JurnalPost.com - Sebanyak 2.300 bibit pohon produktif ditanam di masjid, gereja, kelenteng, vihara, pura, serta lembaga pendidikan keagamaan dalam Gerakan Rumah Ibadah dan Lembaga Pendidikan Keagamaan Asri yang digelar Kementerian Agama Kabupaten Bintan.
Gerakan tersebut dirilis di Kelenteng Khong Miao Karang Rejo, Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang. Selain ditanam di rumah ibadah lintas agama, bibit pohon juga didistribusikan ke madrasah negeri dan swasta, Raudhatul Athfal, Kantor Urusan Agama, serta pondok pesantren di wilayah Kabupaten Bintan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bintan, Abu Sufyan, mengatakan penanaman ribuan bibit pohon ini merupakan bagian dari implementasi program ekoteologi, salah satu Asta Program Prioritas Kementerian Agama.
“Bibit pohon ini tidak hanya ditanam di rumah ibadah, tetapi juga kami distribusikan ke madrasah, Raudhatul Athfal, Kantor Urusan Agama, dan pondok pesantren di Bintan. Ini bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).
Secara keseluruhan, Kementerian Agama Kabupaten Bintan tercatat telah menanam dan mendistribusikan lebih dari 5.000 bibit pohon produktif sejak program ekoteologi digulirkan. Penanaman dilakukan secara bertahap dalam dua fase, yakni saat peluncuran program Ekoteologi dan Kementerian Agama Asri serta pada peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama.
Bibit pohon yang ditanam dan dibagikan merupakan tanaman produktif yang didatangkan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kepulauan Riau, antara lain durian, nangka, kelengkeng, mangga, jeruk lemon, petai, jengkol, dan alpukat. Setiap undangan yang hadir tampak membawa pulang bibit pohon untuk ditanam di lingkungan masing-masing.
Kegiatan penanaman dipusatkan di Kelenteng Khong Miao Kawal yang berdiri di atas lahan seluas 1,4 hektare di kawasan Bukit Karang Rejo. Pengurus Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Kabupaten Bintan, Gek Kwe, menyampaikan bahwa kelenteng tersebut merupakan kelenteng Kong Miao pertama di Bintan yang dibangun untuk memperkuat akulturasi budaya Tionghoa dan lokal, sekaligus masih membutuhkan penghijauan secara menyeluruh.
“Kelenteng ini diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus simbol harmoni antarumat dan kepedulian lingkungan,” katanya.
Gerakan ekoteologi lintas agama ini melibatkan berbagai unsur, antara lain Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau yang diwakili Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam, Pemerintah Kabupaten Bintan yang diwakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, jajaran Kementerian Agama Kabupaten Bintan, Forum Kerukunan Umat Beragama, Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Bintan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kepulauan Riau, Kepolisian Resor Bintan, Bintara Pembina Desa, camat dan lurah, kepala Kantor Urusan Agama, kepala madrasah, tokoh agama lintas iman, serta tokoh masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Bintan mengapresiasi gerakan tersebut. Bupati Bintan melalui Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Muhammad Lukman, mengatakan pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, sementara Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Dhirham, menyampaikan bahwa seluruh agama mengajarkan penghormatan terhadap kehidupan dan alam sebagai ciptaan Tuhan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda