JurnalPost.com -- Seikat kangkung di Pasar Modern Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, dihargai Rp5.000–Rp8.000. Sementara itu, satu kilogram cabai keriting dibanderol Rp60.000 atau lebih. Perbedaan harga yang cukup jauh tersebut tidak membuat pembeli berhenti berbelanja. Hasil wawancara kelompok kami dengan sejumlah pedagang di pasar ini menunjukkan bahwa harga hanyalah salah satu dari berbagai faktor yang menentukan jenis dan jumlah bahan pangan yang dibeli masyarakat.
Harga Naik, Belanja Menyusut, Bukan Berhenti
Dalam teori ekonomi, hukum permintaan menyatakan bahwa kenaikan harga cenderung menurunkan jumlah barang yang diminta. Besarnya perubahan jumlah permintaan akibat perubahan harga dapat diukur melalui elastisitas permintaan (Mankiw, 2020).
Pedagang yang kami temui membenarkan kecenderungan tersebut pada lima komoditas yang diteliti, yaitu kangkung, tomat, cabai, terong, dan wortel.
Ketika harga terong naik dari Rp10.000 menjadi Rp18.000 per kilogram, pembeli yang biasanya membawa pulang satu kilogram hanya membeli setengah kilogram. Perilaku serupa terlihat pada pembeli wortel. Ketika harga meningkat dari Rp23.000 menjadi Rp28.000 per kilogram, jumlah pembelian yang semula setengah kilogram berkurang menjadi seperempat kilogram (Kelompok 1, 2026a).
Pada komoditas cabai, kenaikan harga tidak serta-merta menghentikan pembelian, tetapi mengubah jumlah yang dibeli. Konsumen tetap datang ke pasar, meskipun mengurangi takaran belanja sesuai kemampuan keuangan mereka.
Pedagang juga menyebutkan bahwa sebagian pembeli lebih memilih berbelanja di pasar dibandingkan membeli dari pedagang keliling ketika harga meningkat. Cabai merupakan salah satu bahan pelengkap masakan yang banyak digunakan sehari-hari sehingga relatif sulit dihilangkan sepenuhnya dari daftar kebutuhan rumah tangga.
Kangkung Murah, Cabai Menguras Kantong
Perbedaan perilaku konsumen dapat dilihat dari besarnya pengeluaran untuk setiap komoditas dibandingkan dengan pendapatan rumah tangga.
Seorang pembeli dengan penghasilan sekitar Rp3 juta per bulan membeli dua ikat kangkung setiap minggu dan mengeluarkan sekitar Rp40.000 per bulan. Pengeluaran tersebut setara dengan kurang dari 1,5 persen dari pendapatan bulanannya.
Sementara itu, pembeli lain dengan penghasilan Rp3,5 juta per bulan membeli sekitar 1,5 kilogram cabai setiap minggu, dengan pengeluaran yang dilaporkan sekitar Rp270.000 per bulan atau hampir 8 persen dari pendapatannya.
Untuk wortel, pengeluaran konsumen tercatat sekitar Rp92.000 per bulan atau sekitar 3 persen dari pendapatan (Kelompok 1, 2026a).

Karena harga kangkung relatif terjangkau, perubahan harga dalam jumlah kecil cenderung tidak terlalu memengaruhi keputusan pembelian. Hal ini sejalan dengan keterangan pedagang bahwa permintaan kangkung relatif stabil.
Data konsumsi nasional juga menempatkan kangkung sebagai salah satu sayuran yang paling banyak dikonsumsi rumah tangga Indonesia (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2024).
Menariknya, para pedagang menggolongkan kelima komoditas tersebut sebagai barang dengan permintaan inelastis, yaitu kondisi ketika persentase perubahan jumlah barang yang diminta lebih kecil dibandingkan persentase perubahan harganya.
Namun, perhitungan sederhana berdasarkan contoh hasil wawancara menunjukkan gambaran yang lebih beragam.
Pada komoditas terong, harga meningkat sebesar 80 persen, sedangkan jumlah pembelian menurun sebesar 50 persen. Dengan pendekatan elastisitas sederhana menggunakan nilai awal sebagai dasar perhitungan, diperoleh elastisitas sekitar 0,63. Nilai ini menunjukkan permintaan yang bersifat inelastis.
Sebaliknya, pada wortel, harga meningkat sekitar 22 persen, tetapi jumlah pembelian menurun hingga 50 persen. Perhitungan menghasilkan elastisitas sekitar 2,3, yang menunjukkan permintaan bersifat elastis.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa tidak semua jenis sayuran memiliki karakteristik permintaan yang sama. Beberapa komoditas relatif tetap dibeli meskipun harganya naik, sedangkan komoditas lain lebih mudah dikurangi atau digantikan.
Meskipun demikian, perhitungan ini masih didasarkan pada contoh wawancara terbatas sehingga belum dapat digeneralisasikan untuk seluruh konsumen. Penelitian dengan jumlah responden lebih besar diperlukan untuk memperoleh gambaran elastisitas permintaan yang lebih representatif.
Bukan Hanya Soal Harga
Keputusan konsumen dalam membeli sayuran tidak hanya dipengaruhi oleh harga. Terdapat sejumlah faktor lain yang turut menentukan pola konsumsi masyarakat.
Pertama, keberadaan barang pengganti atau barang substitusi. Pembeli kangkung dapat beralih ke bayam apabila kualitas kangkung kurang segar. Konsumen terong dapat memilih timun, sedangkan pembeli tomat terkadang menggantinya dengan jeruk nipis untuk kebutuhan masakan tertentu.
Keberadaan barang substitusi memungkinkan konsumen menyesuaikan pengeluaran tanpa harus sepenuhnya mengurangi konsumsi bahan pangan.
Kedua, hubungan antarbarang yang saling melengkapi atau barang komplementer. Kangkung sering dimasak menggunakan terasi, wortel dikombinasikan dengan kentang untuk sayur sop, terong diolah bersama cabai menjadi balado, sedangkan tomat umumnya dibeli bersama cabai dan bawang.
Pola pembelian yang saling berkaitan ini sejalan dengan kajian analisis keranjang belanja pada pembelian sayuran (Arianto & Nugroho, 2022).
Bagi pedagang, hubungan tersebut memiliki implikasi penting. Ketika harga cabai meningkat tajam, keputusan konsumen untuk membeli bahan pelengkap seperti tomat dan terong juga dapat berubah.
Ketiga, jumlah anggota keluarga dan kebutuhan konsumsi. Rumah tangga dengan tujuh anggota keluarga cenderung membutuhkan kangkung dalam jumlah lebih banyak dibandingkan keluarga dengan tiga anggota yang hanya membeli setengah kilogram tomat setiap minggu.
Kebutuhan konsumsi juga dapat meningkat ketika terdapat acara keluarga atau kegiatan usaha, seperti warung makan. Dalam kondisi tersebut, pembelian sayuran dapat mencapai beberapa kilogram sekaligus.
Keempat, selera dan preferensi konsumen. Pembeli wortel di Pasar Modern Bintaro Jaya cenderung menyukai wortel berukuran besar untuk kebutuhan sup dan capcay. Sementara itu, pembeli terong mempertimbangkan jenis, ukuran, dan tingkat kesegaran sebelum menentukan pilihan.
Penelitian terdahulu mengenai preferensi konsumen di Pasar Modern Bintaro menunjukkan bahwa keputusan pembelian melibatkan proses evaluasi terhadap berbagai alternatif produk (Nugraha et al., 2023).
Dengan demikian, kualitas, kesegaran, ukuran, serta kesesuaian produk dengan kebutuhan memasak menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting dibandingkan harga.
Harga, Tawar-Menawar, dan Rantai Pasok
Harga sayuran di Pasar Modern Bintaro Jaya tidak selalu bersifat tetap. Proses tawar-menawar masih menjadi bagian dari interaksi antara pedagang dan pembeli, terutama untuk pembelian dalam jumlah besar.
Pedagang cabai, misalnya, memberikan potongan harga sekitar Rp5.000 per kilogram untuk pembelian minimal satu kilogram. Harga yang semula Rp60.000 dapat diturunkan menjadi Rp55.000 per kilogram.
Pada komoditas wortel, harga Rp23.000 per kilogram dapat turun menjadi Rp21.000 setelah proses tawar-menawar. Sementara itu, harga terong dapat berkurang sekitar Rp1.000–Rp2.000 per kilogram.
Pembelian dalam jumlah besar umumnya memberikan peluang bagi konsumen untuk memperoleh harga yang lebih rendah (Kelompok 1, 2026a).
Dari sisi pasokan, terdapat kondisi yang menarik untuk diperhatikan. Kangkung yang dijual di pasar tersebut berasal dari pemasok Bogor, padahal hasil telaah literatur kelompok menunjukkan bahwa Kecamatan Pondok Aren, tempat pasar berada, memiliki potensi produksi kangkung yang cukup besar.
Berdasarkan data yang dihimpun kelompok, harga jual kangkung di tingkat petani kepada tengkulak dilaporkan berkisar Rp800–Rp1.000 per ikat. Sementara itu, harga jual di pasar dapat mencapai Rp5.000 atau lebih per ikat (Kelompok 1, 2026b).
Perbedaan harga tersebut menggambarkan adanya margin pemasaran antara tingkat petani dan konsumen akhir. Namun, margin tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai keuntungan bersih pedagang karena masih terdapat biaya transportasi, distribusi, penyimpanan, penyusutan, serta risiko kerusakan produk.
Untuk komoditas lainnya, wortel dipasok dari Cianjur dan Bandung, sedangkan tomat dan cabai didatangkan dari berbagai daerah pemasok.
Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa volume persediaan atau penjualan mingguan yang dilaporkan pedagang mencakup sekitar 84 ikat kangkung, 56 kilogram tomat, 161 kilogram cabai, 21 kilogram terong, dan 14 kilogram wortel (Kelompok 1, 2026a).
Data tersebut memberikan gambaran mengenai skala perdagangan komoditas yang diamati. Akan tetapi, diperlukan informasi tambahan mengenai kapasitas penyimpanan, frekuensi pengiriman, dan tingkat perputaran barang untuk menilai kecukupan stok secara lebih akurat.
Rantai distribusi yang panjang serta ketergantungan pada daerah pemasok dapat meningkatkan risiko perubahan harga ketika terjadi gangguan produksi, transportasi, atau distribusi.
Apa yang Perlu Dilakukan?
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis, terdapat tiga pelajaran praktis yang dapat menjadi perhatian pedagang, pengelola pasar, dan pemerintah daerah.
Pertama, pedagang perlu memahami karakteristik permintaan setiap komoditas. Pada kangkung dan cabai yang relatif tetap dibutuhkan konsumen, menjaga ketersediaan dan kesegaran produk menjadi langkah penting untuk mempertahankan pelanggan.
Sementara itu, pada komoditas seperti wortel dan terong, penetapan harga perlu mempertimbangkan sensitivitas konsumen terhadap perubahan harga agar volume penjualan tidak mengalami penurunan yang terlalu besar.
Kedua, pedagang dapat mengembangkan strategi penjualan paket. Contohnya, paket bahan balado yang terdiri atas cabai, tomat, dan terong atau paket sayur sop yang berisi wortel, kentang, serta bahan pelengkap lainnya.
Strategi tersebut dapat memanfaatkan kebiasaan konsumen yang membeli beberapa jenis sayuran secara bersamaan. Selain memberikan kemudahan, paket bahan masakan juga berpotensi meningkatkan nilai transaksi penjualan.
Ketiga, pemerintah daerah dan pengelola pasar perlu mendorong efisiensi rantai pasok. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat hubungan antara petani lokal, kelompok tani, distributor, dan pedagang pasar.
Dengan rantai distribusi yang lebih efisien, biaya pemasaran berpotensi ditekan, harga di tingkat konsumen menjadi lebih kompetitif, dan petani memiliki peluang memperoleh harga jual yang lebih baik.
Namun, upaya tersebut tetap perlu mempertimbangkan kapasitas produksi lokal, keberlanjutan pasokan, kualitas produk, serta kebutuhan pasar.
Pada akhirnya, aktivitas belanja sayuran di Pasar Modern Bintaro Jaya menunjukkan bahwa keputusan konsumsi merupakan hasil pertimbangan ekonomi yang kompleks. Harga memang menjadi faktor penting, tetapi selera, pendapatan, jumlah anggota keluarga, ketersediaan barang substitusi, kebutuhan memasak, serta hubungan kepercayaan dengan pedagang turut memengaruhi keputusan pembelian.
Memahami pola tersebut dapat membantu pedagang menyusun strategi penjualan yang lebih tepat sekaligus memberikan masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Daftar Pustaka
Arianto, S., & Nugroho, A. J. (2022). Association Rule-Market Basket Analisis (AR-MBA) untuk menganalisis keputusan dalam pembelian sayur. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 1(10), 2637–2648. https://doi.org/10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v1i10.2595
Kelompok 1. (2026a). Analisis data lapangan permintaan komoditas kangkung, tomat, cabai, terong, dan wortel di Pasar Modern Bintaro Jaya [Data primer: wawancara pedagang dan pembeli, tidak dipublikasikan].
Kelompok 1. (2026b). Analisis isu strategis permintaan komoditas di Pasar Modern Bintaro Jaya [Laporan tugas kelompok, tidak dipublikasikan].
Mankiw, N. G. (2020). Principles of economics (9th ed.). Cengage Learning.
Nugraha, M. G., Utami, A. D., & Herawati. (2023). Analisis preferensi dan keputusan pembelian konsumen daging sapi di Pasar Modern Bintaro [Skripsi, IPB University]. IPB Scientific Repository. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/124264
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. (2024). Statistik konsumsi pangan tahun 2024. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. https://satudata.pertanian.go.id/details/publikasi/781
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda