Dr. Mochammad Syamsulhadi, S.P., M.P. memberikan sosialisasi dan pelatihan pestisida nabati berbahan lokal kepada petani Desa Miru.
Melalui pendekatan tersebut, petani Desa Miru tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pestisida nabati, tetapi juga didampingi untuk memproduksi dan mengaplikasikannya secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Hasilkan PESNABILA Berbahan Paitan
Dari rangkaian kegiatan tersebut, tim menghasilkan dua produk pestisida nabati. Salah satunya adalah Pestisida Nabati Paitan-Lactobacillus atau PESNABILA. PESNABILA diformulasikan menggunakan air cucian beras, molase, Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), serta bagian daun, batang, dan akar tanaman paitan (Tithonia diversifolia). Seluruh bahan tersebut kemudian diproses melalui fermentasi anaerob selama 21 hari. Proses fermentasi menggunakan sistem air lock sederhana yang memungkinkan petani untuk menerapkannya dengan peralatan yang relatif mudah diperoleh.
Proses fermentasi anaerob PESNABILA (Pestisida Nabati Paitan-Lactobacillus) menggunakan sistem air lock sederhana.
Produk kedua adalah pestisida nabati berbahan dasar buah maja. Formulasi pestisida tersebut menggunakan buah maja, nanas, tepung beras, dan molase yang difermentasi selama satu bulan.
Pestisida nabati buah maja dapat diaplikasikan melalui beberapa metode, mulai dari perendaman benih, pengocoran, hingga penyemprotan pada tanaman padi.
Selain menghasilkan dua jenis pestisida nabati tersebut, tim FBiPK Universitas Brawijaya juga menyusun sejumlah Standard Operating Procedure (SOP) pendukung penggunaan agens hayati.
SOP yang diperkenalkan antara lain BIOFRESH dan SOP Asam Amino. Kehadiran panduan tersebut diharapkan semakin memperkaya alternatif pengelolaan hama nonkimia yang dapat dipelajari dan direplikasi secara mandiri oleh kelompok tani.
Manfaatkan Bahan yang Tersedia di Desa
Kelompok Tani Sumber Makmur 01 memberikan respons positif terhadap program tersebut. Selama proses pendampingan, para petani diajak memanfaatkan sejumlah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti air cucian beras, tanaman paitan, dan buah maja.
Alat fermentasi skala lebih besar yang digunakan dalam produksi agens hayati pendukung di Desa Miru.
Bahan-bahan tersebut kemudian diolah dan dimanfaatkan sebagai alternatif untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pestisida kimia dalam budidaya tanaman padi.
Keterlibatan langsung petani menjadi salah satu bagian penting dalam program ini. Dengan mempraktikkan sendiri proses pembuatan hingga pengaplikasian, teknologi yang diperkenalkan diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai, tetapi dapat terus dikembangkan oleh kelompok tani.
Sebagai bentuk pengakuan terhadap implementasi teknologi tersebut, Pemerintah Desa Miru menerbitkan Surat Keterangan Pelaksanaan Implementasi Karya. Surat tersebut menjadi keterangan resmi atas penerapan teknologi tepat guna kepada masyarakat, dunia usaha, dan industri di wilayah Desa Miru.
Mahasiswa KKN FBiPK Universitas Brawijaya turut terlibat dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari sosialisasi, pelatihan, pendampingan di lapangan, hingga diseminasi hasil kepada masyarakat.
Kolaborasi dosen, mahasiswa, pemerintah desa, dan kelompok tani tersebut diharapkan mampu memperkuat penerapan inovasi pertanian berbasis sumber daya lokal yang mudah direplikasi masyarakat.
Diseminasi teknologi pestisida nabati ini juga mendukung pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan).
Melalui penggunaan bahan lokal dan penerapan pengendalian OPT nonkimia, program tersebut diharapkan berkontribusi terhadap pengembangan produksi padi yang lebih sehat, berkelanjutan, serta mampu memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia di tingkat desa.
Kegiatan pengabdian dipimpin Dr. Mochammad Syamsulhadi, S.P., M.P. sebagai ketua tim, didampingi sejumlah dosen anggota serta mahasiswa KKN Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda