Layanan Kesehatan Mental Semakin Dibutuhkan
Belakangan ini, masyarakat dihebohkan dengan tingginya jumlah pengakses layanan Healing119. Layanan pertolongan pertama krisis psikologis yang disediakan Kementerian Kesehatan tersebut ramai diakses hingga menyebabkan antrean panjang. Peningkatan kebutuhan layanan ini juga menjadi perhatian setelah program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan berbagai persoalan kesehatan jiwa di masyarakat.
Namun, tingginya kebutuhan tersebut belum diimbangi dengan kapasitas layanan yang memadai. Dalam satu sif selama tiga jam, hanya sekitar lima psikolog yang bersiaga, sementara jumlah pengakses dapat mencapai 500 hingga 600 orang. Kondisi tersebut membuat durasi konseling dibatasi maksimal 30 menit.
Situasi ini tentu menjadi kekhawatiran bersama. Di tengah meningkatnya kebutuhan dukungan psikologis dan keterbatasan akses layanan, muncul pertanyaan penting: apa yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental?
Salah satu pendekatan yang dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah konsep emotional vulnerability atau kerentanan emosional.
Mengenal Emotional Vulnerability
Di tengah berbagai situasi yang berada di luar kendali kita, barangkali upaya untuk tetap sehat secara mental justru dimulai dari keberanian mengakui kelemahan dan menerima kenyataan bahwa kita tidak selalu dalam kondisi baik-baik saja.
Menunjukkan kerentanan bukan berarti menyerah pada keadaan. Sebaliknya, keberanian mengakui perasaan dapat menjadi langkah awal untuk memahami diri sendiri dan membangun kesehatan emosional yang lebih baik.
Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan konsep emotional vulnerability, yaitu kesediaan seseorang untuk mengenali, menerima, dan mengekspresikan emosinya secara jujur, meskipun terdapat risiko menghadapi penilaian atau respons negatif dari orang lain.
Emotional vulnerability bukanlah sesuatu yang harus selalu dihindari. Ketika dikelola secara sehat, kerentanan emosional dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih autentik, memahami dirinya sendiri, serta menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara lebih adaptif.
Brené Brown, melalui penelitiannya mengenai rasa malu, kerentanan, dan hubungan antarmanusia, menekankan pentingnya keberanian untuk menerima ketidaksempurnaan diri dan membangun hubungan yang dilandasi keterbukaan.

Menekan atau menyangkal perasaan secara terus-menerus dapat menghambat seseorang dalam memahami kebutuhan emosionalnya. Sebaliknya, kemampuan untuk terbuka terhadap perasaan dapat membantu seseorang menerima kenyataan, mencari dukungan positif, dan membangun hubungan interpersonal yang lebih sehat.
Dengan demikian, menjadi kuat secara mental tidak selalu berarti mampu menyembunyikan kesedihan atau menghadapi seluruh persoalan seorang diri. Terkadang, kekuatan justru muncul ketika seseorang berani mengakui bahwa dirinya membutuhkan dukungan.
Menjaga Kesehatan Mental dengan Membangun Emotional Vulnerability
Di tengah keterbatasan akses layanan psikologis, kita dapat mulai belajar menjadi pribadi yang lebih jujur terhadap perasaan sendiri. Hal ini bukan berarti keterbukaan emosional dapat menggantikan bantuan profesional, melainkan menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesehatan psikologis dalam kehidupan sehari-hari.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membangun emotional vulnerability secara sehat.
1. Sadari, Kenali, dan Kendalikan Emosi
Langkah pertama adalah belajar untuk tidak mengabaikan emosi yang kita rasakan.
Emosi positif maupun negatif yang muncul sebagai respons terhadap suatu peristiwa merupakan bagian alami dari pengalaman manusia. Perasaan sedih, kecewa, marah, takut, maupun bahagia perlu disadari dan dikenali sebelum kita menentukan cara meresponsnya.
Menerima emosi bukan berarti membiarkannya mengendalikan seluruh tindakan. Sebaliknya, dengan memahami apa yang sedang dirasakan, kita dapat belajar mengelola respons secara lebih bijaksana.
Tidak semua perasaan harus segera diselesaikan. Terkadang, memberikan ruang bagi diri sendiri untuk memahami emosi merupakan langkah penting dalam menjaga keseimbangan psikologis.
2. Membangun Rasa Saling Percaya dan Menetapkan Batasan
Salah satu kesulitan yang kerap dihadapi seseorang ketika mengalami masalah adalah menentukan kepada siapa ia dapat bercerita.
Muncul berbagai pertanyaan dalam diri: apakah orang tersebut dapat dipercaya? Apakah ia akan memahami keadaan kita? Atau justru memberikan penilaian yang membuat keadaan semakin sulit?
Karena itu, keterbukaan emosional perlu dibangun bersama rasa percaya dan batasan pribadi yang sehat.
Mulailah memilah dan memilih orang-orang yang dapat menjadi tempat berbagi, terutama mereka yang bersedia mendengarkan dengan empati dan tidak mudah menghakimi. Mereka bisa berasal dari lingkungan terdekat, seperti sahabat, orang tua, pasangan, guru, atau orang lain yang dipercaya.
Penting untuk dipahami bahwa menjadi terbuka bukan berarti kita harus menceritakan seluruh persoalan kepada semua orang. Kita tetap memiliki hak untuk menentukan apa yang ingin dibagikan, kepada siapa, dan kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.
3. Menerima bahwa Kerentanan Adalah Bagian dari Menjadi Manusia
Pada dasarnya, tidak ada manusia yang selalu kuat atau mampu menghadapi seluruh persoalan kehidupan seorang diri.
Terlebih, di tengah derasnya arus informasi, tekanan sosial, tuntutan kehidupan, serta berbagai kabar yang dapat memengaruhi kondisi psikologis, seseorang mungkin lebih mudah mengalami kecemasan, stres, dan kelelahan emosional.
Dalam situasi seperti ini, mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukanlah bentuk kegagalan.
Kita tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan orang lain. Tidak ada yang salah dengan menangis, mengungkapkan kesedihan, meminta waktu untuk beristirahat, atau mencari pertolongan ketika merasa kewalahan.
Menerima kerentanan berarti memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan dukungan pada waktu tertentu.
Maka, mulailah saling berkabar, menyediakan ruang untuk mendengarkan, dan menguatkan satu sama lain. Sebab, dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, kita tidak harus selalu berjalan sendirian.
Pada Akhirnya, Emotional Vulnerability Adalah tentang Kejujuran
Emotional vulnerability pada dasarnya mengajak kita untuk membangun hubungan yang lebih jujur dengan diri sendiri dan orang lain.
Belajar mengenali emosi, menerima ketidaksempurnaan, membangun hubungan yang saling percaya, serta menjaga batasan pribadi merupakan bagian dari upaya merawat kesehatan psikologis.
Kerentanan tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang sedang kehilangan kekuatannya. Justru melalui keberanian untuk terbuka, seseorang dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya dan menemukan dukungan yang dibutuhkan.
Di tengah kehidupan yang kerap menuntut setiap orang untuk terlihat tangguh, kita perlu mengingat bahwa menjadi manusia berarti memiliki ruang untuk merasakan berbagai emosi, termasuk kesedihan, ketakutan, dan ketidakpastian.
Pada akhirnya, menunjukkan kelemahan tidak serta-merta membuat kita runtuh. Terkadang, penyangkalan terhadap perasaan sendirilah yang perlahan menguras kekuatan kita.
Sebab, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa lemah, melainkan berani mengakui perasaan, menerima keadaan, dan tetap berusaha melangkah.
Referensi
Brown, B. (2006). Shame resilience theory: A grounded theory study on women and shame. Families in Society: The Journal of Contemporary Social Services, 87(1), 43–52. https://doi.org/10.1606/1044-3894.3483
Brown, B. (2021). Atlas of the Heart: Mapping Meaningful Connection and the Language of Human Experience. Random House.
Muliawati, F. D. (2026, 23 September). Fenomena mengejutkan di RI, warga mengular antre konseling jiwa. CNBC Indonesia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda