Oleh: Devi Novitasari
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang
JurnalPost.com - Di banyak ruang rapat perusahaan, strategi bisnis sering disusun dengan angka-angka yang terlihat meyakinkan. Target pertumbuhan dinaikkan dua kali lipat, ekspansi direncanakan ke beberapa kota baru, hingga transformasi digital diproyeksikan berjalan dalam waktu singkat.
Semua tampak terstruktur dalam dokumen dan slide presentasi. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang terkadang justru terlupakan: siapa yang akan menjalankan seluruh rencana tersebut?
Pertanyaan sederhana itu menyentuh persoalan penting dalam manajemen modern. Banyak organisasi mampu merancang strategi bisnis secara detail, tetapi belum memiliki perencanaan sumber daya manusia (SDM) yang sama matangnya.
Dalam praktiknya, SDM masih kerap ditempatkan sebagai urusan setelah strategi bisnis ditetapkan. Direksi menentukan arah perusahaan lebih dulu, kemudian bagian Human Resources Development (HRD) diminta mencari tenaga kerja yang dibutuhkan.
Padahal, membangun kompetensi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Anggaran dan proyeksi keuangan mungkin dapat direvisi dalam hitungan jam atau hari, tetapi membangun kapabilitas manusia membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Karena itu, perencanaan SDM seharusnya tidak ditempatkan sebagai pelengkap dari rencana bisnis. SDM justru perlu dilibatkan sejak tahap awal ketika organisasi menentukan arah dan strategi masa depannya.
Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan konsep manajemen SDM modern. Dalam tinjauan literatur yang dilakukan Fadillah Tri Sari Nasrul (2026) pada Jurnal JBBE, dijelaskan bahwa SDM tidak lagi hanya berfungsi sebagai bagian administratif yang mengurus absensi, penggajian, atau administrasi karyawan.
Manajemen SDM memiliki peran strategis sebagai penghubung antara tujuan bisnis dengan kemampuan internal organisasi untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Namun, dalam praktiknya, hubungan antara strategi bisnis dan strategi SDM di sejumlah organisasi masih bersifat one-way linkage. Dalam pola ini, fungsi SDM bergerak setelah strategi bisnis selesai dirumuskan.
Dengan kata lain, SDM masih lebih sering berada dalam posisi reaktif dibanding menjadi mitra strategis yang ikut menentukan arah organisasi.
Transformasi Digital Membutuhkan Kesiapan Manusia
Dampak ketidaksinkronan antara strategi bisnis dan SDM dapat terlihat dalam proses transformasi digital.
Tidak sedikit perusahaan mengeluarkan investasi besar untuk membeli sistem, aplikasi, perangkat lunak, maupun teknologi baru. Namun, investasi tersebut belum tentu memberikan hasil maksimal apabila organisasi tidak menyiapkan tenaga kerja yang mampu menggunakannya secara efektif.
Kajian Zhang dan Chen (2024) yang dirujuk Nasrul menjelaskan bahwa digitalisasi secara menyeluruh turut mengubah cara perusahaan melakukan rekrutmen, pelatihan, hingga evaluasi terhadap karyawan.
Artinya, transformasi digital bukan semata persoalan teknologi.
Ketika perusahaan memasang teknologi baru tetapi tidak mempersiapkan pola kerja, kompetensi, dan kemampuan karyawannya, teknologi tersebut berpotensi menjadi tambahan biaya tanpa memberikan produktivitas yang diharapkan.
Sebaliknya, ketika perencanaan SDM dilakukan secara adaptif dan terintegrasi dengan strategi organisasi, hasilnya dapat berbeda.
Penelitian Khaeruman dan rekan-rekannya pada PT Nestle Indonesia menunjukkan bahwa perencanaan SDM yang mencakup analisis kebutuhan tenaga kerja, pelatihan berkelanjutan, dan diversifikasi talenta dapat mendukung peningkatan kinerja organisasi secara signifikan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dimiliki.
Kualitas kompetensi, keterlibatan, motivasi, dan produktivitas karyawan menjadi faktor yang tidak kalah penting. Semua itu perlu dibangun melalui proses perencanaan yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
Perusahaan Lincah Harus Memiliki SDM yang Siap
Ketangkasan organisasi juga tidak hanya terlihat dari seberapa cepat manajemen mengambil keputusan bisnis.
Perusahaan dapat disebut adaptif apabila memiliki sumber daya manusia yang mampu bergerak ketika kondisi pasar berubah.
Strategi bisnis mungkin dapat berubah hanya dalam beberapa bulan. Produk baru dapat muncul, teknologi berkembang, perilaku konsumen berubah, dan kompetisi menjadi semakin ketat.
Dalam kondisi seperti itu, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang juga mampu beradaptasi.
Rekrutmen yang berorientasi pada kualitas, pelatihan yang sesuai perkembangan kebutuhan bisnis, serta strategi retensi karyawan menjadi bagian penting dalam menjaga kesiapan organisasi.
Tanpa perencanaan tersebut, perusahaan berisiko selalu terlambat menyesuaikan diri karena harus mencari atau membangun kompetensi baru ketika perubahan sudah terjadi.
Mengintegrasikan Rencana Bisnis dan SDM
Agar perencanaan bisnis dan perencanaan SDM dapat berjalan secara selaras, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan.
Pertama, melibatkan pimpinan SDM sejak tahap perumusan strategi.
HRD sebaiknya tidak baru dilibatkan ketika perusahaan memasuki tahap implementasi. Pimpinan bidang SDM perlu berada dalam proses diskusi sejak arah bisnis masih dirancang.
Dengan demikian, setiap rencana ekspansi, investasi, atau transformasi dapat langsung dianalisis berdasarkan kesiapan tenaga kerja yang tersedia.
Kedua, menerjemahkan target bisnis menjadi kebutuhan kompetensi.
Target perusahaan tidak cukup hanya dinyatakan dalam bentuk angka.
Jika perusahaan ingin melakukan ekspansi, misalnya, maka harus diketahui kompetensi apa yang diperlukan untuk mendukung ekspansi tersebut.
Perusahaan mungkin membutuhkan pemimpin lapangan yang kuat, tenaga pemasaran baru, kemampuan pengelolaan operasional, atau sumber daya manusia yang memahami karakter pasar di wilayah baru.
Begitu pula dengan digitalisasi. Perusahaan tidak cukup hanya memiliki tim teknologi informasi. Literasi digital dan kemampuan membaca data mungkin harus dikembangkan pada berbagai lini organisasi.
Ketiga, memetakan kesenjangan kompetensi secara objektif.
Perusahaan perlu membandingkan kemampuan yang dimiliki tenaga kerja saat ini dengan kemampuan yang dibutuhkan pada masa mendatang.
Jika terdapat kesenjangan, organisasi dapat menentukan langkah yang tepat melalui upskilling, reskilling, maupun pengembangan talenta internal.
Perekrutan tenaga baru memang dapat menjadi pilihan, tetapi bukan satu-satunya solusi. Dalam banyak kondisi, mengembangkan karyawan yang sudah memahami budaya dan karakter organisasi justru dapat menjadi pilihan yang lebih efektif.
Keempat, menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan SDM.
Keputusan mengenai tenaga kerja sebaiknya tidak hanya didasarkan pada intuisi pimpinan.
Organisasi perlu menggunakan data mengenai kompetensi karyawan, kebutuhan tenaga kerja, produktivitas, beban kerja, hingga kebutuhan posisi pada masa mendatang.
Pendekatan berbasis data membuat keputusan SDM lebih terukur dan dapat disesuaikan dengan arah bisnis perusahaan.
Strategi Tidak Akan Berjalan Sendiri
Tentu saja, integrasi antara strategi bisnis dan perencanaan SDM bukan formula instan yang secara otomatis menjamin keberhasilan organisasi.
Nasrul dalam kajiannya juga mencatat masih diperlukan penelitian kuantitatif yang lebih kuat untuk melihat dampak integrasi strategi bisnis dan SDM dalam jangka panjang.
Namun, keterbatasan data seharusnya tidak menjadi alasan bagi organisasi untuk mengabaikan perencanaan sumber daya manusia.
Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi dorongan bagi perusahaan untuk mulai mengukur, mengevaluasi, dan memperbaiki pengelolaan SDM secara sistematis.
Pada akhirnya, kualitas rencana bisnis tidak dapat diukur hanya dari tebalnya dokumen, besarnya target pendapatan, atau ambisi ekspansi yang ditetapkan.
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
Bukan sekadar, “Berapa banyak orang yang kita butuhkan?”
Pertanyaan yang seharusnya muncul adalah, “Kapabilitas manusia seperti apa yang harus kita bangun agar strategi bisnis ini benar-benar dapat dijalankan?”
Sebab, sehebat apa pun strategi perusahaan, rencana tersebut tidak akan berjalan dengan sendirinya.
Di balik teknologi, investasi, ekspansi, dan berbagai target bisnis, tetap ada manusia yang harus menjalankannya.
Tanpa perencanaan SDM yang matang, rencana bisnis pada akhirnya berisiko hanya menjadi angan-angan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda