Manggarai Timur, JurnalPost.com — Hampir sebulan berada di wilayah terdampak gempa bumi Flores Utara, relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Korwil Nusa Tenggara Timur masih menjalankan kegiatan kemanusiaan bagi warga di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.
Sebanyak 11 personel UAR terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pelayanan kesehatan, pendampingan psikososial anak, pembersihan puing bangunan hingga membantu persiapan hunian sementara bagi warga terdampak.
Relawan yang berada di lokasi terdiri atas Daud Masang selaku koordinator lapangan sekaligus Ketua UAR Korwil NTT, Ihsan Annuha, Mustofa, Jawir Zulfikar, Heni, Ayub, Rojiun, Sohirin, Fuad Rofiq, Kader Munir, dan Abdurrahman Langoday.
Aktivitas para relawan berlangsung sejak dini hari hingga malam. Selain menjalankan kegiatan keagamaan dan koordinasi internal, mereka membagi tugas berdasarkan kebutuhan warga di lapangan.
Pada Selasa, 8 September 2026, misalnya, relawan kembali menjalankan pelayanan kesehatan, pendampingan terhadap anak-anak, serta kegiatan pemulihan lingkungan terdampak gempa.
Pelayanan Kesehatan dan Pendampingan Anak
Dalam bidang kesehatan, tim UAR menyediakan sejumlah layanan seperti bekam, fasdlu, pijat cedera dan urut relaksasi. Pada hari tersebut, tujuh orang yang terdiri atas warga terdampak, relawan dan aparat memanfaatkan pelayanan yang tersedia.
Relawan juga melakukan pendampingan psikososial terhadap anak-anak penyintas. Heni, salah seorang relawan, mendampingi kegiatan bersama puluhan anak yang sebelumnya mengikuti pembelajaran bersama lembaga kemanusiaan lain.
Selain aktivitas belajar, anak-anak mendapatkan penguatan mengenai pengendalian emosi dan membangun interaksi positif melalui materi keagamaan, antara lain mengenai larangan marah serta anjuran untuk tersenyum kepada orang lain.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu anak-anak tetap memiliki ruang belajar dan berinteraksi meski berada dalam situasi pascabencana.
Bersihkan Puing dan Siapkan Hunian Sementara
Di sektor pemulihan, relawan bersama warga membersihkan puing bangunan dan menyelamatkan material yang masih dapat digunakan, terutama kayu dan seng di area Rumah Yatim.
Relawan juga membantu merapikan jaringan listrik di sekitar lokasi terdampak.
Sejumlah material dari rumah yang mengalami kerusakan direncanakan kembali dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan hunian sementara atau huntara bagi penyintas dan relawan perempuan.
Pemanfaatan material tersebut dilakukan di tengah keterbatasan peralatan dan sumber daya yang tersedia di lapangan.
Warga Sampaikan Apresiasi
Kehadiran relawan selama masa tanggap darurat mendapat respons dari sejumlah warga. Salah satunya Syahmit, warga Dusun Waso yang akrab disapa Bang Joss.
Ia mendatangi posko UAR untuk menyampaikan terima kasih atas pendampingan yang diberikan kepada warga terdampak gempa.
“Saya korban gempa di Dusun Waso, mengucapkan banyak terima kasih kepada relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue yang telah hadir di tengah-tengah kami,” ujar Bang Joss.
Menurutnya, kehadiran relawan turut memberikan dukungan moral kepada warga yang masih menghadapi dampak bencana.
“Meskipun saat ini kami sedang merasakan kesedihan, tapi dengan hadirnya teman-teman UAR di tengah-tengah kami, memberikan motivasi tersendiri untuk kami,” katanya.
Bang Joss juga mengaku telah beberapa kali memanfaatkan layanan bekam yang disediakan relawan. Setelah merasakan manfaat dari layanan tersebut, ia kemudian mengajak sejumlah kerabat dan warga lain untuk datang ke posko.
Ayub, salah seorang relawan UAR, mengatakan sejumlah aparat kepolisian setempat juga turut menggunakan layanan tersebut setelah mendapat informasi dari warga.
“Bahkan Kapolsek dan beberapa anggota lainnya juga ikut bekam setelah mendengar testimoni dari warga,” kata Ayub melalui pesan singkat, Rabu, 9 September 2026.
Pernyataan mengenai manfaat layanan kesehatan tersebut merupakan pengalaman dan testimoni dari warga serta relawan di lapangan.
Kebutuhan Warga Masih Banyak
Koordinator Lapangan UAR NTT, Daud Masang, mengatakan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak gempa masih cukup besar, terutama untuk mendukung proses pemulihan.
Beberapa kebutuhan yang dinilai mendesak antara lain tenda darurat, terpal berukuran besar, peralatan pertukangan, perlengkapan listrik, kipas angin, hingga peralatan yang dapat digunakan petani dan nelayan.
Keterbatasan kendaraan juga menjadi salah satu tantangan operasional selama berada di lapangan.
Relawan mengandalkan sejumlah sepeda motor serta kendaraan milik warga yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk membawa personel maupun kebutuhan kemanusiaan.
Selain persoalan fasilitas, cuaca panas menjadi tantangan lain selama masa tanggap darurat. Pada siang hari, suhu di lokasi dilaporkan dapat mencapai sekitar 40 derajat Celsius.
Meski menghadapi keterbatasan peralatan dan kondisi cuaca, para relawan masih melanjutkan kegiatan bersama masyarakat.
Fokus kegiatan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, pendampingan warga, pemulihan lingkungan, serta membantu masyarakat kembali menjalani aktivitas secara bertahap setelah gempa.
Bagi relawan UAR, keterlibatan di lokasi bencana tidak hanya berkaitan dengan penyaluran bantuan, tetapi juga menjaga kebersamaan dan memberikan dukungan kepada masyarakat selama melalui proses pemulihan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda