Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Ketika Hanoman Mencuri Panggung, Rama Kehilangan Bayangnya

Ketika Hanoman Mencuri Panggung, Rama Kehilangan Bayangnya

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
10 Juli 2026, 00.39 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Kehilangan Bayangnya

Oleh: Febrina Putri Lusdinda

JurnalPost.com - Ada satu pertanyaan yang terus terngiang setelah saya menyaksikan The Mystical Kecak Dance "Hanoman Duta" pada 24 Juni 2026? mengapa tokoh yang seharusnya menjadi pusat kepahlawanan justru tidak meninggalkan kesan paling kuat? Pertunjukan ini berhasil membawa kisah Ramayana ke dalam suasana yang megah melalui puluhan penari kecak, nyanyian ritmis, dan langit senja yang perlahan berubah menjadi gelap. Terik matahari yang menyengat sejak awal memang sempat menguji kenyamanan penonton, tetapi semua itu terasa terbayarkan ketika suara "cak cak cak" mulai memenuhi ruang pertunjukan. Seperti kawanan burung yang bergerak serempak mengikuti arah angin, formasi penari kecak membangun energi kolektif yang membuat penonton larut dalam cerita.

IKLAN

Kekuatan pertunjukan ini terletak pada kelompok penari kecak yang mampu menciptakan ketegangan tanpa bergantung pada dialog. Menurut Jacqueline Smith-Autard dalam Dance Composition: A Practical Guide to Creative Success in Dance (2010), kualitas sebuah koreografi dibangun melalui kesatuan ruang, waktu, dan tenaga. Ketiga unsur tersebut tampak jelas melalui perubahan pola lantai, ritme vokal yang konsisten, serta energi yang terus mengalir dari awal hingga akhir pertunjukan. Suara para penari hadir seperti deburan ombak yang tidak pernah benar-benar berhenti, menghidupkan panggung bahkan ketika tokoh utama tidak sedang bergerak.

1000559968
Baca Juga

Ketika Kasta Tak Lagi Harus Berarti Tinggi dan Rendah: Menjaga Warisan Bali di Tengah Perubahan Zaman

Namun, justru pada tokoh utama saya menemukan ruang kritik yang paling menarik. Rama tampil dengan struktur gerak yang rapi, tetapi kewibawaan seorang ksatria pelindung belum sepenuhnya terasa. Postur tubuhnya belum memperlihatkan kesiagaan seorang pemimpin yang sedang melindungi orang yang dicintainya. Bahkan ketika berhadapan dengan Rahwana, kualitas tenaga masih terasa serupa dengan adegan-adegan sebelumnya sehingga ketegangan dramatik tidak mengalami peningkatan yang berarti. Merujuk pada konsep dasar Stanislavski dalam An Actor Prepares (1936), sebuah tindakan di atas panggung hanya akan hidup jika memiliki pembenaran batin (inner justification). Dalam konteks sendratari, hal ini berarti struktur gerak fisik Rama harus lahir dari keyakinan emosional yang mendalam.

IKLAN

Hanoman Mencuri

Ironisnya, ketika Rama belum berhasil memenuhi ekspektasi sebagai pahlawan, Hanoman justru tampil sebagai tokoh yang paling hidup. Kehadirannya tidak hanya menjalankan peran dalam alur cerita, tetapi juga membangun hubungan langsung dengan penonton melalui improvisasi, humor, dan interaksi yang spontan. Respons penonton pun muncul secara alami, tawa terdengar setiap kali Hanoman menggoda penonton dengan beberapa celetukan, berpura-pura kebingungan, atau memberikan reaksi tubuh yang tidak terduga di sela-sela adegan. Fenomena ini sejalan dengan pandangan Richard Schechner dalam Performance Theory (2003) mengenai runtuhnya batasan ruang antara pemain dan penonton. Hubungan timbal balik yang intens dan cair inilah yang berhasil diwujudkan Hanoman, sehingga setiap kemunculannya selalu dinanti.

Kontras antara dua karakter yaitu Rama sebagai tokoh utama, belum sepenuhnya mampu menarik perhatian melalui kualitas akting dan tubuhnya, sedangkan Hanoman justru mampu menguasai ruang pertunjukan melalui energi, improvisasi, dan kedekatannya dengan penonton inilah yang justru menjadi pengalaman paling membekas bagi saya. Di satu sisi, Rama seharusnya menjadi gunung yang kokoh yaitu memiliki simbol keberanian dan perlindungan, tetapi kehadirannya masih terasa datar. Di sisi lain, Hanoman hadir seperti api yang terus membesar, semakin lama muncul, semakin sulit mengalihkan perhatian darinya. Bukan berarti Hanoman mengambil alih cerita, melainkan karena ia berhasil mengisi ruang-ruang emosional yang belum sepenuhnya dibangun oleh tokoh utama.

Sinergi UPN Veteran Jatim
Baca Juga

Sinergi UPN Veteran Jatim dan Unud, Mahasiswa Dampingi Lansia hingga Keluarga Kurang Mampu di Desa Ungasan

Terlepas dari kritik tersebut, The Mystical Kecak Dance "Hanoman Duta" tetap menjadi pertunjukan yang layak diapresiasi. Energi penari kecak, kekuatan musikal vokal, serta suasana alam yang menyatu dengan panggung menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan. Namun, bagi saya, pertunjukan ini meninggalkan satu ironi yang menarik yaitu ketika seorang pahlawan belum sepenuhnya mampu menunjukkan wibawanya, justru seekor kera putih berhasil menjadi jiwa yang paling hidup di atas panggung. Dan mungkin, di situlah letak keindahan seni pertunjukan ketika tokoh utama tidak selalu menjadi karakter yang paling diingat penonton.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-hanoman-mencuri-panggung-rama-kehilangan-bayangnya/95636/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #Bali
  • #Kecak Dance

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Pilihan Editor

  1. 1 Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai
  2. 2

    HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  5. 5

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.