Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Jeritan di Balik Toga: Tekanan Mahasiswa dan Lingkungan Negatif

Jeritan di Balik Toga: Tekanan Mahasiswa dan Lingkungan Negatif

Foto profil Nurul
Editor: Nurul
24 September 2026, 13.07 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Jeritan di Balik Toga

Oleh: Masayu Yasmin Mumtaz
Mahasiswa Manajemen Perkantoran Digital Universitas Airlangga

JurnalPost.com - Dunia perkuliahan kerap digambarkan sebagai salah satu fase paling menarik dalam kehidupan. Mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi diri, memperluas pergaulan, mengembangkan kemampuan, hingga mempersiapkan jalan menuju karier yang diimpikan.

IKLAN

Namun, gambaran tersebut tidak selalu mencerminkan kenyataan yang dialami setiap mahasiswa.

Di balik toga, ruang kelas, organisasi kampus, dan berbagai pencapaian akademik, sebagian mahasiswa harus menghadapi tekanan emosional yang tidak ringan. Beban akademik, tuntutan keluarga, lingkungan pertemanan, hingga kecemasan terhadap masa depan dapat datang secara bersamaan dan memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Tekanan Datang dari Berbagai Arah

Salah satu tekanan yang cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa adalah ekspektasi keluarga. Tidak sedikit mahasiswa yang menjalani perkuliahan dengan tuntutan tinggi dari orang tua, mulai dari pilihan jurusan, target nilai, waktu kelulusan, hingga pekerjaan yang dianggap ideal setelah menyelesaikan pendidikan.

Harapan orang tua tentu dapat menjadi bentuk dukungan. Namun, ketika harapan berubah menjadi tuntutan tanpa mempertimbangkan kemampuan, minat, dan kondisi anak, hal tersebut justru dapat menjadi beban psikologis.

Tekanan juga dapat muncul dari lingkungan pertemanan.

Di era media sosial, mahasiswa semakin mudah membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Melihat teman mendapatkan prestasi, mengikuti program pertukaran pelajar, memperoleh magang di perusahaan besar, memiliki bisnis, hingga mendapatkan pekerjaan sebelum lulus terkadang menimbulkan pertanyaan dalam diri: Mengapa saya belum sampai di sana?

Perbandingan tersebut dapat semakin berat apabila mahasiswa berada dalam lingkungan pertemanan yang tidak sehat. Candaan yang merendahkan, perundungan, pengucilan, hingga komentar mengenai kemampuan akademik atau kehidupan pribadi dapat memberi dampak jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Belum lagi persoalan akademik.

Tugas kuliah yang menumpuk, ujian, penelitian, skripsi, organisasi, tuntutan kelulusan tepat waktu, serta kekhawatiran menghadapi dunia kerja menjadi rangkaian tekanan yang kerap hadir bersamaan.

Pada fase menjelang kelulusan, mahasiswa juga mulai berhadapan dengan ketidakpastian mengenai masa depan. Pertanyaan tentang pekerjaan, kondisi keuangan, karier, hingga pilihan hidup dapat memunculkan kecemasan yang sering dikaitkan dengan fase quarter-life crisis.

Ketika Masalah Dipendam Sendiri

Permasalahan menjadi semakin rumit karena pembicaraan mengenai kesehatan mental masih kerap dihadapkan pada stigma.

Sebagian mahasiswa enggan menceritakan masalah yang sedang mereka alami karena takut dianggap lemah, berlebihan, kurang bersyukur, atau mencari perhatian. Ada pula yang memilih diam karena tidak ingin menambah beban orang tua yang telah membiayai pendidikan mereka.

Padahal, memendam masalah dalam waktu panjang bukan berarti masalah tersebut menghilang.

Tekanan yang terus terakumulasi dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, prestasi akademik, pola tidur, hingga kemampuan seseorang menjalani kehidupannya secara normal.

Dalam kondisi tertentu, seseorang membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat maupun bantuan profesional.

Karena itu, respons terhadap seseorang yang sedang mengalami kesulitan psikologis seharusnya bukan berupa penghakiman. Hal sederhana seperti mendengarkan dengan serius, tidak meremehkan masalahnya, dan membantu menghubungkan dengan layanan profesional dapat memiliki arti yang sangat besar.

Bunuh Diri Masih Menjadi Persoalan Global

Persoalan kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri juga menjadi perhatian dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat bahwa bunuh diri masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat secara global. Kelompok usia muda juga menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian serius dalam upaya pencegahan.

Situasi tersebut menunjukkan pentingnya menyediakan ruang aman bagi seseorang untuk mencari pertolongan sebelum kondisi psikologisnya berkembang menjadi krisis.

Setiap 10 September, dunia memperingati World Suicide Prevention Day atau Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Peringatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan bunuh diri sekaligus mendorong masyarakat mengurangi stigma terhadap orang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental.

Namun, sebuah peringatan tentu tidak akan cukup apabila tidak diikuti perubahan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Peristiwa Mahasiswa UB dan Persoalan Empati

Perhatian terhadap persoalan ini kembali muncul setelah seorang mahasiswa Universitas Brawijaya berinisial RR (19) dilaporkan mengalami insiden yang diduga berkaitan dengan percobaan bunuh diri pada 10 September 2026.

Mahasiswa tersebut kemudian mendapatkan pertolongan dan menjalani perawatan medis akibat cedera yang dialaminya.

Peristiwa tersebut menjadi semakin memprihatinkan ketika muncul sejumlah komentar bernada merendahkan dan tidak berempati terhadap korban.

Komentar seperti itu menunjukkan satu persoalan yang tidak kalah penting dari tekanan akademik maupun keluarga, yakni rendahnya empati sosial terhadap seseorang yang sedang berada dalam kondisi rentan.

Seseorang yang sedang menghadapi tekanan psikologis tidak membutuhkan ejekan. Ia membutuhkan lingkungan yang mampu mendengarkan, memahami, dan membantu.

IKLAN

Perundungan, bahkan ketika dibungkus sebagai candaan, dapat memperburuk keadaan seseorang. Apalagi jika komentar tersebut diberikan kepada orang yang tengah menghadapi krisis emosional.

Karena itu, kasus seperti ini semestinya menjadi refleksi bersama. Kampus tidak hanya bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung prestasi akademik, tetapi juga lingkungan sosial yang aman bagi seluruh mahasiswa.

Kampus Harus Menjadi Ruang yang Aman

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam upaya menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa.

Pertama, kampus perlu menyediakan layanan konseling psikologis yang mudah ditemukan dan mudah diakses. Mahasiswa juga perlu mendapatkan jaminan bahwa mencari bantuan tidak akan membuat mereka mendapatkan stigma.

Kedua, kampus perlu memiliki mekanisme yang jelas dalam menangani perundungan, baik yang terjadi secara langsung maupun melalui media sosial.

Lingkungan akademik juga perlu memberikan ruang bagi pendekatan yang lebih manusiawi. Prestasi memang penting, tetapi mahasiswa bukan sekadar angka indeks prestasi, jumlah publikasi, atau lama masa studi.

Ada manusia di balik setiap capaian akademik tersebut.

Dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola program studi juga memiliki posisi strategis karena sering menjadi pihak yang pertama kali menyadari perubahan perilaku mahasiswa.

Kepekaan terhadap mahasiswa yang tiba-tiba sering tidak hadir, mengalami penurunan akademik drastis, atau menunjukkan perubahan perilaku dapat menjadi langkah awal untuk menawarkan bantuan.

Orang Tua Perlu Belajar Mendengarkan

Keluarga juga memegang peranan besar.

Tidak semua masalah anak membutuhkan nasihat pada detik pertama mereka mulai bercerita. Kadang-kadang, seseorang hanya membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan tanpa langsung dibandingkan, disalahkan, atau diberi ceramah panjang.

Komunikasi dua arah menjadi penting.

Orang tua dapat memiliki harapan terhadap masa depan anak, tetapi harapan tersebut sebaiknya dibicarakan dengan mempertimbangkan kemampuan dan pilihan anak.

Kalimat seperti, “Apa yang sedang kamu rasakan?” atau “Apa yang bisa kami bantu?” bisa jauh lebih berarti daripada pertanyaan yang hanya berfokus pada nilai, kelulusan, atau pekerjaan.

Mahasiswa Juga Perlu Menjaga Sesama

Lingkungan pertemanan menjadi lapisan perlindungan yang tidak kalah penting.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh masalah seorang teman. Namun, kita dapat memilih untuk tidak memperburuknya.

Menjadi pendengar yang baik, menghindari komentar yang merendahkan, menemani teman mencari bantuan profesional, atau sekadar memastikan bahwa ia tidak menghadapi masa sulit sendirian merupakan bentuk kepedulian yang nyata.

Kepekaan sosial harus menjadi bagian dari kehidupan kampus.

Pendidikan tinggi tidak hanya seharusnya menghasilkan mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu menghargai dan memahami sesamanya.

Pada akhirnya, kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan manusia secara keseluruhan.

Mencari bantuan ketika menghadapi tekanan bukanlah sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, keberanian untuk mengakui bahwa seseorang sedang membutuhkan pertolongan merupakan langkah penting dalam menjaga dirinya sendiri.

Sudah saatnya lingkungan kampus, keluarga, dan masyarakat berhenti menjadikan masalah kesehatan mental sebagai bahan olok-olok.

Di balik toga yang terlihat membanggakan, mungkin ada seseorang yang sedang berjuang keras menjalani harinya.

Yang dibutuhkan bukan penghakiman, melainkan ruang aman untuk didengarkan, dipahami, dan mendapatkan pertolongan.

Sumber:

Husna, R. (2026, September 10). Nekat lompat dari gedung fakultas lantai 6, mahasiswa UB alami cedera, ada indikasi bunuh diri. AFU.id.

World Health Organization. (2026, August 28). Suicide.

International Association for Suicide Prevention. (2025, June 2). New WHO suicide data reaffirms urgent need for global prevention efforts.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/jeritan-di-balik-toga-tekanan-mahasiswa-dan-lingkungan-negatif/97836/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #Mahasiswa
  • #kampus
  • #lingkungan negatif
  • #perundungan
  • #stigma
  • #tekanan akademik
  • #universitas

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.