Oleh: Fadilla Putri Awalia Program Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina
Denpasar, JurnalPost.com — Bali selama puluhan tahun dikenal sebagai wajah pariwisata Indonesia yang ramah, terbuka, dan multikultural. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kawasan wisata di Bali menunjukkan penurunan jumlah pengunjung. Di saat yang sama, Bali juga menghadapi kritik yang lebih sensitif, yakni tudingan sikap eksklusif hingga rasis terhadap pendatang dan wisatawan tertentu. Kombinasi antara sepinya kunjungan dan munculnya stigma sosial ini menjadi tantangan serius bagi citra pariwisata Bali di era digital.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan pariwisata tidak lagi hanya berkaitan dengan keindahan alam dan budaya, tetapi juga dengan persepsi sosial, narasi media, dan strategi komunikasi publik. Bali tidak hanya dituntut untuk memulihkan jumlah wisatawan, tetapi juga menjaga reputasi sebagai ruang yang aman, inklusif, dan ramah bagi semua.
Konteks dan kronologi fenomena
Siapa yang terdampak dari sepinya kawasan wisata ini adalah pelaku industri pariwisata lokal, masyarakat adat, serta pemerintah daerah. Apa yang terjadi adalah menurunnya arus kunjungan di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengandalkan pariwisata massal. Kapan kondisi ini terlihat terutama dalam beberapa periode pascapandemi, ketika pemulihan pariwisata tidak berjalan merata. Di mana fenomena ini terasa terutama di kawasan di luar pusat wisata utama.
Mengapa Bali mengalami situasi ini dipengaruhi oleh perubahan perilaku wisatawan, tekanan ekonomi global, serta persepsi publik yang terbentuk di media sosial. Bagaimana kondisi ini berkembang menunjukkan bahwa pariwisata Bali kini berada dalam fase evaluasi dan reposisi citra.
Sepinya Bali dan perubahan pola wisata
Sepinya beberapa kawasan wisata di Bali juga dikaitkan dengan faktor eksternal yang bersifat situasional. Sejumlah pelaku industri pariwisata menilai kondisi cuaca yang kurang bersahabat, khususnya hujan berkepanjangan dan angin kencang, turut memengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung. Selain itu, kenaikan harga tiket pesawat domestik dan internasional dinilai menjadi faktor signifikan yang menekan mobilitas wisatawan, terutama wisatawan nusantara.
Di sisi lain, terjadi pula pergeseran pola liburan ke destinasi alternatif seperti Yogyakarta, Bandung, dan sejumlah kota wisata berbasis budaya lainnya. Pergeseran ini diperkuat oleh narasi di media sosial yang menampilkan destinasi-destinasi tersebut sebagai lebih terjangkau, ramah, dan relevan dengan selera wisatawan muda. Dalam konteks ini, Bali tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi menghadapi kompetisi citra yang semakin ketat di ruang digital.
Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa narasi Bali sepi tidak sepenuhnya akurat. Aktivitas pariwisata dinilai masih berlangsung, meskipun distribusinya tidak merata. Keramaian masih terkonsentrasi di titik-titik tertentu, sementara wilayah lain mengalami perlambatan.

Pernyataan pemerintah pusat terkait isu sepinya Bali
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa Bali pada prinsipnya tetap menjadi destinasi utama pariwisata nasional. Ia menyatakan, “Bali tidak sepi. Wisatawan tetap datang, hanya pola kunjungannya yang berubah dan tidak selalu terlihat di tempat-tempat yang sama seperti sebelumnya.” Pernyataan ini menekankan bahwa dinamika pariwisata pascapandemi menuntut pembacaan data yang lebih komprehensif.
Widiyanti juga menyoroti pentingnya tidak membangun persepsi negatif secara berlebihan di media sosial. Ia menegaskan, “Narasi di media sosial sangat cepat membentuk opini publik. Karena itu, kami mendorong komunikasi yang berimbang agar masyarakat memahami kondisi pariwisata Bali secara utuh.” Menurutnya, isu harga tiket, cuaca, dan pergeseran destinasi merupakan tantangan nasional, bukan persoalan Bali semata.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus mendorong diversifikasi destinasi dan penguatan pariwisata berkualitas. “Kami ingin memastikan pariwisata tidak hanya ramai secara angka, tetapi juga berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal,” ujarnya.
Kritik rasisme dan persepsi publik
Dalam beberapa tahun terakhir, Bali juga disorot akibat narasi di media sosial yang menyebut adanya perlakuan tidak adil terhadap pendatang atau wisatawan tertentu. Kritik tersebut sering kali bersifat generalisasi dan tidak selalu didukung data yang komprehensif, namun tetap membentuk persepsi publik secara luas.
Isu ini menempatkan Bali dalam posisi defensif. Di satu sisi, masyarakat Bali berupaya menjaga adat dan kearifan lokal. Di sisi lain, ruang digital kerap menyederhanakan konflik sosial menjadi label rasis atau eksklusif. Ketegangan ini memperlihatkan pentingnya komunikasi publik yang sensitif dan proporsional.
Respons wali kota terhadap isu rasisme dan pariwisata
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menegaskan bahwa Bali bukan wilayah yang menutup diri. Ia menyatakan, “Bali itu terbuka untuk siapa saja. Yang kami jaga adalah tata krama, aturan, dan saling menghormati budaya lokal.” Menurutnya, penegakan aturan tidak dapat disamakan dengan sikap diskriminatif.
Dalam pernyataan lain, ia menambahkan, “Kami tidak pernah membedakan orang berdasarkan asal atau latar belakang. Yang kami minta hanya satu, patuhi aturan dan hormati budaya setempat.” Pernyataan ini bertujuan meluruskan stigma rasisme yang berkembang di ruang digital.
Peran masyarakat Bali dalam merespons stigma
Masyarakat Bali turut berperan aktif menghadapi stigma tersebut. Berbagai komunitas lokal, pelaku pariwisata, dan generasi muda Bali memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan inklusivitas dan dialog budaya. Nilai tat twam asi kerap dikedepankan sebagai landasan bahwa setiap individu dipandang setara.
Inisiatif pariwisata berbasis komunitas juga dikembangkan sebagai bentuk komunikasi kultural. Wisatawan diajak terlibat langsung dalam aktivitas sosial dan budaya, sehingga tercipta pemahaman yang lebih mendalam dan mengurangi jarak sosial antara tuan rumah dan pengunjung.
Analisis komunikasi pariwisata dan reputasi
Dari perspektif komunikasi, Bali tengah menghadapi krisis persepsi, bukan krisis identitas. Tantangan utama terletak pada bagaimana realitas sosial dikomunikasikan dan dimaknai publik. Dalam era digital, persepsi sering kali lebih berpengaruh daripada fakta objektif.
Reposisi citra pariwisata Bali perlu menekankan bahwa pelestarian budaya dan penegakan aturan merupakan bagian dari keberlanjutan, bukan bentuk eksklusivitas. Tanpa strategi komunikasi yang konsisten dan empatik, stigma negatif berpotensi terus direproduksi.
Adaptasi terhadap generasi muda dan wisata berkelanjutan
Generasi muda, khususnya Gen Z, menjadi aktor penting dalam membentuk opini pariwisata. Mereka cenderung kritis terhadap isu keadilan sosial, namun juga terbuka terhadap edukasi dan dialog. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi yang partisipatif dan transparan menjadi kunci.
Melibatkan generasi muda Bali sebagai duta budaya digital dapat memperkuat narasi inklusivitas secara autentik. Strategi ini tidak hanya membantu pemulihan citra, tetapi juga mendorong pariwisata yang lebih merata dan berkelanjutan.
Penutup
Sepinya kawasan wisata di Bali, kritik rasisme, serta dinamika persepsi publik menunjukkan bahwa pariwisata modern menuntut lebih dari sekadar daya tarik alam. Reputasi sosial dan kualitas komunikasi publik menjadi faktor penentu keberlanjutan destinasi.
Melalui klarifikasi pemerintah pusat dan daerah, peran aktif masyarakat, serta strategi komunikasi yang adaptif, Bali memiliki peluang untuk terus mempertahankan posisinya sebagai destinasi wisata unggulan yang ramah, inklusif, dan relevan dengan nilai-nilai generasi masa kini.
Daftar pustaka Anholt, S. (2010). Places: Identity, image and reputation. Palgrave Macmillan. Bloom, P. (2017). Against empathy: The case for rational compassion. Ecco. Couldry, N., & Hepp, A. (2017). The mediated construction of reality. Polity Press. Hall, C. M., & Page, S. J. (2014). The geography of tourism and recreation. Routledge. Thompson, J. B. (2005). The new visibility. Theory, Culture & Society, 22(6), 31–51.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda