan dapat mengalami kerusakan dan teknologi dapat terus berubah. Namun, keterampilan yang telah dikuasai masyarakat akan tetap menjadi aset yang dapat digunakan dan diwariskan kepada anggota kelompok lainnya.

Di situlah makna pemberdayaan menjadi semakin nyata.

Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi tumbuh sebagai pelaku utama yang mampu mengembangkan potensi desanya sendiri.

Secangkir Jamu dan Harapan dari Usapinonot

Kelak, pengunjung Cafe Jamu Usapinonot dapat melihat deretan toples berisi irisan kunyit, temulawak, kunyit putih, dan berbagai tanaman herbal lainnya.

Rimpang dipilih, diolah, direbus, kemudian disajikan hangat dengan aroma khas tanaman obat lokal.

Namun, secangkir jamu tersebut membawa cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa.

Di dalamnya terdapat kekayaan tanah Timor, pengetahuan masyarakat, pemanfaatan teknologi tepat guna, kerja bersama, serta harapan membangun perekonomian desa dari potensi yang tumbuh di lingkungan sendiri.

Usapinonot menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai kenangan.

Tradisi dapat terus berkembang menjadi produk, melahirkan peluang usaha, sekaligus menjadi cara untuk mempertahankan identitas lokal di tengah perubahan zaman.

Dari rimpang lokal tumbuh nilai tambah. Dari keterampilan lahir kemandirian. Dan dari secangkir jamu, tumbuh harapan baru bagi masyarakat Usapinonot.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/dari-rimpang-lokal-ke-cafe-jamu-pengabdian-dosen-untuk-masyarakat-usapinonot/98028/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.51 WITA

  • #Cafe Jamu Usapinonot
  • #Jamu Godog
  • #Pemberdayaan Masyarakat
  • #Rimpang Lokal
  • #Tanaman Obat
  • #Teknologi Tepat Guna
  • #Timor Tengah Utara
  • #Universitas Timor

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.