Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. HUT Ke-73 BI: Saat Kebijakan Bank Sentral Menyentuh Dapur Rumah Tangga

HUT Ke-73 BI: Saat Kebijakan Bank Sentral Menyentuh Dapur Rumah Tangga

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
02 Juli 2026, 20.12 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
HUT Ke-73 BI

Penulis: Ircham Andrianto Taufick - Kepala Tim SP PUR Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara

JurnalPost.com - Keputusan bank sentral tidak berhenti pada hari pengumuman. Di layar berita, ia tampil ringkas: BI-Rate naik, rupiah dijaga, inflasi dikendalikan, sistem pembayaran diperkuat. Namun, setelah kamera dimatikan, kebijakan itu berjalan ke ruang yang dekat dengan masyarakat seperti: meja kasir toko kelontong, warung UMKM, ruang rapat perbankan, dapur rumah tangga, hingga anggaran belanja pemerintah.

IKLAN

Di situlah hari lahir Bank Indonesia pada 1 Juli menemukan makna baru. Sejak resmi berdiri sebagai bank sentral pada 1953, BI telah melewati banyak babak ekonomi: inflasi tinggi, krisis keuangan, reformasi kelembagaan, globalisasi arus modal, hingga ledakan transaksi digital. Meski demikian, tantangan hari ini tidak lagi cukup dijelaskan dengan pertanyaan: apakah suku bunga naik atau turun? Apakah rupiah menguat atau melemah? Pertanyaan yang lebih menentukan adalah: apa efek kedua (second effect) dari setiap kebijakan itu?

Inflasi Dunia
Baca Juga

58 Bulan Pengangguran Rendah, Inflasi Dunia Sulit Jinak: Apa Artinya bagi Indonesia?

Efek pertama kebijakan bank sentral mudah dilihat. Ketika BI menaikkan suku bunga, pasar membaca sinyal pengetatan. Ketika BI menjaga stabilitas rupiah, pelaku pasar melihat komitmen terhadap nilai tukar. Ketika sistem pembayaran digital diperluas, publik merasakan transaksi yang lebih cepat. Namun, efek kedua bekerja lebih perlahan, lebih tersebar, dan sering lebih menentukan.

Pada Juni 2026, BI-Rate berada di 5,75%. Pada saat yang sama, inflasi bulan Mei berada di angka 3,08% (yoy) dan ekonomi triwulan I-2026 tumbuh 5,61%. Angka-angka itu menunjukkan ekonomi masih bergerak, tetapi sedang berjalan di lorong yang sempit: pertumbuhan perlu dijaga, inflasi perlu dikendalikan, dan nilai rupiah perlu tetap stabil di tengah ketidakpastian global. Kenaikan suku bunga sering dibaca sebagai rem. Itu tidak salah, tetapi belum lengkap. Efek keduanya adalah perubahan cara pelaku ekonomi memilah risiko. Rumah tangga menimbang ulang pengajuan kredit kendaraan atau renovasi rumah. UMKM menunda pembelian mesin yang belum mendesak. Bank lebih selektif membaca profil risiko debitur. Pelaku usaha yang ekspansinya sangat bergantung pada biaya dana murah akan mulai bertanya: apakah ekspansi ini benar-benar produktif, atau hanya karena biaya dana yang rendah?

Di titik ini, kebijakan moneter menjadi semacam filter produktivitas. Ia dapat menahan sebagian permintaan dalam jangka pendek. Di sisi lain, kebijakan moneter juga dapat mendorong ekonomi untuk membedakan mana investasi yang menciptakan nilai tambah dan mana aktivitas yang rapuh. Tentu, filter ini tidak boleh bekerja sendirian. Pemerintah, perbankan, dan otoritas terkait perlu memastikan kredit tetap mengalir ke kegiatan yang menghasilkan lapangan kerja, ekspor, dan nilai tambah.

IKLAN

Efek kedua juga terlihat dalam nilai tukar. Rupiah yang tertekan bukan hanya cerita di layar kurs. Bagi importir bahan baku, perubahan kurs adalah perubahan harga pokok dan biaya operasional. Bagi produsen makanan, ia bisa berarti kenaikan biaya kemasan, tepung, gula, atau bahan tambahan. Bagi konsumen, pelemahan rupiah akan terasa melalui kenaikan harga barang. Itulah alasan stabilisasi nilai tukar penting untuk menahan rambatan imported inflation ke ruang hidup masyarakat.

Suasana Biennial Policy Conference 2026
Baca Juga

Keuangan Global Sudah Digital, tetapi Tata Kelolanya Masih Terjebak Batas Negara

Hal serupa terjadi pada inflasi pangan. Ketika harga cabai, beras, telur, atau bawang bergerak, efek pertamanya muncul di indeks harga. Lebih lanjut, efek keduanya muncul dalam perilaku. Ibu rumah tangga mengganti menu. Warung makan menyesuaikan porsi atau menaikkan harga. Petani bisa terdorong menanam komoditas yang sedang mahal, lalu berisiko menghadapi kelebihan pasokan beberapa bulan kemudian. Karena itu, pengendalian inflasi membutuhkan koordinasi pasokan, distribusi, data pangan, dan respons daerah yang cepat.

Transmisi lain datang dari kebijakan makroprudensial. Dalam bahasa sederhana, makroprudensial membantu memastikan likuiditas perbankan bergerak ke sektor yang membutuhkan pembiayaan. Efek pertamanya terasa di neraca perbankan. Namun, efek lanjutannya muncul ketika bank memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif. UMKM dapat memperoleh akses modal dan sektor yang mendukung hilirisasi, pangan, perumahan, atau ekonomi hijau bisa memperoleh napas tambahan. Dengan cara ini, kebijakan makroprudensial bekerja seperti katup: menjaga kredit tidak mengalir terlalu deras ke aktivitas spekulatif, tetapi juga tidak terlalu seret bagi kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah. Di sisi lain, kebijakan BI tidak hanya bekerja melalui moneter dan makroprudensial. Sistem pembayaran menjadi salah satu kanal kebijakan yang memiliki efek lanjutan yang penting. QRIS dan BI-FAST kerap dipahami hanya sebagai inovasi transaksi, padahal dampaknya lebih luas dari yang diperkirakan: biaya transaksi turun, UMKM lebih mudah menerima pembayaran, arus uang menjadi lebih tercatat, dan pelaku usaha kecil dapat masuk ke ekonomi formal.

Seorang pedagang di pasar mungkin tidak menyebutnya sebagai inklusi keuangan. Ia hanya tahu pembayaran lebih mudah diterima, uang tunai tidak tercecer, dan pembeli yang jarang membawa tunai tetap bisa bertransaksi. Namun, dari transaksi kecil yang berulang itulah jejak ekonomi terbentuk. Jika dikelola dengan baik, rekam transaksi dapat membantu pelaku usaha kecil lebih mudah dinilai kelayakannya oleh lembaga keuangan. Inilah stimulus yang jarang dirasakan: bukan dengan membanjiri ekonomi dengan uang baru, melainkan dengan mengurangi friksi yang membuat uang lama bergerak lebih efisien.

Namun, setiap efek lanjutan juga membawa risiko lanjutan. Digitalisasi pembayaran yang cepat dapat membuka ruang bagi penipuan, pencucian uang, judi daring, dan penyalahgunaan data. Suku bunga yang tinggi dapat memperkuat stabilitas, tetapi juga menekan debitur. Stabilisasi nilai tukar tidak bisa menggantikan kebutuhan memperkuat ekspor dan produktivitas industri. Karena itu, membaca kebijakan BI hanya dari sisi “berhasil atau tidak” terlalu menyederhanakan persoalan.

East Asia-Pacific
Baca Juga

Asia's Central Banks Are Quietly Writing the Rules for AI Finance

Pada usia 73 tahun, Bank Indonesia tidak hanya dituntut mengambil keputusan yang tepat. BI juga dituntut membaca jalur rambatannya: siapa yang terdampak lebih dulu, siapa yang menanggung beban lebih besar, dan sektor mana yang perlu diperkuat agar stabilitas tidak berubah menjadi stagnasi. Stabilitas yang baik bukanlah ekonomi yang diam, melainkan ekonomi yang tetap bisa bergerak tanpa kehilangan arah.

Maka, hari lahir BI menjadi pengingat bahwa kebijakan bank sentral selalu hidup setelah berita utama berlalu. Ia bekerja dalam keputusan menabung, meminjam, membeli persediaan, menentukan harga, menerima pembayaran digital, hingga menunda ekspansi. Di sana, kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran bertemu dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Pertanyaannya sekarang: apakah kita hanya menilai kebijakan BI dari angka yang diumumkan, atau mulai membaca efek lanjutan dari kebijakan bank sentral yang dapat menentukan masa depan ekonomi Indonesia?

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/hut-ke-73-bi-saat-kebijakan-bank-sentral-menyentuh-dapur-rumah-tangga/95315/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.35 WITA

  • #Bank Sentral

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Pilihan Editor

  1. 1 Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3
  2. 2

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  3. 3

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  4. 4

    Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  5. 5

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.