Kunming, JurnalPost.com — Sejumlah kepala desa asal Indonesia mengikuti program Benchmarking Kepala Desa 2026 di Provinsi Yunnan, Tiongkok, dengan mempelajari tata kelola pedesaan, pengembangan industri lokal, perdagangan, hingga penerapan pertanian digital.
Program tersebut ditutup melalui upacara yang digelar di Universitas Yunnan Minzu, Kunming, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya.
Selama mengikuti kegiatan, para peserta mengunjungi sejumlah lokasi di Kunming, termasuk Desa Haiyan, Pusat Perdagangan Internasional Luosiwan, serta Pasar Bunga Dounan.
Kunjungan itu memberi kesempatan kepada para kepala desa untuk melihat langsung praktik pembangunan pedesaan, pengembangan perdagangan, serta pengelolaan industri khas daerah.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Xishuangbanna. Di wilayah tersebut, para peserta mengunjungi proyek pengembangan kopi, program pembangunan desa bersama, pelestarian warisan budaya takbenda, hingga proyek pertanian berbasis teknologi digital.
Peserta juga berdiskusi dengan perangkat desa dan warga setempat mengenai berbagai pendekatan dalam mengembangkan perekonomian dan tata kelola wilayah pedesaan.
Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Mulyadin Malik, mengatakan kunjungan lapangan memberikan pengalaman yang lebih konkret kepada para peserta.
“Para kepala desa dapat secara langsung mengamati proses penanaman dan metode-metode praktis. Hal ini jauh lebih efektif daripada mempelajari teori di ruang kelas,” ujar Mulyadin Malik.
Menurut Malik, program tersebut membantu peserta dari Indonesia memahami secara langsung pendekatan yang diterapkan Tiongkok dalam tata kelola pedesaan serta pengembangan industri berbasis potensi lokal.
Ia berharap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama program dapat diterapkan di Indonesia dengan tetap mempertimbangkan karakteristik dan kondisi masing-masing desa.
Sejumlah peserta juga menilai kunjungan lapangan memberikan wawasan praktis mengenai pengembangan industri pedesaan, promosi pariwisata desa, serta pelestarian budaya tradisional.
Pengalaman itu dinilai dapat menjadi salah satu referensi dalam merancang program pembangunan pedesaan di Indonesia sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Wakil Rektor Universitas Yunnan Minzu, Shao Weiqing, mengatakan pihak universitas berharap program tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkuat pertukaran dan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok.
Menurut dia, program itu juga membuka ruang bagi kedua negara untuk saling mempelajari pengalaman dalam pengembangan pedesaan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Program Benchmarking Kepala Desa pertama kali diluncurkan pada 2019. Hingga 2026, kegiatan tersebut telah diselenggarakan sebanyak enam angkatan dan diikuti lebih dari 100 kepala desa asal Indonesia yang melakukan kunjungan studi ke Tiongkok.
Kerja sama di bidang pembangunan pedesaan juga diperkuat melalui nota kesepahaman yang ditandatangani Indonesia dan Tiongkok pada Oktober 2023 mengenai pengembangan pedesaan dan pengentasan kemiskinan.
Kesepakatan tersebut menjadi kerangka untuk pertukaran kebijakan, berbagi pengalaman, serta pengembangan kapasitas di bidang pembangunan desa dan penanggulangan kemiskinan.
Program Benchmarking Kepala Desa 2026 diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia dengan Universitas Yunnan Minzu sebagai tuan rumah kegiatan.
(Kantor Berita China/Xinhua)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda