Oleh: Masyithah – Mahasiswa Megister Sains Agribisnis IPB University
JurnalPost.com - Sudah hampir setahun sejak program unggulan yang dijanjikan Presiden Prabowo sebelum pelantikannya mulai digaungkan. Salah satu komitmen besar ini ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat, terutama bagi balita, anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Ya, program yang dimaksud tak lain adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Nama program ini tentu sudah tidak asing lagi—mungkin kamu pun pernah mendengarnya, atau bahkan menjadi salah satu penerimanya. Menariknya, MBG digadang-gadang sebagai salah satu legacy project pemerintahan Presiden Prabowo yang diharapkan membawa dampak nyata bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Program ini menjadi janji Presiden Prabowo pada masa kampanye dalam pemilihan presiden RI ke-8. Munculnya program MBG berlandaskan atas keprihatinan Presiden Prabowo terhadap kondisi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi dan stunting di berbagai daerah. Selain untuk meningkatkan gizi anak-anak, program tersebut diharapkan dapat menggerakkan ekonomi daerah. Hal tersebut ditunjukkan bahwa program ini telah menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja mulai dari juru masak, petugas distribusi, tenaga administrasi, hingga tenaga kerja kebersihan. Selain aktor tersebut, berkat program ini dapat menghadirkan ribuan supplier bahan pangan dan logistik di tingkat lokal yang melahirkan entrepreneur baru. Tenaga kerja yang banyak tersebut dikarenakan melalui program ini terdapat 11.900 dapur MBG yang bertujuan melayani 35,4 juta anak dan ibu hamil di berbagai wilayah.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memerlukan dana yang sangat besar. Pada 2025, pemerintah mengalokasikan Rp 71 triliun, namun hingga awal Oktober realisasinya baru 23%. Bahkan dalam RAPBN 2026, anggaran MBG meningkat menjadi Rp 335 triliun, sebagian besar berasal dari anggaran pendidikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengingat kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dan seharusnya juga memerlukan perhatian besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Besarnya dana MBG juga membuka celah penyimpangan. Salah satunya terjadi di Bandung Barat, ketika dana Rp 1 miliar raib akibat pesan palsu yang mengatasnamakan pejabat MBG (Maulana, 2025). Kasus ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan transparansi dalam pengelolaan program.
Padahal, di tengah besarnya anggaran, kasus keracunan makanan MBG masih terus terjadi. Sampai 5 Oktober, sudah mencapai lebih dari 11.000 orang yang menjadi korban keracunan akibat makanan yang dikonsumsi. Situasi ini menimbulkan pertanyaan: jika program ini bertujuan mendukung pendidikan dan kesehatan anak, mengapa pengawasan dan implementasinya masih lemah?
Gambar 2. Kondisi salah satu dapur MBG (Sumber: pinterest)
Dengan segala kasus negatif yang ditimbulkan oleh program tersebut, diperlukan evaluasi dari Pemerintah bersama pelaksana program untuk terus melakukan perbaikan. Caranya dapat dimulai dengan memperbaiki sistem operasional dengan adanya pengecekan yang ketat dan standar pemilihan dapur yang sesuai dengan standar. Karena berdasarkan laporan Kementrian Kesehatan per 22 September 2025, dari 8.583 SPPG hanya 34 yang memiliki sertifikasi laik hygiene dan sanitasi (SLSH). Hal tersebut menjadi faktor tingginya tingkat kasus keracunan. Selain itu, diperlukan untuk memastikan mulai dari bahan baku yang digunakan berkualitas, proses pembuatan makanan, hingga distribusi sampai di tangan penerima manfaat. Jangan sampai dalam proses tersebut adanya kontaminasi, suhu penyimpanan tidak stabil, atau keterlambatan pengiriman.
Selain itu, penting memastikan program ini tepat sasaran, khususnya pada kelompok yang paling membutuhkan, seperti balita dan ibu hamil, karena fase tersebut krusial dalam mencegah stunting. Fokus yang jelas akan membantu efektivitas program dan efisiensi penggunaan dana publik.
Pelaksana program juga perlu menanamkan kesadaran bahwa MBG merupakan program sosial, bukan komersial. Sehingga seluruh pihak yang terlibat harus menomorsatukan pelayanan publik dan menghindari potensi penyimpangan yang dapat mengurangi nilai manfaat bagi masyarakat. Karena yang seharusnya satu porsi makanan MBG seharga Rp 15.000 yang mencakup bahan pangan, operasional, gaji tenaga, transportasi dan peralatan, hingga margin operasional SPPG. Namun, akibat adanya kasus pemotongan dana ilegal seperti fee SPPG induk, biaya administrasi atau biaya atensi agar dapur mendapat izin, atau adanya pungli dari pihak tertentu membuat nilai yang diperoleh kelompok manfaat menjadi lebih kecil dari yang seharusnya. Hal tersebut membuat kualitas gizi menurun, risiko keracunan meningkat, dan tujuan program terdistorsi yang seharusnya menyehatkan anak malah membuka ruang keuntungan pribadi. Transparansi alokasi dana menjadi kunci agar publik dapat ikut memantau dan memastikan program ini berjalan sesuai tujuan.
Gambar 3. Siswa penerima program MBG (Sumber: pinterest)
Kenyataannya dengan segala permasalahan pada program ini, MBG memberikan dampak positif bagi masyarakat, seperti penyerapan tenaga kerja yang tinggi. Selain itu, berkat adanya program mbg, terdapat siswa dan masyarakat yang sebelumnya tidak mampu sarapan atau memperoleh asupan makanan yang kurang, menjadi terpenuhi melalui program MBG ini.
Program ini sejatinya memiliki tujuan jangka panjang yang mulia: menyiapkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas. Namun, keberhasilan itu hanya dapat tercapai apabila pelaksanaan program dijalankan dengan transparan, efisien, dan berintegritas tinggi.
Jadi, menurut kamu — bagaimana sebaiknya langkah selanjutnya agar Makan Bergizi Gratis benar-benar memberi manfaat bagi semua lapisan masyarakat?
DAFTAR PUSTAKA Amrin I. 2025. Satu Tahun Prabowo-Gibran, MBG Sasar 36,7 Juta Lebih Penerima Manfaat. [diakses 06 Novt 2025]; https://indonesia.go.id BBG News Indonesia. 2025. Sekolah-Sekolah yang Mengelola Dapur Mandiri di Tengah Ribuan Kasus Keracunan MBG. [diakses 06 Novt 2025]; https://www.bbc.com CNN Indonesia. 2025. KSP: Cuma 34 dari 8.583 Dapur MBG yang Kantongi Sertifikasi Higienis. [diakses 06 Novt 2025]; https://www.cnnindonesia.com Maullana I. 2025. Kronologi Pesan Chat Palsu yang Bikin Dana MBG Rp 1 Miliar di Bandung Barat Raib. [diakses 06 Novt 2025]; https://bandung.kompas.com Presiden RI. 2025. Presiden Prabowo: Program Makan Bergizi Gratis adalah Investasi untuk Masa Depan Bangsa. [diakses 06 Novt 2025]; https://www.presidenri.go.id Rizky M. 2025. Program MBG Diam-Diam Sudah Serap 600 Ribu Pekerja. [diakses 06 Novt 2025]; https://www.cnbcindonesia.com Satria et al. 2025. Analisis Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia Saat Ini : Suatu Kajian Literatur. Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia. 3(2): 292-309. doi: https://doi.org/10.55606/jubpi.v3i2.3838 Zulfikar F. 2025. Resmi! MBG Dapat Rp 335 T dari APBN 2026, Ambil Jatah Anggaran Pendidikan RP 223 T. [diakses 06 Novt 2025]; https://www.detik.com
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda