JurnalPost.com - Data internal HashMicro memperkirakan perusahaan rata-rata kehilangan sekitar Rp200 miliar per tahun akibat kualitas data yang buruk, yaitu data yang tidak akurat, tidak konsisten antara satu sistem dengan sistem lain, atau sudah kedaluwarsa ketika dipakai untuk mengambil keputusan. Kerugian sebesar itu hampir tidak pernah muncul sebagai satu baris pengeluaran di laporan keuangan. Ia tersebar diam-diam dalam bentuk jam kerja yang habis untuk mencocokkan angka, keputusan yang meleset karena laporannya terlambat, dan koreksi yang harus dilakukan berulang kali. Dan di banyak perusahaan, akar masalahnya bukan karyawan yang ceroboh menginput data, melainkan kondisi yang jauh lebih mendasar: sistem yang dipakai setiap divisi tidak saling berbicara.
Kondisi ini jarang terasa seperti masalah. Justru sebaliknya, dari luar, perusahaan terlihat sudah cukup terdigitalisasi. Tim penjualan punya aplikasinya sendiri, gudang mencatat stok di sistem terpisah, finance mengelola pembukuan di software akuntansi, dan HR memakai platform berbeda lagi. Semuanya berjalan. Masalahnya baru muncul ketika informasi dari keempat tempat itu harus disatukan menjadi satu gambaran utuh tentang kondisi perusahaan.
Ketika Setiap Divisi Punya Versi Datanya Sendiri
Sistem yang tidak terhubung menciptakan satu konsekuensi yang sangat spesifik: tidak ada satu pun angka di perusahaan yang benar-benar final. Stok di sistem gudang berbeda dengan stok yang dilihat tim penjualan. Nilai penjualan versi sales berbeda dengan versi finance karena beda tanggal cut-off. Data karyawan di HR belum sinkron dengan data penggajian.
Setiap perbedaan itu harus diselesaikan oleh manusia. Seseorang harus membandingkan dua file, mencari penyebab selisihnya, lalu memutuskan angka mana yang dipakai. Pekerjaan ini nyaris tidak pernah tercatat sebagai beban kerja resmi, tetapi memakan waktu yang sangat nyata setiap minggu, dan ia berulang, bukan sekali selesai.
Biaya yang Tidak Pernah Masuk Anggaran
1. Waktu yang habis untuk menginput data yang sama berulang kali
Satu transaksi penjualan sering kali harus dicatat lebih dari sekali: di aplikasi penjualan, di sistem stok saat barang keluar, lalu di pembukuan saat invoice diterbitkan. Setiap pengulangan menambah peluang salah ketik, dan setiap kesalahan akan terbawa ke laporan di ujung rantai. Perusahaan sebenarnya membayar gaji untuk pekerjaan yang tidak menambah nilai apa pun, hanya memindahkan angka dari satu layar ke layar lain.
2. Tutup buku yang selalu molor
Di perusahaan dengan sistem terpisah, tutup buku bukan soal menyusun laporan, melainkan soal mengumpulkan data dari berbagai sumber lalu mencocokkannya satu per satu. Tidak jarang prosesnya menghabiskan satu hingga dua minggu pertama setiap bulan. Artinya, manajemen baru menerima gambaran keuangan bulan lalu ketika bulan berjalan sudah lewat separuh.
3. Keputusan yang diambil dari data kedaluwarsa
Ini adalah biaya yang paling besar sekaligus paling sulit dihitung. Ketika laporan selalu terlambat, setiap keputusan (pembelian bahan baku, penambahan stok, penentuan diskon, perekrutan) diambil berdasarkan kondisi minggu atau bulan sebelumnya. Perusahaan bisa saja menambah stok produk yang ternyata permintaannya sudah turun, atau terlambat merespons kenaikan penjualan karena datanya baru terbaca kemudian.
4. Selisih stok yang baru ketahuan saat stock opname
Ketika pergerakan barang dicatat di sistem yang tidak terhubung dengan penjualan dan pembelian, selisih stok hampir pasti terjadi. Yang menjadi masalah bukan selisihnya, melainkan jeda waktunya: perbedaan yang muncul di awal bulan sering baru ditemukan berbulan-bulan kemudian saat stock opname. Pada titik itu, penyebabnya sudah terlalu jauh untuk ditelusuri dan perusahaan hanya bisa mencatatnya sebagai kerugian.
Mengapa Bebannya Justru Membesar Saat Perusahaan Tumbuh
Sistem terpisah biasanya tidak menimbulkan masalah serius di awal. Ketika transaksi masih puluhan per bulan dan timnya kecil, semua selisih bisa diselesaikan lewat obrolan singkat antar divisi.
Persoalannya, beban ini tidak tumbuh secara linear. Menambah satu cabang bukan berarti menambah satu proses rekonsiliasi, ia menambah kombinasi data yang harus dicocokkan antar lokasi, antar divisi, dan antar periode. Karena itu banyak perusahaan merasa operasionalnya justru terasa semakin berat setelah penjualan naik, seolah pertumbuhan harus dibayar dengan kekacauan administratif.
Memulihkan Alur Data yang Terputus
Menyadari adanya biaya tersembunyi adalah satu hal; menghitungnya adalah hal lain. Langkah paling sederhana untuk memulai adalah memetakan berapa jam kerja per bulan yang habis hanya untuk input ulang dan pencocokan data, lalu mengalikannya dengan biaya tenaga kerja. Hasilnya biasanya jauh lebih besar dari perkiraan awal manajemen.
Ketika kebutuhan itu sudah terlihat jelas, langkah berikutnya adalah menilai sistem seperti apa yang benar-benar mampu menyatukan alur datanya. Di sinilah banyak perusahaan mulai membandingkan pilihan software ERP Indonesia yang tersedia di pasar, terutama dari sisi kesesuaian dengan proses bisnis yang sudah berjalan dan kemampuannya menghubungkan divisi yang selama ini bekerja sendiri-sendiri. Pertimbangannya bukan pada banyaknya fitur yang ditawarkan, melainkan pada seberapa besar kemungkinan sistem itu benar-benar dipakai tim setiap hari
Setelah angkanya terlihat, pertanyaannya bergeser dari "apakah perlu membenahi sistem" menjadi "sistem seperti apa yang benar-benar menyelesaikan masalahnya". Kuncinya ada pada satu sumber data yang dipakai bersama, sehingga transaksi cukup dicatat sekali dan langsung terbaca oleh seluruh divisi yang membutuhkannya. Pada tahap inilah perusahaan biasanya mulai mengevaluasi pilihan software ERP Indonesia yang sesuai dengan skala dan proses bisnisnya, bukan untuk menambah satu aplikasi lagi, melainkan untuk menyatukan yang sudah ada.
Yang perlu dipastikan dalam proses evaluasi bukan sekadar kelengkapan fitur, melainkan seberapa jauh sistem tersebut mampu menghubungkan proses yang selama ini berjalan sendiri-sendiri, serta seberapa siap tim internal untuk benar-benar menggunakannya setiap hari.
Kesimpulan
Biaya dari sistem yang tidak terhubung tidak pernah muncul sebagai tagihan. Ia menyamar sebagai lembur di akhir bulan, sebagai laporan yang selalu terlambat, sebagai selisih stok yang tidak jelas asalnya, dan sebagai keputusan yang diambil setengah menebak. Karena tidak terlihat, biaya ini sering dibiarkan bertahun-tahun.
Perusahaan yang berhasil menekan beban ini umumnya bukan yang paling banyak membeli software, melainkan yang lebih dulu memastikan seluruh datanya mengalir di satu jalur yang sama. Selama data masih terputus, setiap penambahan aplikasi baru hanya akan menambah satu versi kebenaran lagi yang harus dicocokkan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda