Oleh: Safa Quinsha Berlin Gunawan
JurnalPost.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah kebiasaan generasi muda dalam berkomunikasi. AI kini tidak hanya digunakan untuk mencari informasi atau membantu mengerjakan tugas, tetapi juga menjadi tempat untuk menceritakan masalah pribadi. Fenomena tersebut terlihat dalam riset terbaru Digital Resilience Indonesia yang diterbitkan pada 15 Juli 2026. Penelitian itu menemukan sekitar enam dari sepuluh responden Gen Z pernah melakukan “curhat” kepada AI.
Riset Digital Resilience Indonesia melibatkan 402 responden Gen Z yang aktif menggunakan media sosial dan pernah berinteraksi dengan AI seperti ChatGPT, Gemini, maupun platform percakapan berbasis AI lainnya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei cross-sectional. Peneliti melihat pola penggunaan AI sekaligus pemahaman pengguna terhadap bias, kesalahan informasi atau halusinasi AI, serta privasi data. Hasilnya menunjukkan AI mulai memiliki peran yang lebih personal dalam kehidupan generasi muda Indonesia.
Topik yang diceritakan kepada AI ternyata cukup beragam. Responden tidak hanya membahas persoalan percintaan atau kondisi emosional, tetapi juga pendidikan, keluarga, masa depan, kesulitan belajar, hingga berbagai persoalan sehari-hari. Riset tersebut juga menemukan banyak responden merasa lebih bebas berbicara kepada AI karena tidak takut dihakimi. Sebagian besar pengguna bahkan menghabiskan lebih dari sepuluh menit dalam satu sesi percakapan dengan AI.
Fenomena serupa juga terlihat di luar Indonesia. eSafety Commissioner Australia pada 3 Agustus 2026 merilis penelitian mengenai pengalaman anak berusia 10 sampai 17 tahun dalam menggunakan AI assistant dan AI companion. Survei yang melibatkan hampir 2.000 anak Australia menemukan 78 persen pernah menggunakan AI assistant. Dari anak yang menggunakan AI assistant atau companion, 28 persen menggunakannya beberapa kali dalam seminggu dan 20 persen menggunakannya setiap hari atau lebih sering.
Penggunaan tersebut tidak terbatas pada pekerjaan sekolah. Sebanyak 54 persen anak yang pernah menggunakan AI assistant atau companion mengaku memanfaatkannya untuk alasan pribadi atau sosial. Penggunaan itu mencakup meminta saran mengenai situasi kehidupan, membicarakan kesehatan fisik maupun mental, mengungkapkan perasaan, atau sekadar mencari teman berbicara. Penelitian juga menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, remaja semakin sering menggunakan AI untuk meminta saran mengenai kehidupan dan kesehatan.
Kenyamanan menjadi salah satu alasan yang membuat AI menarik sebagai ruang percakapan. Chatbot dapat memberikan respons dengan cepat dan dapat digunakan kapan saja selama pengguna memiliki akses terhadap layanan tersebut. Pengguna juga tidak perlu berhadapan langsung dengan ekspresi orang lain ketika menyampaikan persoalan pribadi. Dalam penelitian Digital Resilience Indonesia, banyak responden menyatakan mereka merasa lebih bebas berkomunikasi dengan AI karena tidak takut mendapat penilaian dari lawan bicara.
Namun, kebiasaan membagikan persoalan pribadi kepada AI juga membawa risiko. Digital Resilience Indonesia menyoroti tiga persoalan utama, yaitu kemungkinan bias dalam jawaban AI, halusinasi atau informasi yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya tidak akurat, serta privasi dan keamanan data pribadi. Kenyamanan menggunakan AI belum tentu diikuti pemahaman yang cukup mengenai bagaimana teknologi tersebut bekerja. Kondisi ini membuat literasi AI menjadi semakin penting bagi generasi muda.
Temuan eSafety Australia juga menunjukkan persoalan yang perlu diperhatikan. Satu dari lima anak yang pernah menggunakan AI assistant atau companion melaporkan pernah mengalami interaksi yang berpotensi tidak pantas atau berbahaya. Bentuknya antara lain perilaku mengendalikan, saran yang merugikan, perundungan, atau paparan terhadap konten kebencian. Sekitar 32 persen juga mengaku pernah membagikan informasi pribadi atau sensitif kepada AI, termasuk foto maupun rahasia pribadi.
Data lain datang dari Pew Research Center yang merilis hasil penelitiannya pada Februari 2026. Survei terhadap 1.458 remaja Amerika Serikat berusia 13 sampai 17 tahun menemukan 64 persen menggunakan chatbot AI. Sebanyak 57 persen pernah memakainya untuk mencari informasi dan 54 persen untuk membantu pekerjaan sekolah. Namun, 16 persen juga menggunakannya untuk percakapan santai dan 12 persen pernah mencari dukungan emosional atau meminta nasihat melalui chatbot.
Penggunaan AI untuk kebutuhan sekolah juga menunjukkan perubahan kebiasaan belajar di kalangan remaja. Pew Research Center menemukan satu dari sepuluh remaja mengatakan AI membantu seluruh atau sebagian besar pekerjaan sekolah mereka. Sebanyak 21 persen menggunakan bantuan chatbot untuk sebagian tugas, sedangkan 23 persen menggunakannya dalam porsi yang lebih sedikit. Kondisi tersebut menunjukkan AI sudah menjadi bagian dari aktivitas belajar bagi sebagian remaja, bukan lagi teknologi yang digunakan sesekali.
Meski memiliki banyak manfaat, AI tetap memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk membicarakan persoalan pribadi. eSafety Commissioner Julie Inman Grant menekankan bahwa AI tidak dapat menggantikan orang dewasa tepercaya ketika anak membutuhkan nasihat, dukungan, atau bantuan terkait kesejahteraannya. Karena itu, keluarga dinilai perlu membangun komunikasi terbuka serta membantu anak memahami kapan AI dapat digunakan dan kapan mereka perlu berbicara dengan orang lain.
Fenomena curhat kepada AI pada akhirnya menunjukkan perubahan yang lebih luas dalam hubungan generasi muda dengan teknologi digital. Chatbot kini dapat berperan sebagai alat belajar, sumber informasi, hingga ruang untuk membicarakan persoalan yang sebelumnya lebih sering disampaikan kepada manusia. Namun, kemudahan tersebut perlu disertai kemampuan memeriksa informasi, menjaga data pribadi, dan memahami batas kemampuan sistem AI. Literasi digital pada 2026 tidak lagi cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara menggunakannya secara kritis dan aman.
Bagi remaja, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu mencari informasi atau menyusun pemikiran sebelum mengambil keputusan. Namun, informasi yang dihasilkan tetap perlu diperiksa kembali, terutama ketika menyangkut kesehatan, keselamatan, pendidikan, atau keputusan penting dalam kehidupan. Orang tua dan sekolah juga memiliki peran dalam memberikan pemahaman tentang privasi, keamanan data, serta kemungkinan AI menghasilkan jawaban yang tidak akurat. Dengan demikian, perkembangan AI dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan pentingnya hubungan sosial dan kemampuan berpikir kritis.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda