Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Batik Ponorogo: Ketika Denyut Industri Lokal Terekam dalam Nama Jalan

Batik Ponorogo: Ketika Denyut Industri Lokal Terekam dalam Nama Jalan

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
13 April 2026, 11.13 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
batik Ponorogo
<strong>Akar Sejarah: Dari Pertanian Menuju Industri</strong>

Oleh: Daniel Trisakusumo

JurnalPost.com - Kalau kita membayangkan Ponorogo di masa lalu, mungkin yang terlintas bukanlah kota dengan aktivitas industri yang sibuk. Namun, sekitar pertengahan abad ke-20, ada pemandangan khas di beberapa kampung seperti Kauman. Pagi-pagi, bukan suara mesin yang terdengar, melainkan bunyi halus canting yang digoreskan ke kain. Di dalam rumah, beberapa perempuan duduk berdekatan, mengerjakan batik dengan sabar. Aktivitasnya sederhana, nyaris sunyi. Tapi justru dari situ, kehidupan ekonomi mulai bergerak.

IKLAN

Batik di Ponorogo sebenarnya sudah ada cukup lama. Sejak sekitar 1921, tanda-tandanya mulai terlihat. Ada koperasi batik; ada juga produksi kain mori sebagai bahan utama. Kala itu, Ponorogo sedang perlahan berubah: dari yang semula bergantung pada pertanian, berangsur bergeser ke aktivitas yang lebih beragam. Perdagangan mulai ramai dan orang-orang mencari peluang baru untuk bertahan hidup.

POLMED
Baca Juga

Sampah Jadi Rupiah, POLMED Cetak Peluang Usaha Baru bagi Ibu Rumah Tangga

Menariknya, perkembangan batik di Ponorogo tidak lepas dari peran individu. Salah satu yang kerap disebut adalah Kwee Seng, seorang pengusaha Tionghoa yang mulai mengembangkan usaha batik sekitar tahun 1930-an. Dari titik itulah keterampilan membatik menyebar ke masyarakat. Awalnya mungkin sekadar pekerjaan sampingan di sela-sela urusan rumah tangga, namun lama-lama justru menjadi sumber penghasilan yang cukup penting.

Masa Kejayaan: Puncak Industri dan Dampak Sosialnya

Periode 1950-an hingga 1960-an bisa disebut masa paling ramai bagi batik Ponorogo. Pengrajin makin banyak, tersebar di berbagai wilayah seperti Kauman, Ronowijayan, Kertosari, hingga Cokromenggalan. Skala industrinya pun tidak kecil. Sejarawan Inggris Christine Dobbin pernah mencatat bahwa Ponorogo merupakan salah satu sentra batik terbesar di Jawa pada abad ke-20, dengan sekitar 77 industri batik dan lebih dari 1.200 pengrajin. Gambaran ini memperlihatkan bahwa aktivitas membatik bukan sekadar usaha rumahan biasa, melainkan bagian penting dari struktur ekonomi lokal.

Dampaknya pun terasa dalam kehidupan sosial. Kawasan timur Pasar Kertosari dikenal sebagai kawasan orang berada. Rumah-rumahnya besar dan hampir semuanya punya usaha batik. Ada semacam identitas sosial yang terbentuk: jika seseorang punya usaha batik yang sukses, posisi sosialnya ikut terangkat. Batik bukan sekadar soal kain, tetapi juga soal status. Budi Santoso, anak pengusaha batik di Jalan Kawung, Kertosari, mengenang suasana tahun 1961 ketika hampir setiap rumah di kiri-kanan terlibat dalam produksi, menciptakan suasana yang hidup dan padat aktivitas.

UMKM Bandung
Baca Juga

Telkom University Gelar Pelatihan Branding Cerdas untuk Perkuat Identitas Merek UMKM Bandung

Batik dan Identitas Kota: Jejak dalam Tata Ruang Ponorogo

IKLAN

Jejak batik bahkan terukir dalam tata kota Ponorogo. Beberapa nama jalan diambil dari motif batik, seperti Jalan Kawung, Barong, Parang Tritis, Parang Kusumo, Parang Menang, Cinde Wilis, hingga Semen Remeng. Ini adalah penanda bahwa batik benar-benar menjadi bagian dari identitas kota, bukan sekadar industri biasa. Motif yang diproduksi pun beragam: sidoluhur, sidomulyo, parang, sekar jagad, sampai motif yang terinspirasi Reog. Kesenian khas Ponorogo itu merasuk ke dalam corak kain dan membuat setiap helainya menyimpan cerita.

