Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Bahasa Gaul Menjadi Cermin Generasi Z: Antara Lucu dan Serius

Ketika Bahasa Gaul Menjadi Cermin Generasi Z: Antara Lucu dan Serius

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
20 Oktober 2025, 10.08 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Bahasa Gaul

Oleh: Gita Wildah Tazkiyah

JurnalPost.com - Jika kamu aktif di media sosial, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah seperti “bestie,” “anjay,” “healing,” “gaskeun,” atau “mager”. Bagi sebagian orang, istilah-istilah ini hanya lelucon atau tren yang sementara. Namun bagi Generasi Z, bahasa gaul telah menjadi bagian penting dari identitas mereka sebagai cara untuk mengekspresikan diri, menunjukkan pergaulan, bahkan membangun komunitas.

IKLAN

Yang menarik, fenomena ini tidak hanya menggambarkan pola komunikasi, tetapi juga menunjukkan cara Generasi Z mengembangkan identitas mereka lewat bahasa. Di balik tampilan yang humoris dan santai, terdapat aspek serius yang mencerminkan dinamika sosial, teknologi, dan budaya yang mereka hadapi. Namun, tentunya, ada juga kekhawatiran: apakah inovasi dalam menggunakan bahasa ini akan memengaruhi kemampuan mereka dalam berbahasa Indonesia yang tepat dan benar?

GEN Z
Baca Juga

Bahasa Gen Z dan Identitas Digital: Kreativitas Berbahasa di Era TikTok

Bahasa Gaul sebagai Wujud Kreativitas dan Keakraban Bagi Generasi Z, komunikasi harus dilakukan dengan cepat, lucu, dan relevan di berbagai situasi. Bahasa gaul berfungsi sebagai sarana untuk berekspresi yang tidak hanya untuk percakapan santai, tetapi juga untuk menampilkan kepribadian dan rasa kebersamaan.

Sebagai contoh, kata “healing. ” Kata ini berasal dari bahasa Inggris yang berarti penyembuhan, namun dalam konteks Gen Z, maknanya beralih menjadi “liburan” atau “memulihkan diri. ” Bentuk kreativitas seperti ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya menggunakan bahasa, tetapi juga menciptakan makna baru. Bahasa terus berkembang sesuai dengan perubahan budaya, teknologi, dan gaya hidup.

Dalam dunia digital, interaksi berlangsung dengan cepat dan tanpa ragu. Karena itu, remaja lebih memilih cara berbahasa yang singkat, menghibur, dan mudah dimengerti. Bahasa gaul muncul dari kebutuhan ini karena ia ia efisien, ekspresif, dan relevan. Contohnya, kata “mager” (malas gerak) yang hanya terdiri dari lima huruf, tetapi langsung mencerminkan suatu keadaan yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari.

Selain menjadi praktis, bahasa gaul juga berperan dalam menciptakan kedekatan sosial. Ketika seseorang menggunakan bahasa gaul yang serupa, secara otomatis timbul rasa kebersamaan. Kita merasa "sefrekuensi." Itulah sebabnya di platform media sosial seperti TikTok, Twitter (X), atau Instagram, suatu istilah bisa menjadi terkenal dalam waktu yang sangat singkat. Bahasa menjadi alat yang menghubungkan sekaligus menandakan identitas komunitas digital.

Meeting Room
Baca Juga

Ketika Istilah Korporat Menjadi Hambatan bagi Pendatang Baru

Kekhawatiran yang Tidak Bisa Diabaikan Namun, di sisi lain, fenomena ini memunculkan kecemasan. Banyak siswa dan mahasiswa yang tanpa sadar mencampurkan istilah gaul ke dalam konteks formal, misalnya pada tugas kuliah atau surat resmi. Contohnya, “Aku udah ngerjain kok, tapi typo dikit bestie.”

IKLAN

Meskipun terdengar lucu, jika kebiasaan ini dibawa ke dalam tulisan akademis, bisa merusak standar bahasa kita.

Bahasa formal memiliki peran penting, yaitu menjaga kejelasan dan konsistensi dalam komunikasi di ruang resmi. Jika bahasa formal mulai tergeser, komunikasi antara generasi tua dan muda, atau bahkan antarwilayah, dapat mengalami kendala. Dominasi bahasa gaul yang berlebihan berpotensi menciptakan eksklusi, siapa yang tidak memahami istilah tersebut bisa dianggap “tidak gaul.”

Seimbang itu Kunci Sebenarnya, menolak bahasa gaul bukanlah solusi. Hal terpenting adalah tahu kapan dan di mana bahasa itu sebaiknya digunakan. Di media sosial? Silakan, berkreasilah semaksimal mungkin. Namun di ruang akademik, presentasi, atau surat resmi, bahasa formal tetap menjadi yang utama.

Bahasa Gaul di Media Sosial
Baca Juga

Pencampuran Bahasa Gaul di Media Sosial: Kreativitas atau Pergeseran Budaya?

Guru, dosen, dan pengamat bahasa juga bisa memanfaatkan fenomena ini. Alih-alih melarang, mengapa tidak menjadikannya sebagai bahan pembelajaran? Misalnya, mendiskusikan asal-usul kata “anjay” atau “bucin” dalam kelas linguistik. Dengan cara ini, siswa dapat belajar tentang struktur, makna, dan dinamika bahasa dengan cara yang lebih menarik.

Bahasa Adalah Cermin Zaman Bahasa gaul bukanlah ancaman, melainkan bukti bahwa bahasa Indonesia tetap hidup dan adaptif. Generasi Z memperkaya bahasa Indonesia dengan cara mereka sendiri, melalui kreativitas, humor, dan ekspresi digital.

Yang perlu dicatat hanyalah satu: jangan sampai kita melupakan akar. Bahasa Indonesia tetaplah rumah utama yang menghubungkan kita semua. Jadi, gunakan bahasa gaul dengan proporsional, nikmati kreativitasnya, tetapi tetap bangga dan sadar akan bahasa kita sendiri.

Karena pada akhirnya, berbahasa gaul itu menarik, tetapi berbicara dengan kesadaran itu jauh lebih menawan.

Oleh: Gita Wildah Tazkiyah

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-bahasa-gaul-menjadi-cermin-generasi-z-antara-lucu-dan-serius/87096/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.48 WITA

  • #Bahasa Gaul
  • #Generasi Z
  • #Opini Mahasiswa
  • #komunikasi

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Pilihan Editor

  1. 1 Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru
  2. 2

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  3. 3

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  4. 4

    Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  5. 5

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.