Mengapa ASN Bisa Berperilaku Kontraproduktif?
Dalam dunia kerja, ada istilah counterproductive work behavior (CWB) atau perilaku kerja kontraproduktif. Sederhananya, ini adalah perilaku yang merugikan kantor, rekan kerja, atau masyarakat. Bentuknya mulai dari:- memakai jam kerja untuk urusan pribadi,
- melayani warga dengan buruk,
- bersikap kasar pada rekan kerja,
- mengabaikan tugas,
- hingga tindakan berat seperti manipulasi data, menyalahgunakan aset negara, atau korupsi.
Temuan Penting: Modal Psikologis Berpengaruh Besar
Dalam penelitian terhadap 183 ASN, ditemukan fakta mengejutkan:1. ASN dengan Modal Psikologis Tinggi Lebih Jarang Melakukan Pelanggaran
Modal psikologis atau psychological capital terdiri dari empat hal:- Harapan (punya tujuan yang jelas)
- Efikasi diri (percaya diri menghadapi tugas)
- Optimisme
- Resiliensi (tangguh menghadapi tekanan)
- curang,
- kasar,
- malas bekerja,
- atau melakukan pelanggaran administrasi.
Ini menjawab pertanyaan penting:
Tidak semua pelanggaran ASN disebabkan oleh aturan lemah. Kadang, mental dan kondisi psikologis pegawainya yang tidak siap menghadapi tekanan kerja.
2. Kepuasan Kerja Menjadi Jembatan Penting
Penelitian juga menemukan bahwa kepuasan kerja memegang peran besar. ASN yang puas dengan pekerjaannya:- lebih sabar menghadapi warga,
- lebih menghargai aturan,
- tidak mudah terbawa emosi,
- tidak punya “niat” membalas organisasi dengan perilaku negatif.
Solusi: Perbaiki Manusia, Bukan Sekadar Sistem
Untuk mengurangi pelanggaran ASN, penelitian ini menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi:Bangun modal psikologis ASN
Program pelatihan bisa meliputi:- manajemen stres,
- pengembangan rasa percaya diri,
- latihan resiliensi,
- coaching untuk membangun optimisme,
- pelatihan manajemen emosi.
Naikkan kepuasan kerja
Ini bisa dilakukan lewat:- kepemimpinan yang adil,
- lingkungan kerja yang suportif,
- penghargaan yang pantas,
- jalur karier yang jelas.
Ubah budaya kerja
Pelanggaran kecil jangan dibiarkan menjadi “hal biasa”.
Penelitian ini memberi satu pesan penting: Reformasi birokrasi tidak cukup hanya dengan aturan keras. Kunci utamanya ada pada manusia di dalamnya baik pada mental, harapan, optimisme, dan kepuasan ASN saat menjalankan tugas.
Jika kita ingin pelayanan publik Indonesia benar-benar membaik, maka saatnya melihat bahwa ASN bukan robot. Mereka manusia yang bisa stres, lelah, kecewa—dan bisa kembali bersemangat jika mendapat dukungan yang tepat.
Referensi
Data & Regulasi Pemerintahan- Badan Kepegawaian Negara (2024). Dashboard IDIS-SIASN – Data Pengaduan Pelanggaran ASN.
- Badan Kepegawaian Daerah Jawa Timur (2023). Kepegawaian dalam Angka.
- Peraturan Pemerintah No. 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
- Bennett, R. & Robinson, S. (2000). Development of a Measure of Workplace Deviance.
- Fredrickson, B. (2001). Broaden-and-Build Theory of Positive Emotions.
- Hobfoll, S. (1989). Conservation of Resources Theory.
- Luthans, F., Youssef, C., & Avolio, B. (2007). Psychological Capital.
- Luthans & Youssef-Morgan (2017). Psychological Capital: An Evidence-Based Positive Approach.
- Saari, L. & Judge, T. (2004). Employee Attitudes and Job Satisfaction.
- Wang, Y., Chen, K., Dou, K. (2021). Self-Control, Job Satisfaction, and Workplace Behavior.
- Özüdoğru, A. et al. (2024). Psychological Capital and Counterproductive Work Behavior.
- Nemteanu, M. & Dabija, D. (2021). Job Satisfaction and CWB in Emerging Markets.
- Suyasa, P. (2018). Interpersonal and Organizational Deviance Scale – Indonesian Version.
- Zhang, M. et al. (2023). Psychological Capital and Work Engagement.
- Kusna, A.A.D. (2022). Penurunan Kualitas ASN di Indonesia. The Columnist.
- Setiawati, S. (2024). Pelaku Kasus Korupsi Didominasi PNS. CNBC Indonesia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda