Semarang, Jurnal Post - Isu penutupan kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) jurusan PGSD di kota Tegal kini terjawab sudah. Sebelumnya ratusan mahasiswa jurusan PGSD UNNES Tegal berkumpul di depan rektorat UNNES daerah Sekaran Gunung Pati Semarang guna menggelar aksi demo pada hari jum’at pekan lalu (7/4). Dalam unjuk rasanya mereka menuntut agar rektor UNNES membatalkan keputusannya untuk menutup kampus PGSD Tegal dengan memasang spanduk bertuliskan Save PGSD Tegal, tolak tutup PGSD Tegal.
Sejumlah mahasiwa PGSD unnes menggelar aksi unjuk rasa sebelum di tanggapi oleh rektor unnes
“Penutupan PGSD UNNES di kota Tegal membuat kami sakit, ada empat angkatan sejak 2013-2016 yang harus tetap mendapat perhatian sampai lulus, penutupan kampus di Tegal akan sepi dan berpengaruh terhadap kualitas kami yang di pertanyakan pihak luar”, ujar Arif Nur Muhammad, salah seorang mahasiswa PGSD Tegal sekaligus kodinator demo.
Menanggapi hal tersebut rektor Universitas Negeri Semarang Prof. Dr. Fatur Rahman, M.Hum membantah bahwa dirinya akan menutup kampus tersebut, namun lebih tepatnya memindahkan ke kampus Ngalian, Semarang.
“Riilnya, dalam penerimaan mahasiswa tahun 2017 progdi PGSD tetap di buka, hanya saja mahasiswa baru 2017 akan menempuh pendidikan di kampus Ngalian, Semarang”, ungkapnya.
Menurutnya, fasilitas di kampus Ngalian jauh lebih baik di bandingkan dengan kampus yang berada di Tegal. Hal ini mendasari aturan UU No. 14/2005 tentang guru dan dosen, khususnya pasal 10 ayat 1. Agar dapat menghasilkan guru yang ideal seperti yang di amanatkan UU itu, perlu memiliki fasilitas pendidikan yang berstandar. Jika melihat fasilitas PGSD Tegal masih belum memenuhi lantaran luas tanahnya terbatas sehingga pengembangan fasilitas kampus tidak maksimal.
“Saya tekankan tidak akan menutup kampus PGSD Tegal, melainkan mengurangi quota penerimaan saja”, tuturnya. (pr/kb)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda