Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. AI Mengubah Cara Kita Bekerja, Bukan Sekadar Pekerjaan Kita

AI Mengubah Cara Kita Bekerja, Bukan Sekadar Pekerjaan Kita

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
08 Juni 2026, 14.10 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Wanita bekerja di kantor modern

Oleh: Alifia Ainun Rizky, M.Psi.,Psikolog Dosen Administrasi Bisnis Universitas Negeri Makassar

JurnalPost.com -- Beberapa tahun terakhir, diskusi mengenai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) semakin mendominasi ruang publik. Mulai dari mahasiswa yang menggunakan AI untuk membantu menyusun tugas, pegawai yang memanfaatkan AI untuk membuat laporan, hingga perusahaan yang mulai mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnisnya. Di tengah perkembangan tersebut, muncul satu pertanyaan yang menjadi sumber kekhawatiran banyak orang: apakah AI akan menggantikan manusia?

IKLAN

Pertanyaan ini tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga telah berkembang menjadi isu psikologis dan manajerial. Banyak pekerja mulai merasa cemas terhadap masa depan karier mereka. Di sisi lain, organisasi menghadapi tantangan untuk mempertahankan produktivitas sekaligus memastikan bahwa transformasi digital tidak menimbulkan resistensi dari sumber daya manusianya. Oleh karena itu, isu AI saat ini tidak lagi dapat dilihat hanya dari sudut pandang teknologi, melainkan harus dipahami melalui perspektif psikologi dan administrasi bisnis secara bersamaan.

Screenshot 2026 09 25 113421
Baca Juga

SATU KLIK: Ikhtiar Guru Menghidupkan Literasi di Ruang Digital

Kekhawatiran mengenai hilangnya pekerjaan akibat AI sebenarnya memiliki dasar yang cukup kuat. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan bahwa hingga tahun 2030 akan terjadi pergeseran besar dalam pasar tenaga kerja global. Sebanyak 92 juta pekerjaan diperkirakan akan tergantikan atau mengalami disrupsi akibat perubahan teknologi dan otomatisasi. Namun, laporan yang sama juga memperkirakan munculnya 170 juta pekerjaan baru sehingga secara keseluruhan terdapat potensi penambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan di tingkat global. Dengan kata lain, masalah utamanya bukanlah hilangnya pekerjaan semata, melainkan perubahan jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan.

Data tersebut memberikan pesan penting bahwa AI tidak sedang menciptakan krisis pekerjaan, melainkan krisis adaptasi. Mereka yang mampu beradaptasi kemungkinan akan memperoleh peluang baru, sedangkan mereka yang tidak siap berisiko tertinggal. Dalam perspektif administrasi bisnis, kondisi ini menuntut organisasi untuk memikirkan ulang strategi pengelolaan sumber daya manusia. Organisasi tidak cukup hanya membeli teknologi terbaru, tetapi juga harus memastikan bahwa pegawainya memiliki kemampuan untuk bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut.

Dari sudut pandang psikologi industri dan organisasi, perubahan ini memunculkan fenomena yang menarik. Banyak pekerja mengalami apa yang dikenal sebagai job insecurity, yaitu perasaan tidak aman terhadap keberlangsungan pekerjaannya. Ketika seseorang merasa pekerjaannya dapat digantikan oleh mesin atau algoritma, tingkat kecemasan meningkat, motivasi menurun, dan keterikatan terhadap organisasi dapat melemah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas organisasi itu sendiri.

Fenomena ini mulai terlihat di berbagai sektor. Pekerjaan administratif yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit dengan bantuan AI. Pembuatan laporan, analisis data sederhana, pelayanan pelanggan dasar, hingga penyusunan materi presentasi dapat dilakukan secara otomatis. Akibatnya, banyak pekerja mulai mempertanyakan nilai tambah yang dapat mereka berikan dibandingkan teknologi yang tersedia.

Confident Dealer Amid Cars and Motorcycles
Baca Juga

Menghadapi Era Digital dan AI: Ketika Bisnis Rumahan Tidak Lagi Boleh Berpikir Rumahan

Namun, di sinilah letak kesalahpahaman yang sering terjadi. AI tidak dirancang untuk menggantikan seluruh aspek pekerjaan manusia. Justru berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterampilan yang semakin dibutuhkan pada era AI adalah keterampilan yang sulit direplikasi oleh mesin. Laporan World Economic Forum menunjukkan bahwa selain keterampilan teknologi, kemampuan berpikir kreatif, resiliensi, fleksibilitas, kepemimpinan, kolaborasi, dan kecerdasan sosial menjadi kompetensi yang semakin penting di masa depan. Bahkan sekitar 39 persen keterampilan yang digunakan pekerja saat ini diperkirakan akan mengalami perubahan dalam lima tahun ke depan.

IKLAN

Hal tersebut menunjukkan bahwa keunggulan manusia justru terletak pada aspek psikologis yang tidak dimiliki AI. Mesin dapat mengolah data dalam jumlah besar, tetapi tidak mampu memahami emosi manusia secara utuh. AI dapat menghasilkan berbagai alternatif solusi, tetapi tidak memiliki empati ketika harus menghadapi pelanggan yang sedang marah atau rekan kerja yang mengalami tekanan psikologis. AI mampu memberikan rekomendasi, tetapi tanggung jawab moral dan etika tetap berada pada manusia.

Isu ini semakin relevan ketika melihat hasil survei Microsoft dan LinkedIn terhadap 31.000 pekerja di 31 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa 82 persen pemimpin organisasi menganggap tahun ini sebagai momen penting untuk mendesain ulang strategi bisnis dan operasional mereka akibat perkembangan AI. Pada saat yang sama, 80 persen pekerja mengaku tidak memiliki cukup waktu dan energi untuk memenuhi tuntutan pekerjaan yang terus meningkat. Artinya, organisasi menghadapi paradoks: teknologi semakin canggih, tetapi tekanan psikologis pekerja juga semakin besar.

Dalam konteks administrasi bisnis, fenomena tersebut mengubah paradigma pengelolaan organisasi. Jika dahulu organisasi berfokus pada efisiensi proses, kini fokus mulai bergeser pada kemampuan membangun kolaborasi antara manusia dan AI. Banyak pakar menyebut kondisi ini sebagai era human-AI collaboration, yaitu situasi ketika manusia dan teknologi bekerja secara berdampingan untuk mencapai tujuan organisasi.

Beauty World Executive
Baca Juga

Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 Bahas Arah Baru Industri Aesthetic Indonesia

Konsep ini sesungguhnya memberikan peluang besar bagi Indonesia. Selama ini sebagian organisasi masih menghadapi masalah produktivitas, birokrasi yang lambat, serta keterbatasan sumber daya manusia. AI dapat membantu mengurangi pekerjaan rutin sehingga pegawai memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, inovasi, dan interaksi sosial. Dengan demikian, AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang memungkinkan manusia fokus pada aktivitas yang lebih bernilai.

Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila organisasi mampu mengelola aspek psikologis perubahan dengan baik. Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam transformasi digital adalah terlalu fokus pada teknologi dan mengabaikan kesiapan manusia. Organisasi membeli perangkat lunak baru, menerapkan sistem otomatisasi, atau mengadopsi AI tanpa memberikan ruang bagi pegawai untuk memahami manfaat, risiko, dan cara penggunaannya. Akibatnya, muncul resistensi yang justru menghambat keberhasilan transformasi.

Di sinilah peran penting kepemimpinan. Pemimpin masa depan tidak cukup hanya memahami strategi bisnis dan teknologi, tetapi juga harus memahami psikologi manusia. Mereka perlu membangun rasa aman, memberikan dukungan pembelajaran, dan menciptakan budaya organisasi yang mendorong adaptasi. Karyawan harus diyakinkan bahwa AI hadir untuk memperkuat kapasitas mereka, bukan semata-mata untuk menggantikan mereka.

Pada akhirnya, isu AI bukanlah tentang pertarungan antara manusia dan mesin. Isu yang sesungguhnya adalah tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan perubahan yang diciptakannya sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi selalu menghilangkan sebagian pekerjaan sekaligus menciptakan pekerjaan baru. Revolusi industri pernah menggantikan banyak pekerjaan manual, internet mengubah cara bisnis beroperasi, dan kini AI sedang mengubah cara manusia bekerja.

Pertanyaan yang paling relevan bukan lagi "apakah AI akan menggantikan manusia?", melainkan "manusia seperti apa yang akan tetap relevan di era AI?". Jawabannya adalah manusia yang mampu belajar, beradaptasi, berkolaborasi, berpikir kritis, dan membangun hubungan sosial yang bermakna. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan inti dari psikologi manusia dan sekaligus aset strategis yang harus dikelola oleh setiap organisasi.

Karena itu, keberhasilan organisasi di masa depan tidak akan ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi AI paling canggih, tetapi oleh siapa yang paling berhasil mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan kecerdasan manusia. Teknologi mungkin akan menjadi standar yang dimiliki semua organisasi, tetapi kemampuan mengelola manusia akan tetap menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ai-mengubah-cara-kita-bekerja-bukan-sekadar-pekerjaan-kita/94182/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.36 WITA

  • #Artificial Intelligence
  • #Universitas Negeri Makassar

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Pilihan Editor

  1. 1 Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai
  2. 2

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

  3. 3

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

  4. 4

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  5. 5

    Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.