SURABAYA, JurnalPost.com — Tim dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jawa Timur mendampingi Paguyuban UMKM Manggarsari, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, dalam melakukan transformasi pencatatan keuangan dari sistem manual menuju pembukuan digital.
Melalui program bertajuk "Penguatan Ekonomi Kreatif melalui Transformasi Digital dan Kolaborasi Pentahelix", para pelaku usaha mendapatkan pelatihan untuk mencatat transaksi keuangan langsung melalui ponsel serta menyusun laporan keuangan sederhana secara mandiri.
Program pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh Prof. Dr. Diana Hertati, M.Si. dari Program Studi Administrasi Publik, bersama Eka Prakarsa Mandyartha, S.T., M.Kom. dari Program Studi Teknik Informatika dan Indira Arundinasari, S.AP., M.AP. dari Program Studi Ilmu Administrasi Publik.
Dua mahasiswa, yakni Dinda Maharani dan Jesica Erin Ariani, turut dilibatkan dalam kegiatan pendampingan di lapangan.
Paguyuban UMKM Manggarsari saat ini menaungi 121 pelaku usaha yang terdiri atas 89 usaha kuliner dan 32 usaha nonmakanan, seperti kerajinan tangan dan produk eco-printing.
Meski memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, sebagian pelaku usaha masih mengandalkan pencatatan keuangan secara manual. Kondisi tersebut menimbulkan sejumlah kendala, mulai dari risiko kehilangan bukti transaksi, tercampurnya uang pribadi dengan modal usaha, hingga kesulitan menghitung keuntungan dan kerugian secara akurat.
Ketua Paguyuban UMKM Manggarsari, Icha, mengungkapkan bahwa masih banyak pelaku usaha yang memiliki produktivitas baik, tetapi belum mampu menunjukkan kondisi keuangan usahanya secara sistematis.
"Banyak pelaku UMKM sebenarnya produktif, tetapi kesulitan menunjukkan kondisi keuangannya. Padahal, bank dan lembaga pembiayaan meminta laporan yang rapi. Karena itu, kami mulai dari hal paling dasar, yaitu memisahkan uang pribadi dan uang usaha, lalu mencatatnya setiap hari," ujar Icha.
Aplikasi Keuangan Sederhana Berbasis Ponsel
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian memperkenalkan aplikasi akuntansi sederhana yang dirancang agar mudah digunakan, termasuk pada ponsel dengan spesifikasi relatif rendah.
Melalui aplikasi ini, pelaku UMKM dapat mencatat berbagai transaksi usaha, mulai dari pembelian bahan baku, pengeluaran operasional, hingga hasil penjualan secara langsung.
Dengan sistem pencatatan digital, pelaku usaha tidak perlu lagi mengumpulkan seluruh bukti transaksi untuk direkap secara manual pada akhir bulan.

Aplikasi tersebut juga dilengkapi sejumlah fitur pendukung, seperti tampilan arus kas harian dalam bentuk grafik, pengingat utang dan piutang, serta penyimpanan data secara daring untuk mengurangi risiko kehilangan catatan ketika perangkat mengalami kerusakan.
Selain itu, laporan keuangan dasar, seperti laporan laba rugi, neraca sederhana, dan perubahan modal, dapat disusun secara otomatis berdasarkan transaksi yang dimasukkan pengguna.
Keberadaan laporan keuangan yang lebih tertib diharapkan dapat membantu pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan kesiapan mereka mengakses pembiayaan formal, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Eka Prakarsa Mandyartha menjelaskan bahwa kemudahan penggunaan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pemilihan aplikasi yang diperkenalkan kepada peserta.
"Kami sengaja memilih tampilan yang sederhana. Targetnya, pelaku usaha yang belum pernah belajar akuntansi pun bisa langsung memakainya," jelas Eka.
Kolaborasi Pentahelix Libatkan Lima Unsur
Selain memberikan pelatihan penggunaan aplikasi keuangan, program ini juga mengembangkan pendekatan kolaborasi Pentahelix yang melibatkan lima unsur, yakni perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media.
Perguruan tinggi berperan sebagai penggerak kegiatan, penyedia pelatihan, sekaligus penyusun materi literasi keuangan digital bagi pelaku UMKM.
Sementara itu, unsur pemerintah, melalui Dinas Koperasi dan kelurahan setempat, diarahkan untuk mendukung fasilitasi perizinan usaha, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB), akses internet, serta informasi mengenai pembiayaan KUR.
Dari sektor swasta, pengembang aplikasi keuangan dan lembaga perbankan diharapkan dapat mendukung penyediaan teknologi sekaligus membuka peluang akses permodalan yang didukung pencatatan keuangan digital.
Paguyuban UMKM Manggarsari sendiri menjadi wadah pembelajaran bersama. Melalui mekanisme ini, anggota yang telah memahami penggunaan aplikasi diharapkan dapat berbagi pengetahuan dan mendampingi anggota lainnya.
Adapun media berperan dalam menyebarluaskan informasi mengenai praktik pemberdayaan ekonomi masyarakat sehingga pendekatan serupa dapat menjadi referensi bagi pelaku UMKM di wilayah lain.
Pendampingan dilaksanakan menggunakan pendekatan riset aksi partisipatif melalui empat tahapan utama, yaitu identifikasi permasalahan, perencanaan kegiatan, pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, serta evaluasi bersama.
Dalam pelaksanaannya, tim juga menggelar tiga kali diskusi kelompok terfokus atau focus group discussion (FGD) yang melibatkan pengurus paguyuban, pelaku UMKM, Dinas Koperasi Kota Surabaya, serta perwakilan dunia usaha.
Dorong UMKM Lebih Mandiri dalam Mengelola Keuangan
Memasuki tahap kemajuan program sekitar 70 persen, kegiatan pendampingan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan secara lebih tertib dan mandiri.
Melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan mampu memisahkan keuangan pribadi dari keuangan usaha, menghitung harga pokok produksi dengan lebih tepat, serta menyusun laporan kas harian secara konsisten.
Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi pelaku UMKM untuk memahami kondisi usaha, mengevaluasi pengeluaran, dan mengambil keputusan bisnis berdasarkan catatan transaksi yang lebih terstruktur.
Transformasi digital dalam pencatatan keuangan juga diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengurangi ketergantungan pada pembukuan manual yang selama ini berpotensi menimbulkan kesalahan pencatatan.
Program pengabdian ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan literasi keuangan digital, tetapi juga memperkuat kemandirian serta daya saing UMKM Manggarsari.
Dengan pencatatan keuangan yang lebih praktis dan terorganisasi, pelaku usaha diharapkan dapat lebih fokus mengembangkan produk, memperluas pasar, dan menjaga keberlanjutan usaha mereka.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda