Oleh: Nadya Abyan Nastiti (KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo)
JurnalPost.com - Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari bersama Bapak Arif Wibowo, M.Pd.I menggelar kegiatan sosialisasi pembuatan pupuk kompos dari limbah rumah tangga bersama ibu-ibu PKK di Desa Baosan Kidul, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat selama menjalankan program KPM. Sosialisasi menghadirkan pemateri dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Ngrayun yang memberikan penjelasan mengenai pengelolaan limbah rumah tangga menjadi pupuk kompos. Kegiatan berlangsung pada hari Minggu, 9 Agustus 2026 di Aula Balai Desa Baosan Kidul dan dikuti oleh anggota PKK Baosan Kidul.
Kegiatan sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh banyaknya limbah rumah tangga, khususnya limbah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan yang dihasilkan setiap hari. Limbah organik di Desa Baosan Kidul masih sering dibuang begitu saja. Fenomena ini menyebabkan penumpukan limbah dan menimbulkan bau akibat tidak dikelola dengan baik. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari berupaya memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai cara memanfaatkan limbah organik agar memiliki nilai guna. Pembuatan pupuk kompos dinilai menjadi salah satu alternatif sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Selain membantu mengurangi jumlah limbah rumah tangga, pengolahan tersebut juga dapat menghasilkan pupuk yang bermanfaat bagi tanaman.
Dalam kegiatan tersebut, pemateri dari Balai Penyuluh Pertanian yaitu Bapak Dimas Kukuh Satriatama, menjelaskan berbagai jenis limbah rumah tangga yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kompos. Peserta diperkenalkan pada bahan organik yang mudah ditemukan, seperti sisa sayuran, kulit buah, daun kering, dan sisa makanan tertentu. Pemateri juga menjelaskan bahan-bahan yang sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam proses pembuatan kompos agar hasil yang diperoleh tetap baik. Penjelasan disampaikan secara langsung dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga peserta dapat mengikuti materi dengan baik. Selain memberikan penjelasan secara teoritis, pemateri juga mengarahkan peserta untuk memahami tahapan pengolahan limbah organik hingga menjadi pupuk kompos.
Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan pupuk kompos. Peserta diajak mengenali dan memilah terlebih dahulu limbah rumah tangga yang dapat digunakan sebagai bahan kompos. Setelah itu, bahan-bahan organik tersebut dipersiapkan dan diolah melalui tahapan yang telah dijelaskan oleh pemateri. Mahasiswa KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari turut mendampingi peserta selama proses praktik agar ibu-ibu PKK dapat memahami setiap langkah yang dilakukan. Praktik secara langsung tersebut diharapkan dapat membuat materi yang disampaikan tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Ibu-ibu PKK mengikuti pemaparan materi dan praktik dengan aktif serta mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai proses pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos. Selain itu mahasiswa KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari juga membagikan doorprize kepada ibu-ibu PKK yang sudah aktif bertanya. Interaksi antara peserta, pemateri, dan mahasiswa KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari membuat kegiatan berlangsung secara komunikatif dan interaktif. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari berharap masyarakat dapat mulai membiasakan diri memilah limbah rumah tangga, khususnya antara limbah organik dan anorganik. Limbah organik yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan.
Pembuatan kompos juga dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pembuangan limbah rumah tangga secara langsung. Selain itu, pupuk yang dihasilkan dapat digunakan untuk mendukung kegiatan bercocok tanam di lingkungan rumah maupun lahan pertanian masyarakat. Dengan demikian, pengelolaan limbah tidak hanya menjadi upaya menjaga kebersihan, tetapi juga dapat memberikan manfaat untuk kebutuhan pertanian khususnya pada petani porang.
Bagi mahasiswa KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari, kegiatan sosialisasi tersebut menjadi bagian dari proses belajar sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari tidak hanya berperan dalam menyampaikan program, namun juga berusaha membangun komunikasi dan bekerja sama dengan masyarakat untuk menemukan solusi terhadap persoalan yang ada di lingkungan sekitar. Kehadiran pemateri dari Balai Penyuluh Pertanian juga memberikan tambahan pengetahuan kepada peserta berdasarkan pemahaman dan pengalaman di bidang pertanian. Kolaborasi antara mahasiswa, BPP, dan ibu-ibu PKK diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan limbah yang lebih baik. Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat ditangani melalui langkah sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.
Kegiatan sosialisasi pembuatan pupuk kompos dari limbah rumah tangga diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan KPM Kelompok 87 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari saja. Pengetahuan yang telah diperoleh peserta dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan rumah masing-masing. Kebiasaan memilah dan mengolah limbah organik diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus menghasilkan pupuk yang bermanfaat bagi tanaman. Mahasiswa KPM juga berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Dengan pemanfaatan limbah secara tepat, sampah rumah tangga yang sebelumnya tidak bernilai dapat diubah menjadi sesuatu yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda