Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Ketika Para Guru Mengungkapkan dengan Jujur Kelemahannya

Ketika Para Guru Mengungkapkan dengan Jujur Kelemahannya

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
17 Februari 2018, 19.39 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Ketika Para Guru Mengungkapkan dengan Jujur Kelemahannya

Nusa Tenggara Timur, - Sumba, JURNALPOST “Saya belum mampu mengelola kelas dengan baik ketika anak-anak ribut. Saya jarang membuat media sendiri yang bisa mengefektifkan pembelajaran. Berkaitan dengan kurikulum, saya masih kurang memahami cara penilaian dengan memakai kurikulum 13,” ujar bu Yuli, salah satu guru kelas awal dari salah satu sekolah dasar di Kecamatan Hahar, Sumba Timur, 15 Februari 2018

Lain lagi dengan Ibu Kartini, “Saya kemarin tidak melakukan apersepsi atau awalan mengajar. Saya langsung masuk ke pembelajaran inti, padahal apersepsi itu penting untuk mengingat kembali pembelajaran sebelumnya. Saya waktu itu kurang mempersiapkan diri sebelum mengajar,” ujarnya polos.

IKLAN

Ibu Mardiana, pengajar kelas satu sekolah dasar mengungkapkan bahwa dari dua puluh sembilan orang muridnya, hanya empat yang sudah benar-benar lancar membaca. Lainnya masih terbata-bata. Ia merasa belum memahami secara benar bagaimana mengajar secara efektif yang membuat anak bisa menyambungkan huruf dan membaca lancar dengan cepat.

Agar Murid Pintar, Guru-Guru Ini Malah Mengajar Pakai Bahasa Daerah
Baca Juga

Agar Murid Pintar, Guru-Guru Ini Malah Mengajar Pakai Bahasa Daerah

Guru- guru tersebut adalah sebagaian dari guru-guru dari tiga sekolah yang diajak kembali oleh INOVASI, sebuah program Pendidikan yang dibiayai oleh pemerintah Australia, untuk merenungkan kelemahan-kelemahannya selama ini dalam pembelajaran. Bukan untuk dihukumi, atau dinilai, tapi untuk dicari jalan keluarnya. Kekurangan atau kelemahan tersebut dianggap sebagai masalah yang memiliki akar masalah dan mereka juga diharapkan bisa merancang sendiri kegiatan untuk mengatasi akar masalahnya. Kegiatan program yang diharapkan bisa membuat mereka lebih siap, mampu dan nyaman dalam mengajar.

Namun dibalik ungkapan kejujuran tersebut, ada perjuangan tulus yang mereka lakukan untuk sekolah mereka. Mereka semua adalah guru honorer yang sudah mengajar kelas awal lebih dari sepuluh tahun, dengan honor yang amat minim, di bawah 300 ribuan.

Ibu Mardiana , misalnya, sudah mengajar selama 13 tahun. Awalnya di hanya lulus SMA dan diminta oleh sekolah untuk mengajar karena sekolah kekurangan guru. Ia langsung mengatakan siap. “Jadi waktu mengajar, karena saya hanya lulusan SMA, saya asal mengajar saja. Saya tidak tahu waktu itu metode-metode mengajar,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kompetensinya, ia melanjutkan kuliah PGSD jarak jauh yang ia tempuh mulai 2006 dan selesai pada tahun 2013 atau selama tujuh tahun. Biaya kuliahnya 750 ribu per bulan. Uang honor yang ia terima per triwulan dari sekolah sebenarnya tidak cukup untuk membiayai hidup dan SPPnya tersebut. Akhirnya ia mengajar sambil jualan kue. Ia sempat ambil cuti semester beberapa kali karena tak kuat dengan biaya kuliahnya.

IMG 0170
Baca Juga

Jujur Dimulai dari Meja Kasir: Merancang Gerakan Kejujuran dari Kebiasaan Kecil Mahasiswa

IKLAN

Demikian juga ibu Kartini. Ia sudah menjadi guru honorer 12 tahun. Mulai tahun 2005. Gaji honorernya juga tak cukup untuk membayar kehidupan sehari-hari dan kuliah S1 PGSD yang ia tempuh, sehingga beberapa kali mengambil cuti semester. Hal yang sama juga terjadi pada Ibu Yuli.

Mereka adalah para guru kelas awal yang memiliki dedikasi tinggi untuk membuat anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik. Tanpa banyak digaji, dengan beban kehidupan modern yang amat tinggi, mereka tetap bekerja sepenuh hati dan tetap melanjutkan kuliah untuk meningkatkan kapasitas mereka. Mereka sudah menisbahkan dan mendedikasikan dirinya untuk mencerdaskan anak didik.

Mereka juga amat haus pembelajaran dan pelatihan agar bisa meningkatkan kompetensi mereka yang mereka rasa masih sangat kurang. Di kecamatan Hahar, tempat sekolah tersebut, internet masih sangat susah dicapai. Sinyal telepon hanya bisa dicapai di beberapa titik tertentu saja sehingga informasi pendidikan juga susah diakses.

“Saya di sekolah harus mengajar memakai K13, sedangkan saya belum pernah menerima pelatihan tersebut dan juga susah mendapatkan akses informasi. Akhirnya untuk mengatasi kelemahan saya, saya belajar dari teman saya, ibu Servina,” ujar ibu Yuli.

Guru bersama peserta didik
Baca Juga

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Mereka juga mengatakan bahwa pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG), sebagai ajang untuk meningkatkan kompetensi guru, kurang rutin dilakukan oleh sekolah. Hal ini, menurut mereka kemungkinan karena kurangnya dana. Di sekolah mereka, KKG dilakukan rata-rata cuma satu kali per satu semester.

“Oleh karena itu, kami berharap INOVASI, setelah kegiatan eksplorasi masalah-masalah kami ini, melatih kami untuk membuat kami lebih kreatif, mengajar dan mengelola kelas dengan lebih baik, ” harap Ibu Mardiana.

Program INOVASI di NTT dimulai pada bulan Juli 2017. Penandatanganan MoUnya dengan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur dilakukan bulan November 2017. Program ini akan dilaksanakan sampai tahun 2019.

“Kita berharap semua pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat, memikirkan nasib guru. Peningkatan kompentesi dan taraf hidup mereka sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak-anak di sekolah,” ujar Hironimus Sugi, Provincial Manager INOVASI untuk NTT di Sumba Timur.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-para-guru-mengungkapkan-dengan-jujur-kelemahannya/6189/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 06 November 2026, 05.59 WITA

  • #Guru
  • #Jujur
  • #NTT
  • #Sumba

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Telkom University Hadirkan Teknologi IoT untuk Pantau Kesuburan Tanah Petani di Banyumas

FH UI dan KOMPAK Jakarta Edukasi Anak Muda Kenali Modus Perdagangan Orang Lewat Simulasi Interaktif

Mahasiswa Universitas Pamulang Gandeng PT Aratech Nusantara Indonesia Kembangkan Sistem HRIS untuk Digitalisasi Karyawan

82,4 Persen Guru Sangat Membutuhkan Flipbook Berbasis Pembelajaran Mendalam untuk Mendukung Kurikulum Merdeka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ketoprak Sedap Malam di Cirebon Jual 35 Porsi Sehari, Ini Hasil Kajian Kelayakan Usahanya

Berkarya dengan Teknologi: Mengembangkan Kreativitas dan Nilai Produk Bersama Anak-Anak Jolosutro

Menatap Masa Depan Digital: Ketika Teknologi AI Hadir di Waduk Jatiluhur

Christianto Salimanan Raih Best Pitching di Indonesia Youth Summit 2026, Usung 1.000 Garuda Impact

Pilihan Editor

  1. 1 Plagiarisme di Kalangan Mahasiswa sebagai Pelanggaran Integritas Akademik
  2. 2

    Nasabah Aninda Apresiasi Pelayanan BRI Cabang Bojonegoro, Transaksi Makin Mudah dan Nyaman

  3. 3

    Tarbiyah vs Taklim: Mengapa Santri Lebih Butuh Dididik daripada Sekadar Diajari?

  4. 4

    Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. 5

    Logat Jawa Dianggap Kampungan, Ketika Cara Berbicara Justru Menjadi Alasan untuk Diremehkan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.