Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Membangun Generasi Pemikir Kritis: Ketika Psikologi Kognitif Menjadi Fondasi Pembelajaran Sains Berbasis Literasi dan Teknologi

Membangun Generasi Pemikir Kritis: Ketika Psikologi Kognitif Menjadi Fondasi Pembelajaran Sains Berbasis Literasi dan Teknologi

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
13 April 2026, 13.49 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Generasi Pemikir Kritis
Foto Ilustrasi Generasi Pemikir Kritis/Desain by Annisa JurnalPost
Oleh: Matsun (Mahasiswa Program Doktor Pendidikan IPA Universitas Sebelas Maret Surakarta) Dosen Pengampu Mata Kuliah Psikologi Kognitif: Dr. Baskoro Adi Prayitno, S.Pd., M.Pd.  Di sebuah kelas fisika SMA, seorang guru bertanya: “Apakah energi nuklir aman untuk Indonesia?” Separuh siswa diam, separuh lagi menjawab berdasarkan berita yang pernah mereka baca tanpa analisis, tanpa bukti, tanpa pertimbangan mendalam. Itulah potret krisis berpikir kritis yang tengah kita hadapi. Padahal, dalam era di mana hoaks tentang radiasi, vaksin, dan teknologi menyebar lebih cepat dari kebenaran, kemampuan kognitif tingkat tinggi bukan sekadar nilai lebih ia adalah bekal bertahan hidup dalam masyarakat informasi. Psikologi kognitif, sebagai cabang ilmu yang mempelajari cara manusia memproses, menyimpan, dan menggunakan informasi, menawarkan jawaban ilmiah atas pertanyaan mendasar: bagaimana sesungguhnya otak siswa belajar, dan bagaimana kita merancang pembelajaran yang selaras dengan cara kerja pikiran manusia?

Belajar Bukan Sekadar Menghafal

Jean Piaget, psikolog Swiss yang karyanya menjadi tonggak psikologi pendidikan modern, menegaskan bahwa belajar adalah proses aktif konstruksi pengetahuan, bukan transfer pasif informasi dari guru ke murid. Dalam teori perkembangan kognitifnya, Piaget (1952) menjelaskan bahwa individu membangun pemahaman melalui proses asimilasi dan akomodasi—yakni mencocokkan informasi baru dengan skema yang telah ada, atau memodifikasi skema tersebut ketika informasi baru tidak dapat diakomodasi begitu saja. Implikasi teori ini terhadap pembelajaran sains sangat dalam. Ketika siswa mempelajari radioaktivitas, mereka tidak cukup hanya menghafal rumus peluruhan radioaktif. Mereka perlu mengaitkan konsep tersebut dengan pengetahuan sebelumnya, mempertanyakannya, mengujinya dalam konteks nyata, dan mengintegrasikannya ke dalam struktur pengetahuan yang sudah mereka miliki. Inilah yang dimaksud dengan belajar bermakna. "Tujuan utama pendidikan adalah menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, bukan sekadar mengulang apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya." — Jean Piaget, Psikolog Perkembangan Kognitif

Beban Kognitif dan Desain Pembelajaran

Teori Cognitive Load yang dikembangkan oleh John Sweller (1988) memberikan kerangka penting lainnya. Sweller membedakan tiga jenis beban kognitif: intrinsic load (kompleksitas materi itu sendiri), extraneous load (beban yang muncul dari cara penyajian yang buruk), dan germane load (beban yang digunakan untuk membangun skema baru yang bermakna). Pembelajaran yang efektif adalah yang meminimalkan extraneous load agar kapasitas memori kerja siswa dapat digunakan sepenuhnya untuk membangun skema kognitif yang kuat. Dalam konteks materi radioaktivitas—yang secara inheren kompleks dan sarat konsep abstrak—prinsip ini menjadi sangat relevan. Model pembelajaran yang dirancang tanpa mempertimbangkan beban kognitif siswa justru dapat menciptakan kebingungan alih-alih pemahaman mendalam.

Metakognisi: Kunci Pemikir Mandiri

John Flavell (1979), yang dikenal sebagai pelopor kajian metakognisi, mendefinisikannya sebagai "berpikir tentang berpikir" atau kemampuan seseorang untuk memonitor dan mengatur proses kognitifnya sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan metakognitif tinggi mampu mengetahui kapan mereka paham dan kapan tidak, memilih strategi belajar yang tepat, serta mengevaluasi hasil belajar mereka secara mandiri. Metakognisi adalah jantung dari Higher Order Thinking Skills (HOTS)—kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mencakup analisis, evaluasi, dan kreasi dalam taksonomi Bloom yang direvisi. Tanpa metakognisi, pembelajaran sains hanya akan menghasilkan siswa yang mampu mengerjakan soal, bukan ilmuwan muda yang mampu memecahkan masalah nyata. "Pendidikan literasi sains bukan tentang menghasilkan ilmuwan masa depan semata, melainkan tentang membentuk warga negara yang melek sains dan mampu mengambil keputusan berbasis bukti." — OECD PISA Framework, 2022

Model STLIS: Jembatan antara Teori dan Kelas

Di sinilah letak urgensi pengembangan Model Pembelajaran Science Technology Literacy Society (STLIS). Model ini tidak hadir dalam ruang hampa; ia dibangun di atas fondasi kokoh psikologi kognitif. Dengan mengintegrasikan literasi sains dan teknologi ke dalam kerangka pembelajaran berbasis masyarakat (society), STLIS dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang mengaktifkan seluruh kapasitas kognitif siswa—dari pemrosesan informasi tingkat dasar hingga evaluasi kritis dan kreasi solusi. Vygotsky (1978) dalam teori Zone of Proximal Development (ZPD) menekankan bahwa perkembangan kognitif terjadi paling optimal ketika siswa bekerja dalam zona antara apa yang dapat mereka lakukan sendiri dan apa yang dapat mereka capai dengan bantuan orang yang lebih kompeten. Model STLIS mengimplementasikan prinsip ini melalui scaffolding terstruktur—di mana guru dan teman sebaya berperan sebagai mitra kognitif yang membantu siswa menjangkau level pemikiran yang lebih tinggi.

Sikap Ilmiah: Lebih dari Sekadar Karakter

Mengapa sikap ilmiah rasa ingin tahu, objektivitas, kejujuran intelektual, dan keterbukaan terhadap bukti menjadi variabel krusial dalam pembelajaran berbasis STLIS? Jawabannya bersumber dari psikologi kognitif itu sendiri. Penelitian Dweck (2006) tentang growth mindset membuktikan bahwa keyakinan siswa tentang sifat kecerdasan apakah ia tetap atau dapat berkembang secara signifikan memengaruhi motivasi, ketahanan menghadapi kesulitan, dan pada akhirnya, prestasi akademik mereka. Sikap ilmiah yang positif adalah manifestasi dari growth mindset dalam konteks pembelajaran sains: siswa yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dan tidak takut salah akan lebih termotivasi untuk mengeksplorasi, bereksperimen, dan berpikir kritis. Lebih jauh, dalam konteks materi radioaktivitas yang rentan terhadap miskonsepsi dan kepanikan publik, sikap ilmiah berperan sebagai filter kognitif yang membedakan antara fakta dan hoaks. Siswa yang terlatih berpikir ilmiah tidak akan mudah percaya pada klaim bahwa "radiasi selalu mematikan" atau "energi nuklir pasti berbahaya" tanpa terlebih dahulu mencari, menganalisis, dan mengevaluasi bukti yang ada.

Relevansi untuk Indonesia Hari Ini

Data PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 68 dari 81 negara peserta dalam literasi sains. Angka ini bukan sekadar statistik; ia mencerminkan kesenjangan nyata antara kemampuan berpikir kritis siswa Indonesia dengan tuntutan dunia modern. Di era industri 4.0 dan kini 5.0, di mana kecerdasan buatan mengotomasi pekerjaan rutin, kemampuan berpikir tingkat tinggi yang didukung sikap ilmiah yang kuat adalah kompetensi yang tidak dapat digantikan mesin. Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila sesungguhnya telah menangkap urgensi ini. Namun, dokumen kurikulum yang baik tidak secara otomatis menghasilkan pembelajaran yang baik. Dibutuhkan model pembelajaran yang secara eksplisit mengintegrasikan prinsip-prinsip psikologi kognitif ke dalam praktik kelas sehari-hari itulah kontribusi yang ingin diberikan oleh model STLIS.

Penutup: Dari Kelas ke Peradaban

Kembali ke kelas fisika di awal tulisan ini. Siswa yang menjawab pertanyaan tentang energi nuklir berdasarkan emosi semata bukanlah siswa yang kurang bernalar; mereka adalah produk dari sistem pembelajaran yang belum optimal mengembangkan kapasitas kognitif dan sikap ilmiah mereka. Dengan memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi kognitif mulai dari konstruktivisme Piaget, teori beban kognitif Sweller, metakognisi Flavell, hingga ZPD Vygotsky kita dapat merancang pengalaman belajar yang benar-benar mengubah cara siswa berpikir. Karena pada akhirnya, tujuan tertinggi pendidikan bukan mengisi kepala siswa dengan jawaban yang benar melainkan mengembangkan pikiran yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, mengevaluasi bukti secara kritis, dan mengambil keputusan yang bijak di tengah dunia yang semakin kompleks. Itulah pemikir kritis. Itulah warga negara yang kita butuhkan. REFERENSI [1] Piaget, J. (1952). The Origins of Intelligence in Children. International Universities Press. [2] Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285. [3] Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring. American Psychologist, 34(10), 906–911. [4] Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press. [5] Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House. [6] Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing. Longman. [7] OECD. (2023). PISA 2022 Results: The State of Learning and Equity in Education. OECD Publishing. [8] National Research Council. (2012). A Framework for K–12 Science Education. The National Academies Press. [9] Yager, R. E. (1996). Science/Technology/Society as Reform in Science Education. SUNY Press. [10] Kemdikbudristek. (2022). Kurikulum Merdeka: Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum. Kemendikbudristek RI.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/membangun-generasi-pemikir-kritis-ketika-psikologi-kognitif-menjadi-fondasi-pembelajaran-sains-berbasis-literasi-dan-teknologi/92140/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.45 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Sebelas Maret

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Pilihan Editor

  1. 1 Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik
  2. 2

    Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  3. 3

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  4. 4

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  5. 5

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.