Tantangan dan Solidaritas: Koperasi, Bahan Baku, dan Peran Perempuan

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Sejak awal, para pengusaha batik sudah menghadapi masalah bahan baku yang pelik. Kain mori, bahan dasar batik yang terbuat dari kapas tenun putih, sulit didapat dan harganya tidak terjangkau oleh pengusaha kecil. Akar persoalannya bersifat struktural: jalur impor dan distribusi kain mori dikuasai oleh jaringan dagang milik pengusaha asing, sehingga pengusaha batik pribumi berada dalam posisi tawar yang sangat lemah. Persaingan yang timpang inilah yang mendorong para pengusaha batik pribumi di Ponorogo untuk bersatu dan mendirikan koperasi sebagai bentuk perlawanan ekonomi. Dalam skala nasional, persoalan serupa mendorong pemerintah memberi wewenang kepada Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) sebagai distributor tunggal kain mori sejak 1953, melalui sistem yang dikenal sebagai pool cambrics. Meski begitu, ketersediaan kain mori di Ponorogo tetap menjadi kelemahan mendasar. Para perajin bergantung pada pasokan dari koperasi, dan ketika pasokan terganggu, produksi pun ikut terhenti. Menghadapi tekanan itu, Koperasi Batik Pembatik yang berdiri pada 1953 bahkan kemudian membangun pabrik mori sendiri, yaitu Pabrik Mori Sandang Buana, sebagai upaya memutus ketergantungan pada rantai distribusi yang tidak berpihak kepada mereka. Di saat yang sama, perempuan yang sebelumnya lebih banyak di rumah mulai terlibat aktif dalam produksi, menjadi bagian penting dalam rantai industri batik.

UMKM Frozen Food
Baca Juga

Jualan UMKM Frozen Food Naik-Turun di Bulan Biasa? Ini Pelajaran dari Riset di Balikpapan

Keruntuhan Industri: Gempuran Modernisasi dan Pergeseran Generasi

Perubahan zaman tidak bisa ditahan. Memasuki dekade 1980-an, batik printing mulai merangsek pasar. Produknya lebih cepat dibuat, lebih murah, dan bisa diproduksi massal. Batik tulis pun mulai kesulitan bersaing. Generasi muda tidak lagi tertarik meneruskan usaha. Mereka memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih stabil. Dukungan koperasi melemah, sehingga pengrajin kesulitan mendapatkan modal dan bahan baku. Satu per satu, usaha batik mulai berhenti.

Industri yang dulu ramai perlahan menyusut. Rumah-rumah produksi itu masih berdiri hingga sekarang, besar dan kokoh, namun sudah tidak lagi dipakai untuk membatik. Alat-alatnya banyak yang hilang. Tinggal bangunannya saja yang menjadi saksi bisu.

Refleksi: Sejarah yang Masih Bicara

Perjalanan batik di Ponorogo adalah gambaran kecil tentang bagaimana sebuah industri lokal bisa naik dan turun. Banyak faktor yang memainkan peran: ekonomi, teknologi, kebijakan, hingga perubahan gaya hidup. Ketika semua faktor mendukung, industri bisa berkembang pesat. Tetapi ketika tidak siap menghadapi perubahan, keruntuhannya pun cepat terasa.

Kini, saat batik kembali populer dan diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, cerita dari Ponorogo ini terasa relevan kembali. Di balik selembar kain batik, tersimpan sejarah panjang tentang kerja keras, solidaritas komunitas, adaptasi, dan bagaimana masyarakat berjuang bertahan di tengah zaman yang terus bergerak. Tinggal bagaimana kita memandangnya: sekadar cerita lama atau cermin yang masih bisa bicara untuk hari ini.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/batik-ponorogo-ketika-denyut-industri-lokal-terekam-dalam-nama-jalan/92132/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.24 WITA

  • #Batik Ponorogo
  • #Berita UMKM
  • #Industri Lokal

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

Pilihan Editor

  1. 1 Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah
  2. 2

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  3. 3

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  4. 4

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

  5. 5

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.